Ungkapan Dapur Sumur Kasur untuk Peran Wanita

0
532
ungkapan Dapur sumur kasur

Ungkapan Dapur Sumur Kasur – Pernah dengar ungkapan “wanita tempatnya di dapur, sumur, dan kasur”? Ungkapan ini seringkali digunakan untuk membatasi peran wanita hanya dalam urusan rumah tangga. Padahal, Islam memuliakan wanita lebih dari sekadar tiga tempat itu.

Apakah wanita memang hanya pantas di tiga ranah itu? Atau justru, Islam memberikan kemerdekaan yang bermartabat bagi mereka untuk berperan luas di kehidupan? Inilah yang perlu kita pahami sehingga tidak memandang rendah martabat Wanita.

Dapur Sumur Kasur: Tugas atau Martabat?

Sobat Cahaya Islam, merawat rumah, memasak, dan mengurus suami bukanlah kehinaan. Justru, ketika dilakukan karena Allah, semua itu adalah ibadah. Sayangnya, banyak orang menganggap pekerjaan rumah tersebut sebagai sesuatu yang tidak berbobot. Faktanya, pekerjaan-pekerjaan di rumah jauh lebih berat daripada pekerjaan di kantor.

Nabi ﷺ bersabda kepada Asma’ binti Yazid:

إذا صلَّتِ المرأةُ خمسَها، وصامَتْ شهرَها، وحفِظَتْ فرجَها، وأطاعَتْ زوجَها، قيلَ لها: ادخُلي الجنَّةَ من أيِّ أبوابِ الجنَّةِ شئتِ

“Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, berpuasa di bulan Ramadan, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki.” (1)

Merawat keluarga adalah ladang pahala yang besar, bukan keterkungkungan. Tapi, yang keliru adalah saat masyarakat menghukum wanita yang ingin berilmu, berkarya, atau berdakwah karena dianggap keluar dari “kodrat”.

Islam dan Peran Luas Wanita

Tahukah Sobat Cahaya Islam, bahwa di zaman Nabi, para wanita tidak hanya di rumah? Mereka hadir di medan dakwah, belajar ilmu, bahkan berperan di medan jihad dan ekonomi. Di zaman yang sudah maju seperti sekarang ini, justru banyak orang menganggap Wanita tidak pantas untuk berperan lebih banyak dari sekedar di dapur (memasak), sumur (mencuci), dan Kasur (melayani suami).

Khadijah binti Khuwailid adalah wanita bisnis yang sukses sekaligus istri Nabi. Kemudian, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha merupakan ahli hadits dan guru para sahabat. Lalu, ada Rufaidah Al-Aslamiyyah yang menjadi perawat pertama dalam sejarah Islam.

Jadi, tidak ada alasan untuk memberikan peran yang lebih luas kepada para Wanita. Selain itu, Allah juga tidak membatasi amal karena jenis kelamin, sebagaimana firman-Nya:

فَٱسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَآ أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍۢ مِّنكُم مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ

“Tuhan mereka pun memperkenankan permohonan mereka (dengan berfirman): Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun Perempuan.” (2)

Wanita Berdaya, Bukan Durhaka

Sobat Cahaya Islam, wanita boleh beraktivitas di luar rumah selama menjaga adab dan syariat. Tapi ketika memilih untuk menjadi ibu rumah tangga pun, itu bukan pilihan rendah, bahkan itu jihad dan investasi akhirat.

Yang penting adalah niat dan tujuan. Apakah aktivitasnya mendekatkan diri kepada Allah? Ataukah justru melalaikan?

Wanita dalam Islam tidak dibatasi ruang, tapi diberi koridor keselamatan. Mau di dapur, sekolah, kantor, atau majelis ilmu, selama menjaga iman dan amanah, semua bisa menjadi jalan menuju surga.

Sobat Cahaya Islam, yuk dukung para wanita untuk bermartabat, bukan dibatasi. Karena Islam datang untuk memuliakan, bukan membelenggu.


Referensi:

(1) Musnad Ahmad: Hadits nomor 1661

(2) QS. Ali Imran: 195

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY