Sejarah Ote-ote, Makanan Halal Khas Sidoarjo

0
2249
Sejarah Ote-ote

Sejarah Ote-ote – Sepanjang sejarah, ote-ote atau bakwan menjadi salah satu makanan yang memiliki penggemar setia.

Para pecinta gorengan bahkan menjadikan ote-ote sebagai menu favorit yang biasa disantap saat berbuka puasa. Namun tahukah seperti apa sejarah ote-ote ini?

Selama Ramadhan, umat Muslim semuanya menjalankan puasa seharian penuh selama satu bulan lamanya. Ote-ote terkenal berada di tengah-tengah sajian setiap kali hendak berbuka.

Dalil puasa Wajib menurut Al Quran disebutkan dalam Surat Al Baqarah ayat 183,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Bahkan bakwan juga disebut mampu merajai segala macam gorengan dan mampu memuaskan selera makan yang tertahan selama seharian. Apalagi jika sudah dikolaborasi dengan takjil es buah atau es teh manis. Rasanya tak tertandingi.

Sejarah dari gorengan khas Sidoarjo ini disebut-sebut berasal dari China. Penyebabnya adalah bakwan mempunyai dua suku kata dari China, yakni Bak artinya daging, dan Wan artinya bola.

Berlaku juga pada beberapa nama makanan, seperti Bakso (bola daging), Bakpao (roti isi daging), Bakmi (mi daging) dan lain-lain.

Namun, Sobat Cahaya Islam, meskipun ote-ote menjadi salah satu dari aneka gorengan yang halal dimakan.

Kita juga perlu memperhatikan apa saja komponen yang membuat makanan gurih ini layak untuk dikonsumsi. Demikian ulasannya.

Sejarah Ote-ote, Makanan Halal Khas Sidoarjo

Jika dilihat dari sudut pandang kesehatan, sudah jelas bahwa makanan khas sidoarjo ini menjadi salah satu gorengan yang tidak baik untuk dikonsumsi dalam jumlah banyak. Terlebih lagi saat berbuka puasa.

Hal ini disebabkan kandungan tinggi kalori yang bisa berdampak pada masalah kesehatan dan berujung menjadi penyakit obesitas, jantung dan diabetes.

Tak hanya itu, bahkan titik krisis halal dari gorengan pun hingga ini juga perlu diwaspadai, Sobat. Apa saja yang perlu diperhatikan?

1.      Alat Penggorengan

Alat penggorengan yang digunakan haruslah bersih dan suci. Artinya kita harus yakin bahwa semua benda yang dibuat untuk menggoreng adalah memenuhi kaidah agama sesuai syariat yang diajarkan.

Jangan sampai digunakan bergantian untuk mengolah makanan lain yang mengandung bahan-bahan haram.

2.      Kemurnian Minyak Goreng

Sejarah Ote-ote

Selanjutnya, kita juga harus memastikan bahwa minyak goreng yang digunakan tidak terkontaminasi bahan babi.

Sebab minyak biasanya melalui proses penjernihan serta penyerapan bau yang tidak diharapkan. Umumnya menggunakan bahan karbon aktif.

Nah, karbon aktifnya ada yang dari bahan nabati, seperti kayu dan juga tempurung kelapa kemudian diproses olah hingga menjadi arang.

Namun ada juga yang menggunakan dari bahan hewani, yakni tulang hewan yang diproses menjadi arang.

Sejarah Ote-ote

Tentu bukan masalah jika bahannya dari hasil tambang atau arang kayu. Yang dikhawatirkan jika menggunakan tulang hewan. sebab kita harus memastikan status kehalalan pada hewan yang digunakan.

Hewan tersebut halal atau haram, disembelih sesuai syariat Islam atau tidak.

Oleh karena itu, penting bagi kita memilih minyak goreng yang sudah bersertifikasi halal untuk digunakan dalam memproses gorengan, tak terkecuali ote-ote. Mari bijak pula dalam mengkonsumsinya!

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah;163)

Demikian di atas merupakan ulasan mengenai sejarah ote-ote, makanan khas kota sidoarjo yang halal dimakan. Serta apa saja yang harus diperhatikan sebelum memakan ote-ote dan aneka gorengan lainnya.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY