Sabar sebagai jalan menuju surga – Makna Sabar sebagai jalan menuju surga perlu diketahui oleh Sobat Cahaya Islami. Sabar ini termasuk salah satu sikap menahan diri. Baik itu,i dari perkara yang tidak disukai, menahan untuk tidak mengadu, sampai menahan amarah.
Ada suatu pendapat yang menyebutkan bahwa sabar terdiri dari tiga tingkatan. Tingkatan sabar ini sebenarnya juga telah dijelaskan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Hal ini bisa dilihat dari salah satu kitabnya yang bertemakan Thariqul Hijratain wa Babus Sa’adatain.
Sabar sebagai Jalan Menuju Surga
Kitab Ibnu Qayyim al-Jauziyah ini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Jalan Orang Shalih Menuju Surga. Imam besar ahlussunnah wal jama’ah ini sendiri juga telah mengungkapkan bahwa tingkatan sabar pertama yaitu berusaha sabar (tashabbur).
Artinya, menanggung berat, kepahitan serta tabah atas hukum yang terjadi. Sobat Cahaya Islami harus berusaha sabar demi Allah dan merupakan sabarnya orang awam.
1. Tingkatan Sabar Pertama
Tingkatan sabar sebagai jalan menuju surga berikutnya adalah memberikan keringanan bang orang yang menerima musibah. Kemudian, tingkatan sabar ketiga yaitu ikhtiar bersyukur dengan musibah serta kegembiraan yang Allah SWT berikan.
Tingkat kesabaran tertinggi ini termasuk sabarnya bagi orang-orang yang makrifat.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan lebih lanjut, kesabaran merupakan separuh dari agama. Sebab, menurunnya, iman itu dibagi menjadi dua, yaitu separuh adalah kesabaran dan separuhnya lagi bersyukur.


Allah SWT telah berfirman, “Sungguh yang demikian itu sebenarnya merupakan tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) bagi orang yang sabar serta bersyukur.” 1
Rasulullah SAW juga pernah bersabda, “Demi Dzat yang nyawanya saat ini berada tepat di tangan-Nya. Allah sendiri tidak terlalu memutuskan bagi orang mukmin suatu keputusan.
Hal ini terkecuali keputusan itu adalah sesuatu yang lebih baik baginya, yaitu jika mendapatkan kegembiraan dan bersyukur.
Lalu, menjadi kebaikan jika terkena musibah dia bersabar, dan menjadi kebaikan baginya juga. Dan hal itu nantinya tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin.”2
Hal yang perlu menjadi pemahaman bersama juga diterangkan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah, seorang hamba nantinya tidak akan terlepas dari nikmat serta musibah. Terutama, jika memperoleh nikmat, maka kewajibannya banyak bersyukur serta bersabar.
2. Tingkatan Sabar Kedua
Beliau juga menjelaskan, bersyukur dalam hal ini hanya sebagai pengikat, penahan, serta menjamin bertambahnya nikmat tersebut. Sementara itu, bersabar merupakan rasa menahan diri dari melakukan sebab yang menghilangkan nikmat dan sebab untuk menjaga nikmat itu.
Sementara itu, apabila seseorang berada dalam musibah, maka kewajibannya hanya bersabar sekaligus bersyukur. Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, bersyukur atas adanya musibah yaitu Sobat Cahaya Islami harus bisa melaksanakan hak Allah SWT atasnya dalam musibah itu.
“Hamba kapan saja harus bisa melakukan yang terbaik, meski saat itu dalam mengalami musibah maupun kenikmatan. Jadi dirinya juga tidak boleh lepas dari kesabaran selama berjalan menuju Allah,” jelas Ibnu Qayyim al-Jauziyah.
3. Tingkatan Sabar dalam Tasawuf
Tingkatan sabar dalam tasawuf juga terdiri atas tiga bagian. Di antaranya sabar terhadap maksiat agar tidak pernah melakukannya. Lalu, sabar dalam ketaatan hingga dapat melaksanakannya, dan sabar dalam musibah agar tidak pernah mengeluh kepada Tuhannya.


Allah SWT sendiri juga menyebutkan kata sabar ini berulang kali dalam firman-Nya. Salah satunya dalam surah Al-Ahqaf ayat 35 yang bunyinya,
“Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) sebagaimana ulul azmi (orang yang mempunyai keteguhan hati) dari kalangan para rasul sudah berhasil bersabar.” 3
Jika sifat sabar sebagai jalan menuju surga benar adanya, maka Sobat Cahaya Islami bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
































