Bagus Kahfi Gagal Berkarier di Eropa, Apa Saja yang Tergolong Kegagalan dalam Islam?

0
32

Bagus Kahfi – Pemain sepakbola asal Magelang yang memiliki ciri khas dengan rambutnya yang kribo dikabarkan gagal untuk bergabung ke  FC Utrecht, Belanda. Kegagalan itu diduga dikarenakan Barito Putera timnya tidak memberikan surat pelepasan hingga tenggang waktu yang telah ditentukan.

Meskipun begitu, banyak pendukung Bagus Kahfi yang memberikan semangat dan memberikan harapan semoga nantinya bisa masuk klub sepakbola Belanda sebagaimana apa yang diharapkannya yang berposisi sebagai striker.

Kegagalan dan keberhasilan dua hal yang bisa saling beriringan hanya saja waktu yang akan menjawabnya. Tentunya di waktu yang paling tepat sesuai dengan kehendak Sang Pembuat Skenario.

Sobat Cahaya Islam, berbincang terkait kegagalan setiap orang pasti pernah mengalaminya. Hanya saja tanggapan setiap orang berbeda-beda, ada yang menilai kegagalan adalah bentuk batu loncatan untuk bisa meraih keberhasilan yang lebih tinggi.

Ada juga yang menganggap kegagalan adalah kesalahan terbesar, alhasil ketika dihadapkan dengan kegagalan semangat hidupnya akan kendor. Tapi muslim tidak boleh menilai seperti itu, ingat ada kegagalan yang lebih bisa disesalkan daripada sebuah usaha yang bersifat duniawi.


Bagus Kahfi tidak Jadi ke Eropa, Beberapa Hal yang Tergolong Kegagalan dalam Islam

Untuk menghalau dari kegagalan dalam Islam, berikut ini beberapa hal yang bisa digolongkan sebagai kegagalan yang biasa kita kenali untuk diantisipasi sebelumnya.

  1. Masih Diperbudak dengan Hawa Nafsu

Muslim dihadapkan oleh banyak pilihan yang saling kontradiksi ada baik, ada buruk yang pasti mengakibatkan risiko yang tidak boleh disepelekan. Kegagalan yang pertama yakni gagal dalam menghadapi hawa nafsu.

Berjuang menghadapi hawa nafsu yang tidak ada habisnya bila terus dituruti, tidak ada syukurnya bila terus menerus melihat kelebihan orang lain dengan memandang rendah diri sendiri. Maka bisa dikatakan apabila masih juga diperbudak oleh hawa nafsu berarti masih gagah dalam memanage diri

  • Tidak Bisa Menjadikan Anak yang Sholeh

Anak amanah yang besar yang bisa membantu orang tua atau justru merepotkan orang tua. Sebagai orang tua diharapkan bisa mengajak anaknya ke jalan yang baik, menjadi pribadi yang saleh.

Bukan malah membiarkan anak terserah semaunya sendiri, sedangkan orang tua sibuk dengan profesinya. Karena hal ini bisa menyebabkan orang tua tergolong gagal mendidik anak.

Padahal, anak saleh merupakan investasi besar dunia akhirat yang mana dia anak saleh akan tetap mengalir meskipun orang tua sudah tiada. Sebagaimana dalam hadis berikut.

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seorang telah meninggal dunia, maka seluruh amalnya terputus kecuali tiga, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim: 1631).

Berdasarkan hadis riwayat Muslim nomor 1631 tersebut bahwa seluruh amal seseorang yang meninggal akan terputus kecuali tiga hal. Salah satunya, doa dari anak saleh.

  • Tidak Memiliki Tabungan Amal

Gagal yang terakhir manakala tujuan utama manusia hidup di dunia tidak sama sekali dijalankan. Tujuan utama yakni mengabdi kepada Allah SWT. Muslim yang tidak pernah melaksanakan apa-apa yang disyariatkan agama, tidak menghindari apa yang dilarang.

Hal tersebut, bisa menyebabkan ketika dipanggil kembali ke hadapan Allah SWT dengan dicabutnya roh dari jasad, tidak memiliki tabungan amal. Na’udzubillahi min dzalik.

Tiga kegagalan yang bisa dikaji dari segi agama Islam di atas, semoga bisa bermanfaat dan memotivasi dalam beribadah. Semoga pula Bagus Kahfi bisa meraih apa yang dicita-citakan ke depannya kelak. Aamiin.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY