Benny K Harman Ditolak Pimpinan Saat Interupsi, Bagaimana Menurut Ajaran Islam?

0
20

Benny K Harman – Tindakan Ketua DPR Puan Maharani terhadap Anggota DPR Fraksi Partai Demokrat, Benny K Harman mendapat banyak kecaman. Pasalnya Puan dituding mematikan mikrofon milik Benny saat ia mengemukakan pendapat di jalannya sidang pembahasan RUU Cipta Kerja 5 Oktober lalu.

Aksi itu terekam dalam sebuah video yang tersebar di media sosial. Dalam video itu Puan menggerakan tangannya seperti diisyaratkan Wakil Ketua DPR Aziz Syamsudin.

Benny saat itu meminta kesempatan berpendapat kepada Puan terkait penolakannya pada Omnibus Law RUU Cipta Kerja. Namun Aziz tidak mengizinkannya berbicara dengan alasan sudah diberikan kesempatan sebelumnya.

Meski demikian Benny  tetap bersikukuh untuk menyampaikan aspirasinya. Permintaan tersebut pun ditolak dan Puan mematikan mikrofonnya saat Benny berbicara, bahkan Benny diancam dikeluarkan dari ruangan oleh Aziz.

Peristiwa itu pun mendapat banyak kekecewaan, salah satunya Anggota DPR RI Fraksi Demokrat Irwan. Ia menuturkan sikap Puan yang mematikan mikrofon dinilai mengecewakan karena sebagai wakil rakyat, koleganya tidak bisa menyampaikan aspirasi rakyat di luar sana.

Irwan berharap kualitas demokrasi di Indonesia membaik dan tetap terjaga. Sehingga tidak ada lagi peristiwa serupa.

Benny K Harman Ditolak Pimpinan Saat Berpendapat, Ini Aturannya Menurut Ajaran Islam

Sobat Cahaya Islam, dalam berpendapat juga tak luput dari ajaran Islam. Karena kebebasan berpendapat merupakan ketetapan bagi setiap muslim.

Allah SWT mengatakan amar ma’ruf munkar tidak bisa ditegakan jika tidak ada kebebasan berpendapat.

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلْنَٰكَ خَلِيفَةً فِى ٱلْأَرْضِ فَٱحْكُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌۢ بِمَا نَسُوا۟ يَوْمَ ٱلْحِسَابِ

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan” (QS Shad:26)

Ayat ini berpesan bahwa jika ada dalam suatu perdebatan kita harus menjunjung tinggi kebenaran dan jangan sampai kehilangan arah. Selain itu berpendapatlah dengan cara yang baik tanpa merendahkan pihak lain sebagaimana dalam surat Al-Anam:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan” (Al-Anam: 108).

Pesan lain juga terdapat dalam surat Al-Anfal:

وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُوا۟ فَتَفْشَلُوا۟ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَٱصْبِرُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS Al-Anfal:46)

5 Kaidah Musyawarah Sesuai Ajaran Islam

Musyawarah merupakan cara untuk membangun tatanan kehidupan. Baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, kelompok tertentu maupun bangsa.

Hal tersebut juga tidak luput dari ajaran Islam agar umat di dunia tetap kondusif dan damai. Agar mencapai keputusan yang terbaik, ada 5 kaidah musyawarah yang perlu dipahami sebagaimana QS Ali Imran ayat 159.

  1. Bersikap Lembut

Saat bermusyawarah setiap orang harus bersikap lembut saat menyampaikan pendapatnya. Peserta dilarang berpendapat dengan keras kepala dan emosional.

  1. Pemaaf

Jika ada perselisihan antar peserta maka harus dimaafkan. Karena pendapat tidak akan tersampaikan jika diliputi kekeruhan hati.

  1. Memohon Ampun kepada Allah

Memohon ampun kepada Allah jika dalam musyawarah terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja. Rasulullah SAW menutup musyawarah dengan doa kafaratur majelis.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”. (HR Tirmidzi 3:153).

  1. Bertekad

Peserta musyawarah harus ikhlas dengan kesepakatan bersama. Tidak menyisipkan kepentingan pribadi dalam hasil mufakat.

  1. Bertawakal

Setelah peserta bermusyawarah dan bermufakat maka selanjutnya menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. Karena Dialah yang menentukan baik buruknya.

Melihat peristiwa yang terjadi pada Benny K Harman, kita sebagai umat muslim perlu menilik kembali nilai-nilai yang diajarkan oleh Allah dan Rasulullah SAW. Semoga Allah membimbing masyarakat dan para pengelola bangsa agar negeri ini makmur, adil dan sentosa, Aamiin.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!