Joe Biden Berjanji Bila Menang Pemilu AS, Bagaimana Berjanji dalam Perspektif Agama Islam  

0
37

Joe Biden – Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat yang mencalonkan diri sebagai presiden ini menjanjikan untuk memberikan vaksin Covid-19 secara gratis kepada warga, apabila ia menang di pemilu sebagai kandidat partai Demokrat Amerika Serikat.

Pemilihan presiden Amerika Serikat yang akan diselenggarakan pada tanggal 3 November mendatang, masing-masing calon presiden baik Joe Biden dan Donald Trump saling mengumbar janji sebagai bentuk kampanye memenangkan pemilu.

Janji sering digelontorkan manakala mendekati masa-masa pemilu, tentunya janji yang dilakukan sebagai taktik kampanye. Mengingat manusia mudah luluh hatinya bila diberikan janji yang mendukung kehidupan masyarakat luas.

Sobat Cahaya Islam, selain janji dari calon pemimpin kepada rakyat, sering juga janji antara orang tua kepada anaknya, antar sahabat ataupun antar kolega bisnis. Janji adakalanya disebutkan tapi menggunakan kata janji, semisal “akuaku akan ini kalau aku begitu”.

Berbicara tentang janji muslim tidak boleh menyepelekannya, oleh karena itu kita telusuri bersama bagaimana janji itu dalam perspektif agama Islam.

Joe Biden Berjanji, Berjanji dalam Perspektif Agama Islam

Islam mengajarkan tentang janji yang harus ditepati seperti halnya hutang harus dibayar. Sebab orang yang mengingkari janjinya bisa dikategorikan sebagai orang munafik. Berikut dalil yang menguatkan larangan mengingkari janji.

آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik itu ada tiga, (1) jika berbicara berdusta; (2) jika berjanji maka tidak menepati; dan (3) jika diberi amanah, dia berkhianat.” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59)

Berdasarkan hadis riwayat Bukhari di atas jelas orang yang mengingkari janjinya tergolong dalam kategori orang munafik atau orang bermuka dua. Maka dari itu sebagai umat Islam kita patut menepati janji.

Apa kalian tahu? Janji semua umat manusia sebelum ia dilahirkan ke dunia yakni berjanji untuk beriman kepada Allah SWT. Mari sebagai muslim kuatkan iman Islam kita dalam menjalani kehidupan.

Etika Muslim dalam Berjanji

Etika atau ilmu yang menentukan baik-buruk perilaku seseorang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun etika dalam berjanji antara lain.

  1. Mempertimbangkan Apabila Akan Berjanji

Lisan memang sering tergelincir, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan perlu berpikir terlebih dahulu. Termasuk ketika ingin berjanji, muslim perlu mempertimbangkan apakah mampu ia memenuhi janji. Apabila sekiranya tidak mampu, lebih baik tidak usah berjanji saja.

  1. Mengucapkan ‘InsyaAllah’

Ucapkanlah lafal “InsyaAllah” saat berjanji karena manusia tidak tahu apa yang akan  terjadi, mengingat hanya Allah SWT yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Hal ini sebagaimana bimbingan Allah dalam surah Al-Kahfi ayat 23-24.

  1. Berusaha Menepati Janji

Sudah berjanji? Maka berarti mempunyai kewajiban untuk menepatinya. Bagaimana pun caranya orang yang berjanji harus berusaha menepati janjinya. Setidaknya berusaha, namun bila sudah berusaha tidak mampu menepati, mungkin ada rencana Allah SWT di balik itu.

  1. Memohon Kepada Allah SWT agar Dapat Memenuhinya

Berdoa kepada Allah SWT agar dapat memenuhi janjinya adalah tindakan yang bijaksana, sebab manusia menyerahkan kepada Sang Pencipta agar dikabulkan doanya seperti apa yang telah diucapkan kepada orang lain.

  1. Memberitahu dengan Baik Bila Terpaksa Berhalangan

Ketika semua etika di atas sudah dijalankan, namun kehendak Allah SWT berlainan, semisal ada hal yang mendesak dan urgent sifatnya. Beritahukan dengan baik-baik kepada orang yang bersangkutan bahwa tidak bisa menepati janji.

Itu etika dalam berjanji dan juga perspektif Islam yang mengajarkan untuk menepati janji. Semoga Joe Biden bisa menepati janjinya bila memang pada akhirnya ia menang di pemilu 2020 ini. Semoga kita juga bisa mewujudkan apa-apa: yang telah kita janjikan. Aamiin.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY