Kedung Ombo Memakan Korban, Bagaimana Islam Memandangnya?

0
72
kedung ombo

Kedung OmboTak banyak orang yang mengetahui terkait kerja keras yang sudah dilakukan oleh bocah berumur 13 tahun di Kedung Ombo. Seorang anak yang seharusnya masih terkategorikan dalam wilayah bermain, namun harus mengenal pahitnya kehidupan lebih dini. Dalam Islam, usia 13 tahun adalah usia emas untuk mengembangkan diri.

Sobat Cahaya Islam, kasus serupa di Kedung Ombo hampir terjadi setiap hari di penjuru negeri. Bisa jadi keterlibatan seorang anak dalam pekerjaan bahkan berat sekalipun adalah unsur kesengajaan dan kelalaian orang tua maupun keluarga. Melainkan, menjadi bukti sebuah pengabdian seorang anak pada keluarga. 

Bagaimana Pandangan Islam terhadap Kasus di Kedung Ombo?

Sobat Cahaya Islam, maraknya kasus anak yang dipekerjakan di bawah umur menjadi catatan besar bagi bangsa. Padahal di dalam Islam, anak kecil adalah sesuatu yang sangat berharga untuk menyambut persiapan peradaban gemilang. Maraknya anak yang bekerja di bawah umur tentu saja terjadi karena beberapa faktor yakni :

1.      Faktor Ekonomi

kedung ombo

Tersebab keluarga tidak didukung dalam hal ekonomi, maka pendidikan anak jadi terabaikan. Walaupun secara fakta pemerintah desa maupun kota telah memberikan fasilitas beasiswa bagi warga tidak mampu, tetap saja biaya insidental untuk sekolah tak dapat terpenuhi. Walhasil, seorang anak tak dapat memasuki jenjang pendidikan.

Di dalam Islam sendiri, kondisi demikian tidak seharusnya dibiarkan menjamur dan wajar. Dikarenakan biaya pendidikan mahal, anak tak dapat mengikuti pelajaran yang menyebabkan tak tersentuhnya dengan literasi. Bahkan, di momen seperti ini terkadang sang anak harus mengikuti pekerjaan serabutan yang digeluti ibu dan ayahnya.

Sebagaimana yang Rasulullah SAW telah ajarkan, bahwa antar muslim itu bersaudara. Sehingga kondisi kemiskinan seharusnya malah dijadikan ladang pahala bagi kaum muslimin untuk memberikan bantuan.

Sehingga, di dalam Islam kondisi ekonomi tidak menjadi hambatan bagi sang anak untuk melanjutkan sekolah. Bahkan, tak perlu anak ikut bekerja karena terdapat beberapa kaum muslimin yang ikut membantu biaya pendidikannya.

2.      Faktor Lingkungan

kedung ombo

Selain karena faktor ekonomi, lingkungan juga andil dalam menggerus kehadiran seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab. Telah banyak fakta yang beredar bahwa sang ayah lebih malas bekerja dan malah menjadikan istri dan anak menjadi tulang punggung keluarga. Tentu hal ini sangat tidak dibenarkan.

Padahal, pertanggungjawaban terbesar pada kondisi istri serta anaknya ada di tangan para kepala keluarga. Namun, nampaknya lingkungan sekarang telah mengajarkan adanya kesetaraan dimana menyebabkan sang kepala keluarga ikut menuntut pada seorang ibu untuk mencari biaya keluarga pula.

Paham kesetaraan yang biasa digaungkan oleh para perempuan, menjadikan para bapak tersadarkan, bahwa jika wanita harus mempunyai derajat yang sama dengan kaum pria, maka mereka juga perlu untuk mencari nafkah. Sungguh, hal ini sangat bertentangan dengan teori keluarga dalam Islam.

Berikut Hadits Raslullah SWT terkait peran kepala keluarga :

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَاْلأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

Artinya :  “Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (raja) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan isteri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya.”   Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 893, 5188, 5200), Muslim (no. 1829), Ahmad (II/5, 54, 111) dari Ibnu ‘Umar radhi-yallaahu ‘anhuma.

Islam jelas memberikan gambaran bahwa sang ayah bertugas sebagai kepala sedangkan sang istri ditugaskan untuk menjadi wakil dari kepala tersebut. Sehingga dengan hal seperti ini, maka keluarga akan lebih mudah mencari jalan keluar agar sang anak tidak sampai terlibat bahkan dengan sengaja melibatkan diri ikut bekerja.

Nah Sobat Cahaya Islam, semoga kasus Kedung Ombo tidak kembali terulang. Tentu saja, umat akan sangat merugi bila kehilangan para generasi emas yang akan menyumbangkan kontribusi untuk negeri dan Islam. Semangat.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY