Menerima saran dengan hati terbuka – Kritik kerap datang kepada diri dan merupakan bagian dari skenario Allah untuk menasehati diri sendiri. Ada kalanya kritikan dan nasihat datang tak sesuai keinginan, maka perlu menerima saran dengan hati terbuka. Sangat baik bagi Sobat menjadi sosok yang rindu kritikan dan nasehat.
Pentingnya Menerima Saran dengan Hati Terbuka
Keikhlasan dan keterbukaan hati menjadi dua nilai yang penting untuk membentuk akhlak dan ikhlas. Dalam hal ini, agama memiliki peranan kuat untuk mengajarkan dan memperkuat nilai-nilai setiap individu. Ikhlas dan keterbukaan hati saling melengkapi. Ikhlas merupakan perasaan tulus dan ikhlas melakukan sesuatu tanpa mengharapkan keuntungan pribadi.
Saat Sobat bersikap ikhlas, maka akan melakukan segala sesuatu sepenuh hati. Sementara itu, menerima dengan hati terbuka yaitu mampu menerima pandangan atau pendapat dari orang lain dengan lapang dada. Ketika Sobat memiliki dua sikap ini, maka mampu menjalin hubungan harmonis dengan orang lain.
Mampu menerima kritik dan saran dari orang lain dengan rasa ikhlas memungkinkan pribadi tumbuh jadi lebih baik. Selain itu, menerima saran dengan hati terbuka merupakan ciri kebersihan hati dan sifat tawadhu. Sebaliknya, orang sombong apabila mendapatkan nasihat justru akan meradang sebagaimana ayat berikut ini:
“Dan apabila dikatakan kepadanya, “Bertaqwalah kepadaNya,” bangkitlah kesombongannya untuk berbuat dosa. Maka pantaslah baginya neraka jahannam. Dan itu merupakan tempat tinggal yang terburuk.” 1
Mau menerima nasihat dari orang lain merupakan cerminan akan kekurangan diri karena tidak ada manusia yang sempurna. Sobat yang mau menerima nasihat menunjukkan bahwa orang tersebut suka kepada kebaikan. Ketika ada kemauan untuk mengubah diri setelah mendapatkan nasihat, maka semakin berkurang keburukannya.
Sebaliknya, jika Sobat menolak nasihat, justru akan merugi karena kehilangan momen untuk menambah kebaikan. Rasulullah senantiasa menerima nasihat dan saran dari para sahabatnya. Beliau juga tidak sungkan meminta nasehat para sahabatnya.
Mengapa Berat Menerima Nasehat?
Menerima kenyataan dalam Islam termasuk kekurangan diri merupakan cerminan akhlak terpuji. Namun, ada beberapa penyebab mengapa Sobat merasa berat ketika menerima nasehat maupun saran dari orang lain. Bahkan tidak jarang masih banyak umat Muslim yang menolak dan membantah ketika diberikan saran lantaran beberapa sebab ini:
1. Merasa Lebih Hebat
Merasa diri lebih tinggi dari si pemberi nasihat menghambat proses menerima saran dengan hati terbuka. Ada perasaan tidak siap ketika si pemberi nasihat jabatannya, usia, atau pangkatnya lebih rendah.
2. Merasa Lebih Tinggi
Merasa lebih tahu dari si pemberi nasihat karena merasa banyak ilmu, luas pengetahuan atau gelar akademiknya juga jadi hambatan. Contohnya, seorang profesional atau doktor akan sulit menerima saran dan nasehat dari orang yang masih strata satu.


3. Cara Menasehati Kurang Mengena
Menerima saran dengan hati terbuka tidak bisa terlaksana jika cara menasehatinya kurang bijak dan kurang mengena. Jika tetap melakukan hal tersebut, maka tidak akan bermanfaat nasihatnya. Bahkan jika si penerima nasihat tidak menerimanya dengan baik justru akan mengakibatkan perlawanan.
Masih banyak faktor lainnya yang mempengaruhi penerimaan saran, salah satunya faktor kehati-hatian dalam Islam. Padahal orang beriman harus lapang dada dan siap menerima nasihat. Oleh karena itu, hati Sobat harus senantiasa dijaga agar mudah menerima nasihat sebagaimana hadits:
“Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” 2
Menerima saran dengan hati terbuka harus menjadi landasan bagi setiap muslim. Sejatinya, nasehat merupakan jalan terbaik untuk memperbaiki diri sekaligus teguran dari Allah sebagai bentuk kasih sayang sang pencipta.































