WHO Mengungkapkan Kelaparan dan Krisis Kesehatan di Palestina Meningkat

0
798
kelaparan dan krisis kesehatan

Kelaparan dan krisis kesehatan – Tedros Adhanom Ghebreyesus selaku Direktur World Health Organization (WHO) atau Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan bahwa kelaparan dan krisis kesehatan saat ini melanda sebagian besar penduduk Gaza, Palestina. Tedros juga telah mengatakan bahwa penduduk Gaza kini menghadapi bencana kelaparan dan kondisi.

Misalnya saja seperti kelaparan yang semakin memburuk.   Tedros juga menerangkan, meskipun ada laporan mengenai peningkatan pengiriman makanan. Namun, tidak ada bukti bahwa bantuan tersebut hingga kepada orang yang paling membutuhkan dan memadai. 

WHO Mengungkapkan Kelaparan dan Krisis Kesehatan

WHO dan mitra-mitranya telah berusaha meningkatkan layanan nutrisi, namun tantangan yang ada sampai saat ini masih sangat besar.  Bahkan, saat ini sudah ada lebih dari 8.000 anak di bawah usia 5 tahun yang terdiagnosis dan dirawat karena kekurangan gizi akut.

Hal ini tentunya termasuk 1.600 anak dengan gizi buruk akut yang parah. Namun, karena ketidakamanan dan kurangnya akses, tentu hanya dua pusat stabilisasi untuk pasien gizi buruk yang bisa beroperasi.

1. Minim Akses Layanan Kesehatan

kelaparan dan krisis kesehatan

Dirinya juga menyebutkan, kelaparan dan krisis kesehatan yang memburuk juga akan diperparah oleh minimnya akses terhadap pelayanan kesehatan. Bahkan, ditambah lagi kurangnya air bersih serta sanitasi.

Jadi secara signifikan bisa saja nantinya meningkatkan risiko anak-anak terkena kekurangan gizi.  Sampai saat ini, telah tercatat sekitar 32 kematian akibat kekurangan gizi.

Hal termasuk sudah ada 28 anak di bawah usia 5 tahun. Bahkan, krisis kesehatan tidak hanya terjadi di Gaza, namun juga meningkat di Tepi Barat.

2. Serangan Pelayanan Kesehatan

Tedros juga telah menyebutkan bahwa serangan terhadap pelayanan kesehatan serta pembatasan pergerakan orang akan menghambat akses terhadap pelayanan kesehatan.  

Sementara itu, sejak perang di Gaza dimulai, sudah ada 508 warga Palestina yang telah tewas di Tepi Barat. Hal ini termasuk Yerusalem Timur, dengan lebih dari 5.000 orang terluka.

Khususnya, sekitar 800 anak-anak. Sementara itu, WHO sendiri telah mendokumentasikan bahwa sudah ada 480 serangan terhadap pelayanan kesehatan di Tepi Barat sejak 7 Oktober tahun lalu. Di mana mengakibatkan 16 kematian dan 95 cedera.  

Banyak sekali klinik yang ada di wilayah tersebut hanya bisa beroperasi dua hari dalam seminggu. Di mana saat itu rumah sakit telah beroperasi dengan kapasitas sekitar 70 persen.  

3. Pemukiman Legal

kelaparan dan krisis kesehatan

Permukiman ilegal tentunya terus meluas di Tepi Barat. Hal ini berdampak buruk terhadap akses masyarakat Palestina terhadap pelayanan kesehatan. 

Tedros juga mengatakan bahwa pihak Sobat Cahaya Islami saat ini telah mendukung Kementerian Kesehatan Palestina. Dimana hanya memberikan bantuan teknis terkait kebijakan serta prosedur hanya melalui pembelian obat-obatan esensial.

WHO juga saat ini sebenarnya sudah menyiapkan persediaan di rumah sakit utama tepatnya di Tepi Barat. Kemudian, mengadakan pelatihan manajemen trauma bagi para petugas pertolongan pertama yang ada di komunitas yang terkena dampak.  

Tedros juga semakin menegaskan kembali pentingnya perdamaian sebagai solusi utama untuk bisa mengatasi krisis tersebut.

Bahkan, dirinya juga mendesak semua pihak untuk segera menerapkan resolusi Dewan Keamanan. Sebab, obat terbaik kelaparan dan krisis kesehatan adalah perdamaian.  

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY