Tradisi Rebo Wekasan, Tradisi Jawa Yang Masih Melekat, Bagaimana Menurut Syariat Islam?

0
39
Tradisi Rebo Wekasan

Tradisi Rebo Wekasan – Setiap tahun dipenutupan malam rabu akhir dibulan safar atau sapar dalam kalender Jawa. Para masyarakat Jawa melaksanakan sebuah tradisi rebo wekasan. Secara turun temurun rebo wekasan telah ada dan berlaku didalam budaya Jawa. Mereka meyakini bahwa dimalam tersebut Yang Maha Kuasa menurunkan sebanyak 320.000 balak atau penyakit

Sobat Cahaya Islam, dalam tradisi rebo wekasan para masyarakat Jawa melakukan selametan agar terhindar dari balak atau penyakit tersebut. Ini semata-mata untuk mendapatkan perlindungan dari Tuhan Y.M.E.

Pada setiap daerah dalam pelaksanaan tradisinya berbeda-beda. Ada yang menyebutnya sedekah bumi dan melakukan beberapa ritual dengan adat Jawa yang masih kental. Ada juga dengan cara Islami yaitu dengan membawa berkat ke mushola atau masjid. Kemudian membacakan do’a-do’a yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.

Menggabungkan Syari’at Islam Dengan Tradisi Jawa, Inilah Rangkaian Malam Tradisi Rebo Wekasan

Sobat Cahaya Islam, pada malam tradisi rebo wekasan. Masyarakat membawa berkat yaitu berupa :

1. nasi kebuli

2. jajan pasar

3. aneka kue-kue tradisional

Kemudian dibawa berkat tersebut ke musholla atau masjid. Ada pula sebagian masyarakat yang masih dengan adat Jawa nya kental diarak-arak ke suluruh kampung. Kemudian, proses selanjutnya melakukan sholat sunnah hajat. Ini bertujuan untuk meminta perlindungan kepada Allah S.W.T

Istilah hari naas yang terus menerus atau yawmi nahsin mustammir juga terdapat dalam hadis nabi. Tersebut dalam Faidh al-Qadir, juz 1, hal. 45, Rasulullah bersabda, “Akhiru Arbi’ai fi al-syahri yawmu nahsin mustammir (Rabu terakhir setiap bulan adalah hari sial terus

Setelah melaksanakan sholat, masyarakat membacakan do’a-do’a dan berdzikir agar dijauhkan dari semua balak yang turun. Baru kemudian berkat yang dibawa oleh masing-masing orang saling ditukar.

Tradisi rebo wekasan ini masih menjadi perdebatan oleh beberapa ulama. Ada yang memperbolehkan ada juga yang menyebutnya bid’ah. Tentunya dengan rujukan dalil-dalil yang dimiliki oleh setiap ulama. Bagi yang menyebut bid’ah memiliki rujukan, jika kegiatan ini tidak pernah dilakukan oleh Rosulullah.

Begitupun bagi yang melaksanakan tradisi ini, juga memiliki dalil yang memperkuatnya. Yaitu dari mengambil keputusan para ulama-ulama terdahulu atau ijtima’ ulama. Sebab selain sunnah nabi, ijtima’ ulama juga dapat dijadikan patokan. Selagi hal yang dilakukan baik dan bernilai pahala.

Abdul Hamid Quds dalam kitabnya Kanzun Najah Was-Surur fi Fadhail Al-Azminah wash-Shuhur  yang menjelaskan: banyak para Wali Allah yang mempunyai pengetahuan spiritual yang tinggi mengatakan bahwa pada setiap tahun, Allah  menurunkan 320.000 macam bala bencana ke bumi dan semua itu pertama kali terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar.

Mengapa Umat Muslim Dilarang Mudah Menyebut Kafir Dan Bid’ah Kepada Sesama Muslim?

Sobat Cahaya Islam, masyarakat muslim yang hidup di negara Indonesia yang heterogen pasti sudah tahu jika aliran islam negara ini sangat banyak. Tidak sedikit aliran-aliran islam yang muncul sering mencibir aliran muslim lain dengan sebutan bid’ah dan kafir. Di dalam islam menyebut kafir dengan mudah kepada sesama muslim sangat tidak dianjurkan.

Tradisi Rebo Wekasan

Sebab kafir adalah sebutan bagi orang yang tidak memiliki iman serta islam didalamnya. Selain itu sebutan kafir juga merujuk pada orang yang menyekutukan Allah, misal orang yang berbeda agama dengan islam. oleh sebab itu sebagai seorang muslim yang memiliki iman dan islam. sebaiknya dapat menjaga lisan supaya tidak mudah mengatakan kafir kepada sesama muslim.

Karena dengan mulut akan menimbulkan kebermanfaatan jika yang keluar adalah hal menentramkan. Namun sebaliknya mulut juga akan menjadi boomerang bagi orang yang tidak bisa menjaganya dengan baik. Yaitu bagi orang-orang yang suka dengan gampang menyebut saudara seiman dengan sebutan kafir. Na’udzubillah

Itulah artikel mengenai tradisi rebo wekasan, yaitu adat jawa yang tetap dilestarikan hingga saat ini. Nilai-nilai islam juga ditanamkan dalam acara rabu malam terakhir dibulan safar tersebut. Sebab orang Jawa tidak boleh kehilangan identitas Jawanya, tanpa meninggalkan syari’at islam.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY