Bolehkah Aborsi Bagi Korban Pemerkosaan Dalam Islam? Simak Jawabannya

0
99
Yusuf Qardhawi

Aborsi bagi korban pemerkosaan – Pemerkosaan merupakan kejahatan yang sering terjadi pada perempuan. Tidak hanya menimbulkan trauma yang mendalam, pemerkosaan juga dapat membuat korbannya mengandung janin pemerkosa. Lantas, bagaimana hukum aborsi bagi korban pemerkosaan? Apakah boleh dalam Islam?

Melaluia artikel ini, kami akan membahasnya untuk Sobat Cahaya Islam. Mengingat peristiwa ini semakin marak terjadi di zaman ini. Kami akan merangkum jawaban dari Syekh Yusuf Al-Qardhawai mengenai jawabannya.

Aborsi Bagi Korban Pemerkosaan

Sebelum menjelaskan boleh atau tidaknya, Syeh Yusuf Qardhawi menjelaskan bahwa perempuan yang menjadi korban dari pemerkosaan tidak mendapat dosa zina.

Karena perbuatan tersebut dilakukan dalam keterpaksaan dan ada ancaman senajata tajam, bisa dijatuhi hukum pidana.

Syekh Qardhawi menyebutkan bahwa orang yang terpaksa kafir yang dosanya lebih besar dari zinah pun masih diampuni oleh Allah. Hal ini sesuai dalam firman Allah dalam surah An-Nahl ayat 106.

“… kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).” (QS an-Nahl [16]: 106).

Beliau juga memaparkan Allah mengampuni seseorang yang melakukan perbuatan dosa karena terpaksa atau tekanan daruratnya lebih tinggi. Sesuai dalam surah Al-Baqarah ayat 173.

“… tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Baqarah [2]: 173). 

1. Aborsi Hukumnya Haram

Mengenai pembahasan hukum aborsi bagi korban pemerkosaan, Syekh Yusuf Qardhawi menjelaskan bahwa itu perbuatan terlarang.

Yusuf Qardhawi

Karena semenjak bertemunya sel sperma dan sel telur dalam rahim, akan muncul makhluk baru. Maka tidak haram untuk mengaborsinya. Janin yang berada di dalam rahim seorang muslimah, tetap harus dihormati.

Hal ini pernah Rasulullah contohkan, beliau menyuruh wanita kaum Ghamidiyah yang mengaku telah berzina dan akan dijatuhi hukuman rajam.

Ia diperintahkan oleh Rasulullah agar tetap memelihara janin tersebut dan tunggu hingga ia melahirkan anak tersebut dan selesai menyesuinya barulah dihukumi rajam.

Syekh Yusuf Qardhawi mengharuskan korban pemerkosaan tetap memelihara janin, karena menurut Syara’ anak tersebut tidak memiliki dosa. Anak yang telah lahir tersebut tetap dalam keadaan seorang muslim.

2. Adanya Keringanan Memperbolehkan Aborsi

Meski begitu, Syekh menyampaikan ada beberapa ulama yang memperbolehkan aborsi bagi korban pemerkosaan. Dengan catatan janin belum berusia 40 hari.

Sebagian fukaha ulama juga ada yang berpendapat boleh menggugurkan janin yang berusia 120 hari. Hal ini berdasarkan sebuah riwayat yang mahsyur, peniupan ruh terjadi pada hari itu.

Aborsi bagi korban pemerkosaan

Sehingga Syekh Yusuf Qardhawi tidak melarang, jika seseorang mengambil keringanan tersebut. Apalagi jika adanya uzur yang sangat kuat. Mislanya bisa saja si korban sangat membenci pelaku pemerkosa tersebut, dan akan terus teringat ketika melihat anak yang dikandungnya.

Lalu ia mengambil uzur untuk menggugurkan kandungan tersebut, sebelum mencapai 40 hari. Maka ini menurut Syekh Yusuf Qardhawi, merupakan keringanan yang disampaikan oleh ulama dan difatwakan karena keadaan darurat. Situasi darurat ini dapat diukur dengan kadar kedaruratannya.

Jika korban mengambil keringanan, maka harus berdasar pada pertimbangan yang dibolehkan ulama, dokter, serta cendikiawan. Jika kondisinya, tetap tidak ada udzur maka kembali pada hukum haram.

Dapat disimpulkan hukum aborsi bagi korban pemerkosaan ini haram, tapi jika memiliki uzur yang kuat diperbolehkan. Dengan catatan tetap berdasar pada pertimbangan ulama, dokter serta cendikiawan.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY