Mobil Dinas TNI AD yang Dipakai Warga Sipil adalah Mobil Pinjaman, Bagaimakah Hukumnya?

0
26

Mobil Dinas TNI AD – Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat baik kepada manusia. Termasuk meminjamkan barang atau benda kepada orang lain dengan akad yang sudah disepakati bersama.

Baru-baru ini media sosial dihebohkan dengan video viral seorang warga sipil tengah mengendarai mobil dinas TNI AD di sebuah rumah makan. Video dengan durasi 2 menit 8 detik itu menyedot banyak perhatian warganet. Akun twitter milik @ghanieierfan dibanjiri komentar pedas menanggapi isi video tersebut.

Dalam video tersebut, seorang warga sipil dengan santainya mengendarai mobil dinas TNI AD yang seharusnya perbuatan tersebut telah melanggar peraturan dalam dunia TNI. Dalam video tersebut pengendara mobil itu mengaku seorang TNI AD yang aktif saat dirinya ditanyai tentang status keanggotaannya sebagai TNI AD. Setelah didesak dengan menanyakan kartu identitas TNI AD akhirnya pengendara mengaku bahwa dirinya hanya bercanda dan memang dirinya adalah seorang warga sipil biasa.

Setelah diusut oleh Puspomda (Pusat Polisi Militer Angkatan Darat) memang benar bahwa nomor registrasi 3688-34 yang dikendarai warga sipil tersebut adalah nomor registrasi Puspomda. Mobil Toyota Fortuner warna hijau army khas TNI AD tersebut ternyata bukan kendaraan organic Puspomda. Lalu dari mana warga sipil dengan nama Suherman Winata alias Ahon tadi bisa menggunakan nomor registrasi tersebut?

Setelah diperiksa lebih lanjut. Puspomda menemukan bahwa nomor registrasi yang tertempel pada plat mobil Toyota Fortuner warna hijau army yang dikendarai Ahon adalah milik Kolonel CPM Purnawirawan Bagus Heru Sucahyo sejak tahun 2017.

Meski sudah purna, bagi purnawirawan polisi militer masih diberikan izin pinjam pakai nomor registrasi. Namun, tetap sesuai aturan kemiliteran bahwa kendaraan militer hanya boleh digunakan anggota militer. Nah, Sobat Cahaya Islami, bagaimana sih hukumnya kasus di atas?

Kisruh Mobil Dinas TNI AD, Ini hukumnya Meminjamkan Barang Tanpa Sepengetahuan Pemilik

  1. Tidak Dibenarkan

Meminjamkan barang kepada orang yang membutuhkan adalah boleh hukumnya. Apalagi barang yang dipinjamkan akan menolong si peminjam. Namun, dari kasus Purnawirawan Heru Bagus Sucahyo dengan warga sipil Ahon yang meminjamkan barang pinjaman adalah haram. Terlebih sudah melanggar aturan kemiliteran.

Meski dalam Surat Al-Maidah ayat 5 diterangkan,

“… dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran”.

Dalam ayat ini sudah jelas bahwa tolong menolong untuk kebaikan memang diharuskan. Namun, berbeda dengan  kasus mobil dinas TNI AD di atas. Pasalnya pemilik nomor registrasi tersebut statusnya dipinjami, kemudian meminjamkan barang pinjaman tanpa sepengetahuan Puspomda.

  1. Dosa

Dalam kitab Fathul Mu’in Syaikh Zainuddin al-Malibari menjelaskan bahwa “Tidak boleh bagi peminjam meminjamkan barang yang dipinjam tanpa seizing orang yang meminjami (pemilik barang)”. Lebih daripada itu, si peminjam kedua alias Ahon telah berkata dusta saat ditanya statusnya sebagai keanggotaan TNI, yang mana pokok dari segala dosa adalah bohong.

Sobat Cahaya Islami sudah tahu bukan bahwa meminjamkan benda yang dipinjam tanpa seizing yang punya barang itu tidak diperbolehkan oleh agama. Namun, jika sebelumnya sudah izin atau ada akad yang menyatakan ini dan itu, maka sah-sah saja hukumnya.

Secara adab bersosialisasipun rasanya memang kurang etis jika kita melakukan hal tersebut. Dari kasus mobil dinas TNI AD yang dikendarai warga sipil tadi semoga dapat menjadikan pelajaran bagi kita semua.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!