Tembang mocopat adalah satu kebudayaan bangsa indonesia yang perlu untuk kita lestarikan dan banggakan sebagai penerus bangsa. Indonesia memang negara kaya dengan ragam budaya yang menakjubkan di dalamnya. Disclaimer dulu. Disini tim cahayaislam tidak bermaksud melakukan komparasi Al Quran dengan tembang macapat ya! Tentu Al Quran adalah kitab suci mulia miliki kita umat islam yang tiada bandingannya. Dalam artikel ini kami mencoba untuk memberikan informasi sedikit tentang kebudayaan indonesia berupa tembang ini. Yang konon dulu memiliki unsur baik sebagai media untuk dakwah islam.
Pada seri sebelumnya, tim cahayaislam telah mengulas tembang pertama yang berjudul maskumambang yang berisi tentang penciptaan Allah pada manusia dalam kandungan. Lain halnya tentang tembang kedua yang berjudul mijil ini. Dia menceritakan keadaan manusia setelah melewati alam kandungan.
Tembang Mijil yang menggambarkan kelahiran manusia di dunia
Setelah proses kehamilan, tibalah saat ketika jabang bayi terlahir di dunia. Hal ini jelas menyirat dalam tembang berjudul mijil yang merupakan tembang kedua dari sebelas tembang Mocopat. Mijil itu sendiri berasal dari kata Wijil yang berarti keluar. Pada tembang ini lebih banyak pula penggambaran tentang jasa orang-tua. Terutama, ibu yang pada saat melahirkan anaknya berusaha sekuat tenaga memperjuangkan dua nyawa (nyawa anaknya dan dirinya sendiri).
Begitu besar pengorbanan seorang ibu. Dibalik proses kelahiran yang menangguhkan nyawa tersebut. Kita bisa mengambil hikmah pula tentang cinta dan harapan-harapan keluarga kepada anak-anak mereka yang dilahirkan di dunia. Harapan agar menjadi pribadi-pribadi beriman dan beramal sholih. Menghormati orang tua (terutama ibu) yang telah mengandung dan merawat kita sejak dalam kandungan hingga besar adalah suatu kewajiban yang oleh Allah diperintahkan kepada orang islam. Hal ini tertera dalam surat Al Ahqaf ayat 15.
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Dan Allah memerintahkan kepada manusia dalam ayat tersebut agar berbuat baik kepada kedua orangtua. Di ayat tersebut dijelaskan pula bahwa sosok ibu telah bersusah payah mengandung bayi, melahirkan, hingga menyapih dan merawatnya sampai dewasa.
Dalam Surat ini, himbauan untuk menjadi sosok yang bersyukur kembali ditekankan. Di bagian belakang surat, sobat bisa menelaah bahwa hingga ketika dia (bayi) dewasa, maka dia berdoa kepada Allah agar menjadi orang yang mensyukuri nikmat Allah dan agar dirinya menjadi orang yang beramal sholih dengan diliputi oleh ridha dari Allah. Sungguh seharusnya manusia adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah.
Tembang Mocopat dan Sisipan Kebudayaan Islam
Kalo dari segi budaya. Info yang tim Cahayaislam dapatkan adalah bahwa tembang ini diciptakan oleh Sunan Drajat. Yakni salah seorang dari Wali Songo yang terkenal dalam penyebaran islam di Tanah air. Bukan sesuatu yang mengejutkan bila beliau juga menyisipkan makna khusus berkaitan tentang ajaran islam. Sampai jumpa di segmen mau tahu ya dari kami lainnya ya, Semoga bermanfaat!
































