Hari Dokter Nasional dan Penjelasan Profesi Dokter dalam Islam

0
34

Hari Dokter Nasional – Tepat tanggal 24 Oktober 2020 diperingati dengan Hari Dokter Nasional. Hari yang pemting bagi seluruh dokter ataupun organisasi kesehatan di Indonesia.

Terlebih lagi di kondisi pandemi Covid-19 saat ini peran dokter sangat berarti bagi kehidupan manusia. Sosok itulah yang menjadi garda terdepan dalam menangani wabah corona ini.

Sobat Cahaya Islam, profesi dokter  dalam Islam itu fardhu kifayah. Karena jasanya sangat dibutuhkan oleh masyarakat, khsusunya bagi kaum muslimin. Bahkan dalam sebuah hadist mengatakan jika profesi dokter dilakukan dengan perbuatan baik pada sesama mahluk hidup, maka ia akan mendapatkan pahala yang begitu besar.

Berikut ini adalah hadist mengenai profesi dokter

Peringati Hari Dokter Nasional, Simak Pandangan Islam Mengenai Profesi Dokter

Imam syafii mengatakan,

“Janganlah sekali-kali engkau tinggal di suatu negeri yang tidak ada di sana ulama yang bisa memberikan fatwa dalam masalah agama, dan juga tidak ada dokter yang memberitahukan mengenai keadaan (kesehatan) badanmu.” (Adab Asy-Syafi’i wa manaqibuhuhal. 244, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cet. I, 1424 H, syamilah).

Hadist itu mengatakan bahwa profesi dokter dalam muslim wajib memiliki ghiroh yang besar dan melaksanakan kewajibannya dengan ilmu kesehatan yang syar’i.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, kecuali Ia telah menurunkan obatnya.” (HR. al-Bukhari: 5246, Ibnu Majah: 3430 dari Abu Hurairah radliyallahu anhu).

Dalam riwayat lain terdapat tambahan:

فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Jika obat tepat mengenai penyakitnya maka sembuhlah dengan seijin Allah Azza wa Jalla.” (HR. Muslim: 4084, Ahmad: 14070 dari Jabir radliyallahu anhu).

Tanggung Jawab Dokter Dalam Islam

Seorang ulama bernama Muhammad Abu Zahra menuturkan tentang sikap dokter yang mencegah risiko pada pengobatan pasien melalui beberapa tindakan, namun diketahui pendapat ini menuai pro kontra dari para ahli fikih, di antaranya:

1. Pasien yang Cidera Bukan Tanggung Jawab Dokter

Pendapat pertama yakni kematian atau cidera yang manimpa pasien diluar kemampuan diagnosis dokter, maka hal itu bukanlah kesalahan dokter. Sehingga tidak dibenarkan jika dokter harus bertanggung jawab.

2. Dokter yang Lalai Membayar Diyat

Pasien yang cidera karena ketidaksengajaan dokter maka, dokter wajib membayar diyat. Contohnya jika saat melakukan pembedahan dengan rencana yang mata dan sesuai prosedur, namun dokter tak sengaja melakukan kesalahan maka diyat harus dibayarkan.

3. Dokter yang Melakukan Kekeliruan Harus Membayar Diyat

Jika pasien meninggal karena dokter keliru dalam memberi obat, maka dokter juga harus membayar diyat. Meski dokter tersebut sudah melakukan dengan maksimal kemampuan yang dimilikinya.

4. Tindakan Dokter Harus Seizin Pasien

Pendapat terakhir yakni pengobatan yang dilakukan pada pasien harus dengan seizin pasien. Namun jika dokter melakukan tindakan medis tanpa seizin pasien maka para ahli fikih sepakat agar dokter yamg demikian harus bertanggung jawab.

Sobat Cahaya Islam, demikianlah padangan Islam mengenai profesi dokter. Sudah sepantasnya kita ikut memperingati Hari Dokter Nasional karena jasanya begitu besar bahkan tanggung jawabnya pun begitu besar di akhirat. Semoga seluruh dokter di dunia menjalankan tugasnya dengan amanah dan diberikan kelancaran dengan tugasnya, Aaamiin.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY