Restrukturisasi Kredit, Bagaimana Pandangan Dalam Islam

0
54
Restrukturisasi Kredit 1

Restrukturisasi kredit –Di masa pandemi ini, istilah restrukturisasi menjadi cukup familiar. Hal ini karena laju ekonomi yang kian menurun. Sehingga bank mengeluarkan kebijakan terkait keringanan pinjaman atau kredit yang di kenal dengan restrukturisasi.

Keringanan ini bukanlah menghapus hutang atau pinjaman, namun memberikan kelonggaran untuk membayar cicilan. Sehingga ini bisa meringankan beban pemilik hutang yang terdampak pandemi covid-19 saat ini untuk membayarkan hutangnya tentu saja.

Restrukturisasi Kredit 1

Hutang adalah kewajiban yang harus di bayar. Dalam islam, barangsiapa yang berhutang maka ia memiliki kewajiban untuk membayar. Sementara di masa pandemi ini, banyak orang harus kehilangan pekerjaan dan pendapatannya. Sehingga banyak juga yang mengeluhkan sulitnya membayar pinjaman atau kredit. Itulah kenapa adanya kebijakan restrukturisasi bagi pemilik kredit. Agar tetap bisa membayar pinjamannya dengan pertimbangan keringanan dari bank. Ini juga sesuai dengan ajaran islam mengenai kewajiban muslimin perihal hutang.

Restrukturisasi Kredit, Begini Pandangan Dalam Islam Mengenai Hal Ini

Restrukturisasi Kredit 2

Restrukturisasi kredit merupakan keringanan yang bank berikan untuk debitur agar bisa membayar hutang atau pinjaman. Ini sebagai salah satu program untuk membantu meringankan beban pemilik hutang yang terdampak pandemi covid-19.

Tahukah sobat CahayaIslam, bahwasanya islam mengatur mengenai hutang. Kaum muslimin memiliki kewajiban untuk membayar hutang. Itu sebabnya islam menganjurkan adanya saksi dan perjanjian dalam persoalan hutang ini.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ ۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ ۖ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا ۚ وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰ أَجَلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا ۗ وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ ۚ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang di tentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan di tulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya.

Ayat ini menunjukkan bagaimana hutang adalah kewajiban yang tidak boleh lalai. Itu sebabnya, Allah memerintahkan adanya saksi dan juga menuliskannya. Tujuannya tentu saja agar hutang ini tidak di lalaikan begitu saja. Lalu bagaimana pandangan islam mengenai restrukturisasi dalam kredit atau pinjaman?

Islam Tidak Larang Keringanan Dalam Berhutang, Dosa Melalaikan Hutang Akan Terus Mengalir

Islam tidak melarang bagi pemberi pinjaman untuk memberikan keringanan bagi pemilik pinjaman atau hutang. Justru memberikan kelonggaran ini juga salah satu bentuk amalan atau sedekah lho sobat CahayaIslam. Tenggang waktu yang di berikan untuk pemilik hutang akan menjadi ladang pahala bagi pemberi hutang. Namun meskipun begitu, barangsiapa berhutang tetap memiliki kewajiban membayarkan hutangnya jika mampu. Apa alasannya?

Tahukah sobat CahayaIslam, bahwa hutang tidak akan hilang bahkan jika seseorang meninggal dunia. Hutangnya akan tetap di hitung sampai di lunasi. Dan ini bisa menjadi dosa yang mengalir bagi pemilik hutang jika tidak segera di selesaikan lho. Maka dari itu, kaum muslimin yang berhutang memiliki kewajiban untuk membayar hutang. Dan Allah melarang menunda-nunda membayar hutang jika mampu.

Restrukturisasi kredit – adalah salah satu keringanan yang bank berikan kepada pemilik hutang. Sehingga tetap bisa membayar hutang di masa pandemi ini. Namun yang perlu di ingat, jangan sampai melalaikan membayar hutang ya. Bagaimanapun ini bisa menjadi dosa yang mengalir jika tidak di lunasi.


Catatan Kaki:

(1) – Surat Al-Baqarah Ayat 282

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY