Mengenal Pertanda Bahwa Anda Telah Menjadi Budak Dunia (bagian 5)

0
348

Dunia ini adalah gelanggang yang dipenuhi dengan tipu muslihat dan sandiwara. Banyak dari kita menyadari hal itu. Terutama orang-orang yang islam yang mengaku beriman. Karena pada dasarnya Rasulullah SAW telah berkali-kali tanpa jemu memberikan petuah bahwasanya dunia ini tak ubahnya memiliki nilai yang tidak lebih berharga dari satu sayap nyamuk. Benar! satu sayap nyamuk yang remeh dan tiada memiliki makna apapun dan tidak memiliki sebersit saja kelayakan untuk disebut sebagai hal yang patut untuk diperjuangkan.

Allah sendiripun telah pula menyatakan tentang hinanya dunia ini dalam banyak firman-firman-Nya yang tertera dalam kitab suci Al Quran. Berulang kali Allah mengungkapkan agar manusia mengerti bahwasanya dunia ini adalah permainan dan kesenangan yang menjebak dan tidak nyata. Dunia hanya akan mengantarkan manusia kepada jurang kenistaan hingga akhirnya berakhir pada kemalangan yang disebabkan oleh kobaran api neraka.

Indikasi bahwa seseorang telah menjadi salah satu budak dari keduniaan bisa dilihat dari seberapa besar rasa cinta orang tersebut kepada dunia dibandingkan pada hal-hal yang bersangkutan dengan akhirat. Kita bisa melihat hal tersebut dari bagaimana skala prioritas seseorang. Bila dia memang lebih mengedepankan perkara akhirat daripada dunia, maka label “budak dunia” tidaklah melekat pada dirinya. Namun bila kebalikannya. Dia harus berhati-hati dan introspeksi diri. Dia harus khawatir jangan-jangan “status” sebagai budak dunia telah tersematkan kepadanya. Berikut beberapa pertandanya:

Kegiatan mempelajari agama hanya dinilai sebagai aktifitas tambahan untuk mengisi waktu luang

Firman Allah dan sabda Rasulullah bukanlah suatu yang hanya dipelajari dalam beberapa jam atau beberapa hari saja. Akan tetapi hal-hal tersebut haruslah disemayamkan dalam setiap detik kehidupan sehari-hari kita. Seharusnya kita memiliki “rasa haus” akan ilmu agama agar diri kita diliputi dengan banyak sekali ilmu. Karena kita percaya bahwa semakin banyak ilmu agama yang kita ketahui dan kaji, maka semakin mutawari pula kehidupan yang kita jalani. Bukankah dalam Surat Al Fathir ayat 28 Allah menegaskan satu hal tentang orang berilmu:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Dalam ayat diatas kita mengerti bahwa Allah berfirman. Sungguh hanya orang-orang “berilmu” saja yang takut kepada Allah. Dengan memperbanyak mempelajari agama, kita jadi mengerti larangan dan perintah Allah dan Rasulullah. Kita jadi bisa membedakan mana hal yang haram dan mana hal yang halal untuk di tempuh. Kita bisa tahu bagaimana tuntunan-tuntunan peribadatan yang sesuai dengan syariat islam. Dengan memiliki ilmu agama yang kuat dunia tidak akan membuat anda terlena. Bila anda mendapati diri anda tidak memiliki pemikiran seperti demikian, maka berhati-hatilah. Jangan-jangan anda sudah menjadi budak dari dunia.

Melaksanakan sholat dengan malas dan tergesa-gesa

Orang islam yang beriman haruslah tahu betul dan sadar bahwa dirinya harus berhati-hati dalam hal sholat. Banyak adab dan ketentuan daripada ibadah wajib orang islam satu ini yang harus dipenuhi. Sholat pula merupakan “sarana” mediasi antara hamba dan Tuhannya. Oleh karena itulah orang muslim yang beriman pastilah menggunakan waktu sholat tersebut sebagai momentum pendekatan dirinya kepada Allah. Dia tidak menyia-nyiakan waktu sholat dengan rasa malas ataupun tergesa dalam melakukannya dengan dalih alasan kesibukan dunia semata.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!