Prof. Muradi dituding Menikah Siri, Inilah Pandangan Mengenai Nikah Siri di dalam Islam!

0
66
Prof Muradi - sosialisasi

Prof. Muradi – Beberapa hari ini, publik gempar dengan berita heboh dari seorang Guru Besar UNPAD terkait berita menikah siri penelantaran anak. Namun, pihak dari Prof. Muradi membantah atas pengakuan nikah siri tersebut.

Kasus ini mencuat hingga memasuki ranah hukum. Hingga kini, kasus antara Prof. Muradi dan sang perempuan masih belum surut. Bahkan terlihat saling mengukuhkan pendapat satu sama lain.

Sobat Cahaya Islam, pernikahan siri dalam KBBI di artikan sebagai pernikahan yang tidak tercatat di KUA. Hal ini menyebabkan pernikahan tersebut tidak sah di mata hukum, sehingga akan memberikan dampak yang negatif khususnya bagi sang istri dan anak. Lantas, bagaimana Islam memandang nikah siri? Jangan khawatir, nikah siri akan sah di mata Allah SWT jika sesuai dengan tata cara yang benar.

Benarkah Prof. Muradi Terlibat Pernikahan siri? Bagaimana Pandangan Islam?

Mencuatnya kasus Prof, Muradi bersama Era S. menyebabkan dirinya semakin santer di tuding melakukan pernikahan siri. Lantas, bagaimana Islam memandangnya?

Hukumnya sah di mata Islam selama rukun sekaligus syaratnya sudah di jalankan. Hal ini perlu di cermati, karena terdapat pernikahan siri yang di adakan tanpa persetujuan wali sehingga mendatangkan keharaman.

Islam secara mutlak mengharamkan pernikahan yang di adakan tanpa persetujuan wali dan tidak sesuai syara’. Bukannya menambah keridhoan, malah akan mendatangkan kemudharatan dalam kehidupan berkeluarganya. Lalu, bagaimana jika terlanjur menjalankan pernikahan siri yang tidak sesuai syara’? Simak beberapa langkah yang bisa di lakukan :

1.      Kesungguhan Komitmen

Segala perbuatan yang kaum muslim lakukan harus senantiasa niat sesuai Syara’ karena manusia adalah makhluk yang terbatas akalnya. Sehingga, niat yang tidak berdasarkan pada selain syari’at dapat menyebabkan kerusakan di sisi manusia itu sendiri.

Maka niat yang perlu di bentuk adalah perubahan menuju ke arah yang lebih baik. Menyadari dan mengakui bahwa pernikahan siri yang di lakukan adalah sebuah dosa.

Allah SWT lebih menyukai kaumnya yang senantiasa menyadari kesalahan dan berjanji untuk tidak mengulangi kembali alias betaubat. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat An-Nisa ayat ke -17.

إِنَّمَا ٱلتَّوْبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلسُّوٓءَ بِجَهَٰلَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Terjemah Arti: Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa’ : 17)

2.      Memohon Ampunan

Sobat Cahaya Islam, Allah SWT adalah Maha Pengampun bagi seluruh umatnya. Maka sudah selayaknya, setelah memiliki kesungguhan komitmen dilanjutkan dengan sering memohon ampunan.Terdapat banyak ragam do’a yang bisa diselipkan baik diucapkan dalam shalat maupun ibadah lainnya.

Bagi sebagian kaum muslimin, memohon ampunan hanya bisa dijalankan ketika shalat saja. Namun hal ini salah besar. Memohon ampunan dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun. Parsalnya, Allah SWT senantiasa memperhatikan seluruh aktivitas manusia, baik di kala sedang belajar, kerja ataupun aktivitas lainnya.

Mengulang Pernikahan

Jika sudah menyadari pernikahan siri yang di lakukan adalah sebuah keharaman, sudah selayaknya melakukan pernikahan ulang. Hal ini di maksudkan sebagai bentuk pertobatan di dunia, pun juga sebagai bentuk pertanggung jawaban di akhirat kelak. Dalam pengulangan pernikahan, di perlukan adanya pertimbangan mengenai keabsahan di mata negara juga. Sehingga tidak lagi menimbulkan perselisihan di akhir.

Nah, Sobat Cahaya Islam, itu tadi beberapa langkah yang dapat di lakukan supaya terhindar dari keharaman pada pernikahan siri. Walaupun pernikahan siri masih sah di mata agama, namun alangkah sebaiknya juga sah di mata hukum. Hal ini akan mengurangi resiko perselisihan antar pihak yang berkaitan sebagaimana yang Prof. Muradi dan keluarga alami.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY