Fatin Positif Covid – 19, Pentingnya Ikhlas Ditimpa Musibah

0
98
fatin

Fatin – Pandemi yang telah menghuni hampir selama setahun di Indonesia telah menjangkiti sederet artis nusantara, salah satunya Fatin. Penyanyi ini dikabarkan tengah positif Covid -19 setelah sebelumnya sempat menjalani puasa Ramadhan. Syawwal seharusnya menjadi bulan baik untuk saling bertukar sapa dengan kerabat dengan tetap menjaga protokol kesehatan.

Sobat Cahaya Islam, menerima musibah sakit dengan ikhlas akan menjadikan seorang umat mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT tak terkecuali bagi Fatin. Bahkan, telah dikabarkan bahwa sakit akan menjadi wasilah digugurkan dosa oleh Allah Ta’ala.

Bagaimana Seharusnya Umat Menyikapi Rasa Sakit?

fatin

Secara fitrah, sakit merupakan suatu hal yang tidak disukai oleh seluruh umat manusia termasuk bagi umat muslim. Pasalnya, ketika sehat umat dapat melakukan pergerakan apapun tanpa merasakan kesakitan.

Namun kebebasan dan ketenangan dalam beraktivitas akan sirna manakala datang rasa sakit. Rasa ini pula juga akan menjadikan terhambatnya berbagai aktivitas baik itu aktivitas spiritual maupun keduniawian.

Padahal, Allah SWT ciptakan rasa sakit agar manusia menyadari bahwa dirinya hanyalah makhluk yang lemah dan tak dapat berbuat apa – apa bila sakit datang mendera. Selain itu, sakit bisa dimaknai sebagai ujian maupun adzab bagi hambaNya. Namun terlepas dengan yang demikian, seharusnya umat perlu menyambut rasa sakit dengan suka cita.

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yakni :

عَن عَطَاءُ بْنُ أَبِى رَبَاحٍ قَالَ قَالَ لِى ابْنُ عَبَّاسٍ أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى . قَالَ هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ إِنِّى أُصْرَعُ ، وَإِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِى . قَالَ « إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ » . فَقَالَتْ أَصْبِرُ . فَقَالَتْ إِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ ، فَدَعَا لَهَا

Artinya : Dari ‘Atho’ bin Abi Robaah, ia berkata bahwa Ibnu ‘Abbas berkata padanya, “Maukah kutunjukkan wanita yang termasuk penduduk surga?” ‘Atho menjawab, “Iya mau.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Wanita yang berkulit hitam ini, ia pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas ia pun berkata, “Aku menderita penyakit ayan dan auratku sering terbuka karenanya. Berdo’alah pada Allah untukku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Jika mau sabar, bagimu surga. Jika engkau mau, aku akan berdo’a pada Allah supaya menyembuhkanmu.” Wanita itu pun berkata, “Aku memilih bersabar.”  Lalu ia berkata pula, “Auratku biasa tersingkap (kala aku terkena ayan). Berdo’alah pada Allah supaya auratku tidak terbuka.” Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun berdo’a pada Allah untuk wanita tersebut. (HR. Bukhari no. 5652 dan Muslim no. 2576).

Sebab sakit adalah ketentuan Allah SWT yang tidak dapat diganggu gugat. Malah jika umat meragukannya, artinya umat tak mau menjalankan takdir yang ada. Sehingga hal tersebut menjadikan umat dapat dimurkai oleh Allah Ta’ala.

Melakukan perjuangan di masa sakit tentunya tidak mudah. Terkadang, memang diri akan merasa marah dan kesal mengingat diri yang tak bisa produktif lagi. Sehingga, dibutuhkan kesabaran dan keikhlasan yang shahih agar mampu melewati rasa sakit. Maka dari itu, dibutuhkan juga dukungan dari keluarga besar agar seorang hamba tersebut dapat menjalani rasa sakit.

Meniru Kesabaran Nabi Ayub Menghadapi Rasa Sakit

fatin

Sobat Cahaya Islam, bersabar ketika sakit telah diberikan teladan oleh Nabi Ayub AS. Sebelum ditakdirkan sakit sekian tahun lamanya oleh Allah SWT, Nabi Ayub AS memiliki keluarga serta harta yang cukup untuk membiayai kehidupan serta berderma pada masyarakat yang tidak mampu.

Namun, beberapa tahun berikutnya Nabi Ayub AS diberikan ujian oleh Allah SWT untuk menaikkan level keimanan. Di masa sakit itulah, Nabi Ayub AS juga ditinggalkan oleh anak dan istri serta hartanya berkurang untuk pengobatan. Namun, Nabi Ayub AS tetap bersabar dengan rasa sakit yang diberikan oleh Allah Ta’ala. Hingga akhirnya, di ujung kesabarannya Allah SWT berikan kesembuhan kepada Nabi Ayub AS. Hal inilah yang perlu diteladani dari Nabi Ayub AS.

Walaupun beliau adalah seorang Nabi, namun beliau tidak menjadikan hak istimewa tersebut untuk berdo’a dan menggugat Allah SWT atas rasa sakitnya. Justru, beliau memberikan contoh bahwa untuk mendapatkan kemuliaan di masa sakit haruslah ada perjuangan salah satunya tetap bersabar dan ikhlas.

Nah Sobat Cahaya Islam, itulah ulasan sederhana mengenai pentingnya penerimaan umat terhadap rasa sakit yang dimiliki tak terkecuali bagi Fatin. Semoga umat muslim di seluruh dunia dapat lebih bersabar dan ikhlas agar dapat menjemput ridho Allah SWT.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY