Sifat Al Hilm yang Mendatangkan Cinta dari Allah

0
2215
al hilm

Ceramah Agama – Perasaan pasti menjadi sangat bahagia dan sumringah apabila mengetahui orang yang kita sayangi mencintai suatu karakter dari diri kita. Itu saja baru manusia. Bayangkan saja bila yang mencintai karakter yang kita miliki adalah Allah sang pencipta kita. Pastilah kata ‘bahagia’ niscaya tidaklah bisa menggambarkan bagaimana perasaan kita.

Sebenarnya ada berbagai jalan yang bisa kita tempuh untuk mendapatkan cinta dari Allah. Bisa dengan lebih mendekatkan diri kita kepada Allah lewat banyak media ibadah dan perbuatan baik. Bisa dengan berdzikir dan lebih banyak berdoa kepada Allah di manapun dan kapanpun. Dan lain sebagainya. Nah, pada kesempatan kali ini tim cahayaislam akan mencoba untuk membahas salah satu sifat Al Hilm yang dijelaskan merupakan karakter diri seseorang yang dicintai oleh Allah. Berikut landasan haditsnya:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بَزِيعٍ، حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ، عَنْ قُرَّةَ بْنِ خَالِدٍ، عَنْ أَبِي جَمْرَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لأَشَجِّ عَبْدِ الْقَيْسِ ‏ “‏ إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ ‏.‏ وَفِي الْبَابِ عَنِ الأَشَجِّ الْعَصَرِيِّ

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa sungguh ada dua karakter/ sifat di dalam dirimu yang mana Allah mencintainya. Kedua sifat tersebut adalah Al Hilm dan ketidak tergesa-gesaan. [1]

Apa itu karakter diri yang disebut Al Hilm?

Menurut beberapa penjelasan alim ulama hadits. Banyak yang menuturkan bahwa sikap Al Hilm (الْحِلْمُ) ini adalah sikap yang condong kepada rasa sabar dan tabah. Ada beberapa yang menjelaskan lebih detail bahwasanya sikap ini merupakan sikap dimana orang tidak gampang atau cepat marah. Hal ini tentu berkaitan dengan sifat tidak tergesa-gesa (الأَنَاةُ) akan suatu hal yang disandingkan di belakangnya.

Kenapa begitu? Hal ini karena sikap terlalu tergesa-gesa itu sendiri biasanya akan membuat seseorang tidak terlalu mengindahkan nuraninya. Dan terkadang membuat blur pandangan-pandangan baik dan persepsi akan suatu hal karena mengabaikan pemikiran dengan kepala dingin. Ketika kita menghadapi sesuatu, hendaknya kita bisa mengontrol emosi kita. Cerna dulu dengan baik dan tidak tergesa dalam menerimanya.

Sikap orang yang tidak cepat marah ini juga di jelaskan kriterianya dalam satu riwayat hadits Ibnu Majjah 1596.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ، أَنْبَأَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ سَعْدِ بْنِ سِنَانٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ ‏ “‏ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah (ﷺ) bersabda: ‘Kesabaran harus datang dengan kejutan pertama.’ [2]

Jadi ketika seseorang menghadapi sebuah hal yang bisa membuatnya marah, namun dia bisa menahan amarahnya tersebut. Maka orang tersebutlah yang dikatakan sebagai orang dengan sifat Al hilm. 

Membudayakan sifat Al Hilm agar terpatri dalam diri?

Seperti yang telah banyak tim cahayaislam ulas dalam beberapa artikel kami sebelumnya. Menjadi sabar membutuhkan perubahan fokus dan cara pandang kita pada suatu hal. Menjadi pribadi yang sabar sangatlah sulit dan membutuhkan latihan dan pembiasaan.

Cara mudahnya adalah mulailah kebiasaan untuk mengucapkan istirja’ ketika mendapat cobaan. Beristighfar ketika menghadapi kejadian yang bisa membuat anda marah dan tidak bisa menahan diri. Serta meminta perlindungan kepada Allah ketika amarah melanda.

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ صُرَدٍ، قَالَ اسْتَبَّ رَجُلاَنِ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَنَحْنُ عِنْدَهُ جُلُوسٌ، وَأَحَدُهُمَا يَسُبُّ صَاحِبَهُ مُغْضَبًا قَدِ احْمَرَّ وَجْهُهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ إِنِّي لأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ لَوْ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ‏”‏‏.‏ فَقَالُوا لِلرَّجُلِ أَلاَ تَسْمَعُ مَا يَقُولُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِنِّي لَسْتُ بِمَجْنُونٍ

Dikisahkan oleh Sulaiman bin Sarad: Dua pria melecehkan satu sama lain di depan Nabi (ﷺ) saat kami duduk bersamanya. Salah satu dari keduanya melecehkan temannya dengan marah dan wajahnya menjadi merah. Nabi (ﷺ) berkata, “Aku tahu sebuah kata (kalimat) yang perkataannya akan membuatnya rileks jika orang ini mengatakannya. Hanya jika dia berkata,” Aku mencari perlindungan dengan Allah dari Setan, orang buangan. ‘ “Jadi mereka berkata kepada pria (yang marah) itu, ‘Apakah kamu tidak mendengar apa yang dikatakan Nabi (ﷺ)?” Dia berkata, “Saya tidak gila.” [3]

Dalam hadits diatas dijelaskan bahwa Rasulullah SAW menyarankan untuk meminta perlindungan kepada Allah dengan berdoa (أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ) ketika marah.

Nah, dengan ini sobat pembaca sudah tahu kan pentingnya sifat Al Hilm dan hebatnya sifat ini sehingga membwa cinta dari Allah? Semoga kita termasuk orang-orang yang memilikinya. Amiin.


Catatan Kaki

[1] H.R. Jami` at-Tirmidhi 2011 (Sahih (Darussalam))

[2] H.R. Ibnu Majjah 1596 (Hasan (Darussalam)) Bab-bab Tentang Pemakaman

[3] H.R. Sahih Bukhari 6115 Bab: Berhati-hatilah agar tidak marah

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY