Perseteruan Haris Azhar dan Luhut, Bukan Panutan Teladan

0
41
Haris Azhar

Haris Azhar – beberapa hari ini jagat media sosial kembali menyemarakkan nama Haris Azhar bersanding dengan Luhut Binsar.

Dua nama ini memang tak asing dalam dunia politik, sebab keduanya merupakan seorang politisi yang cukup vokal dalam menyuarakan saran dan kritiknya baik dalam keanehan kebijakan maupun kebijakan lain.

Sobat Cahaya Islam, tentu sebagian umat bisa membayangkan bagaimana bila kedua politisi baik Haris Azhar maupun Luhut Binsar saling berseteru.

Dalam Islam sendiri, perseteruan bukanlah hal yang memberikan ending yang baik dimana salah satunya akan mengalami kerugian.

Bagaimana Seharusnya Umat Menyikapi Perseteruan Haris Azhar?

Sobat Cahaya Islam, sebagai seorang muslim alangkah baiknya bila umat senantiasa mengkaji apakah aktivitasnya sudah sesuai dengan syariat atau bukan.

Termasuk halnya ketika umat menyikapi perseteruan antara Haris Azhar dan Luhut Binsar Pandjaitan.

Singkatnya, dalam dunia politik kedua orang ini memiliki pendapat yang kontradiktif sehingga menjadi perseteruan.

Walhasil, akhirnya beberapa jagat media sosial maupun dunia media massa ikut ngeblow-up permasalahan keduanya.

Bahkan bisa jadi, saking panasnya perseteruan mereka sampai membuat keduanya berjidal (debat kusir). Dalam Islam, debat kusir bukanlah hal yang diperbolehkan melainkan termasuk dalam hal yang harus umat tinggalkan.

Dampak Negatif Perseteruan Antar Umat

Secara logika, aktivitas debat kusir tentu hanya akan memberikan dampak negatif bagi umat. Beberapa diantaranya yakni :

1.    Balas Dendam

Salah satu dampak negatif dari perseteruan maupun debat kusir sendiri yakni menjadikan salah satu pihak memiliki rasa ingin balas dendam.

Bagaimana tidak? Hal ini sangat mungkin terjadi pada umat yang belum tertata dan stabil dari segi aqidah Islam.

Misalnya saja, ketika salah satu pihak merasa tersakiti dengan pernyataan yang terlontar dari pihak lain maka hal ini akan otomatis akan menjadikan kemunculan rasa untuk balas dendam.

Pada faktanya, perseteruan sengit bisa saja sampai mengantarkan pihak yang berseteru pada pembunuhan berencana. Wah, pasti ngeri banget bukan?

2.    Menyakiti Perasaan

Selain itu, perseteruan juga dapat menjadikan kedua belah pihak yang berseteru saling menyakiti perasaan satu sama lain.

Idealnya, setiap perseteruan adalah kondisi dimana umat saling melempar pernyataan jahat bahkan sampai membongkar aib dan kesalahan umat lainnya bukan?

Secara fitrah, sebagai manusia biasa jika aibnya terbongkar maka mereka akan tersakiti perasaannya. Bisa saja yang tersakiti memaafkan perbuatan atas pembongkaran aib tersebut.

Namun, bilamana jika yang tersakiti ingin menuntut balas? Tentu, persoalannya akan semakin runyam. Padahal Islam datang sebagai nasihat bagi seluruh umat. Hal ini sesuai dengan pesan Rasulullah SAW yakni :

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

Artinya : “Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat”

3.    Menurunkan Keimanan

Selain kedua hal diatas, salah satu dampak negatif lain yakni dapat menjadikan intensitas keimanan dalam diri umat menurun.

Jika sudah demikian, maka bisa saja umat malah dapat berada dalam posisi jauh dari RabbNya. Wah, ini malah menjadikan umat semakin menumpuk dosa.

Nah Sobat Cahaya Islam, demikianlah ulasan mengenai perseteruan Haris Azhar dan bagaimana seharusnya umat menanggapinya dari sudut pandang Islam. Perlu umat ingat, bahwa perseteruan adalah hal yang lumrah antar sesama.

Namun, bila hal ini terus berlanjut maka bisa saja menjadikan silah ukhuwah antar umat renggang dan malah masuk dalam kategori aktivitas yang Allah SWT benci. Naudzubillah.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY