Bingung Membagi Warisan? Ini Cara Pembagian Warisan Menurut Islam

0
57
Pembagian Warisan Menurut Islam

Pembagian Warisan Menurut Islam – Warisan adalah perpindahan berbagai hak dan kewajiban tentang kekayaan seseorang yang meninggal dunia kepada orang lain yang masih hidup.  

Sering kali masalah warisan menjadi pemecah hubungan kekerabatan karena pembagiaannya yang kurang adil atau tidak sesuai dengan ajaran Islam. Bagi kita yang memahami cara pembagian warisan menurut Islam, pembagian warisan bukanlah hal yang menakutkan, tetapi  bagi orang awam, pembagian warisan adalah satu hal yang menakutkan.

Sayangnya ada banyak contoh di masyarakat ketika pembagian warisan lalu perpecahan keluarga terjadi, membuat banyak orang bimbang untuk membagikan warisannya, terutama untuk yang memiliki banyak anak dan kerabat.

Namun, warisan tetaplah sebuah warisan yang harus dibagikan kepada yang berhak. Untuk menghindari perpecahan itu, sebaiknya kita menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman dan pegangan kita dalam memecah-mecah bagian tersebut.

Pembagian Warisan Menurut Islam

Dalam pembagian harta warisan, kita tidak boleh sembarangan. Tidak hanya asal memberikannya, tetapi juga harus memperhatikan ajaran agama kita yang sudah menganturnya. 

Pembagian Warisan Menurut Islam

Ada sebuah dalil dalam Al-Qur’an yang mengatur tentang pembagiaan warisan ini, terdapat pada surat An-Nisa ayat 11.

يُوْصِيْكُمُ اللّٰهُ فِيْٓ اَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِ ۚ فَاِنْ كُنَّ نِسَاۤءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۚ وَاِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ ۗ وَلِاَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ اِنْ كَانَ لَهٗ وَلَدٌ ۚ فَاِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهٗ وَلَدٌ وَّوَرِثَهٗٓ اَبَوٰهُ فَلِاُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ فَاِنْ كَانَ لَهٗٓ اِخْوَةٌ فَلِاُمِّهِ السُّدُسُ مِنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصِيْ بِهَآ اَوْ دَيْنٍ ۗ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْۚ لَا تَدْرُوْنَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا

Artinya: “Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Dan jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya lebih dari dua, maka bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika dia (anak perempuan) itu seorang saja, maka dia memperoleh setengah (harta yang ditinggalkan). Dan untuk kedua ibu-bapak, bagian masing-masing seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika dia (yang meninggal) mempunyai anak. Jika dia (yang meninggal) tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga. Jika dia (yang meninggal) mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) setelah (dipenuhi) wasiat yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS An-Nisa:11)

Selanjutnya ada aturan yang mengikat dan sudah sesuai dengan ajaran kita tentang bagaimana pembagian harta warisan tersebut. Di bawah ini akan kami jabarkan tentang cara pembagian warisan menurut ajaran yang terdapat dalam Al-Qur’an.

1. Setengah (1/2)

Pada bagian ini ada beberapa pihak yang berhak menerima harta warisan dengan presentasi ½ ini diantaranya:

  1. Anak perempuan tunggal
  2. Cucu perempuan tunggal dari anak laki-laki
  3. Saudara perempuan tunggal yang sekandung
  4. Saudara perempuan tunggal yang sebapak (apabila saudara perempuan tunggal sekandung tidak ada)
  5. Suami apabila istrinya tidak mempunyai anak atau cucu dari anak laki-laki.

2. Seperempat (1/4)

Di bagian ini hanya ada dua pihak yang bisa mendapatkan bagian warisan dengan presentase ini yaitu:

  1. Suami (apabila istrinya memiliki anak atau cucu dari anak laki-laki)
  2. Istri (apabila suaminya tidak memiliki anak atau cucu dari anak laki-lakinya).
  3. Seperdelapan (1/8)

Sementara itu orang yang mendapatkan bagian seperdelapan ini adalah istri (seorang atau lebih) apabila suami mempunyai anak atau cucu dari anak laki-laki.

3. Duapertiga (2/3)

Ada beberapa pihak keluarga yang berhak mendapatkannya dengan bagian ini yaitu:

  1. Dua orang anak perempuan atau lebih apabila tidak ada anak laki-laki
  2. Dua orang cucu perempuan atau lebih yang sekandung
  3. Dan dua orang saudara perempuan atau lebih yang sekandung (seibu sebapak, atau hanya sebapak saja).
  4. Sepertiga (1/3)

Ahli waris yang mendapatkan bagian ini adalah:

  1. Ibu (apabila anaknya yang meninggal tidak memiliki anak atau cucu, atau tidak memiliki saudara yang sekandung, yang sebapak atau seibu)
  2. Dua orang saudara atau lebih yang seibu apabila tidak ada anak atau cucu.

4. Seperenam (1/6)

Ada beberapa orang yang berhak mendapatkan warisan dengan presentase ini yaitu:

  1. Bapak
  2. Kakek
  3. Ibu
  4. Cucu perempuan
  5. Keturunan anak laki-laki
  6. Saudara perempuan sebapak
  7. Nenek
  8. Suadara laki-laki dan perempuan seibu.  

Hal-hal yang Menghalangi Waris-Mewarisi 

Pembagian Warisan Menurut Islam
  1. Pembunuh, yaitu apabila ahli waris membunuh pewaris. Kita jelas mengetahui kalau pembunuhan bukan hanya dilarang berdasarkan aturan negara, tetapi juga diharamkan dalam agama kita. Perlakuan membunuh, apalagi dengan niat untuk mendapatkan harta warisan adalah sesuatu yang salah dan sebaiknya kita semua hindari. 
  2. Berbeda agama. Orang kafir tidak berhak menerima warisan dari keluarganya demikian pula sebaliknya. 

لا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الكَافِرَ، ولا يَرِثُ الكَافِرُ الْمُسْلِمَ


Artinya: “Orang Islam tidak mewarisi orang kafir, demikian pula orang kafir tidak mewarisi orang Islam.” (KR. Bukhari dan Muslim)

  1. Hamba Sahaya atau orang yang mengabdikan dirinya kepada tuan atau majikan. Ada alasan mengapa seorang hamba sahaya tidak diperbolehkan mendapatkan warisan, hal ini karena apa yang dimiliki oleh hamba sahaya akan secara langsung menjadi milik tuannya. 
  2. Murtad. Orang yang murtad tidak mendapatkan warisan dari keluarganya yang beragama.

Bagaimana, Sobat Cahaya Islam? Sudah mengertikah tentang pembagian warisan menurut Islam? Jadi, intinya tidak ada yang tidak adil, Islam sudah mengaturnya dengan memperhatikan dalil yang ada dalam Al-Qur’an.

Jadi, tidak sembarangan dan presentase yang tidak sama itu bukan berarti ketidakadilan, melainkan berdasarkan status kedekatan hubungan antara pewaris dengan ahli warisnya.

Dengan adanya pembahasan ini semoga kita semua bisa mengerti tentang cara pembagian warisan menurut Islam dan kita bisa bersikap adil kepada keluarga kita nantinya guna menjaga hubungan kekeluargaan yang utuh.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY