Larangan Memviralkan Kesalahan Orang Lain dalam Islam

0
494
memviralkan kesalahan orang

Memviralkan kesalahan orang – Di era digital sekarang ini, banyak platform digunakan untuk menayangkan kehidupan pribadi daripada tayangan yang bermanfaat. Padahal dalam Islam ada larangan memviralkan kesalahan orang. Perintah menutup aib orang lain dalam Islam telah menjadi kewajiban, sebab membuka aib orang lain sama halnya dengan membuka aib sendiri. 

Larangan Memviralkan Kesalahan Orang Lain

Upaya menyebarkan aib orang lain semakin marak sejak perkembangan teknologi. Menyebarkan informasi pribadi dan aib orang lain yang seharusnya menjadi rahasia dapat dengan mudah Sobat temui. Islam mengatur hukum menyebarkan aib orang lain dalam ayat Al Qur’an hingga hadits.

Istilah aib bermakna cacat atau kekurangan, sedangkan KBBI mengartikan aib sebagai cela, noda, salah atau keliru. Menutup aib orang lain menjadi salah satu anjuran dalam Islam. Menutupi aib orang lain artinya tidak menceritakan atau membocorkan keburukan. Setiap perbuatan yang Sobat lakukan, harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. 

Bahkan Allah memperingatkan umatNya untuk mengumbar aib sebagaimana ayat berikut ini:

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan dan aib orang lain dan janganlah kamu menggunjing [gibah] sebagian yang lain. Apakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. [Oleh karena itu, jauhilah larangan-larangan yang tersebut] dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” 1

Setiap kata yang keluar dari mulut Sobat, maka malaikat akan mencatatnya. Catatan tersebut akan menjadi bekal amalan yang Allah timbang di hari akhir. Oleh karena itu, pikir kembali ketika memviralkan kesalahan orang lain, bisa jadi hal tersebut justru jadi pemberat di timbangan akhirat kelak.

Tinggalkan Kebiasaan Ghibah

Awalnya ada rasa bahagia saat Sobat tahu informasi tentang orang tertentu. Semakin gembira lagi ketika teman mengajak membicarakan orang tersebut. Antusias lagi ketika yang Sobat bicarakan adalah hal-hal negatif tentang orang tersebut. 

memviralkan kesalahan orang

Terkadang ketika memviralkan kesalahan orang lain dan ada yang mengingatkan, Sobat akan membantah bahwa itu merupakan fakta. Allah memperingatkan semua Muslim untuk menjaga lisan melalui hadits berikut:

“Tahukah kalian apa itu gibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika sesuai kenyataan berarti Engkau telah menggibahnya. Jika tidak sesuai, berarti Engkau telah memfitnahnya.” 2

Tren membuka aib orang lain sekarang ini telah menjadi kebiasaan buruk di berbagai kalangan. Tak jarang Sobat menemui orang-orang menamakan grup media sosial dengan nama Ghibah. Seolah ada rasa bangga jika bisa mengajak orang lain untuk ghibah. 

Awalnya mungkin sebagai candaan, namun pada akhirnya Sobat terjebak pada kebiasaan memviralkan kesalahan orang. Balasan orang yang suka mencari-cari kekurangan orang lain yakni terbongkarnya aib sendiri. Islam merupakan agama yang mengajarkan kasih sayang, oleh karena itu sebaiknya tidak menjelek-jelekkan orang lain.

Membuka aib orang lain sama dengan membuka aib sendiri harus Sobat pahami dengan baik. Manakala hal itu terjadi, maka azab Allah harus Sobat tanggung. Berikut ini contoh perilaku yang menutupi aib orang lain:

  • Tidak menceritakan kondisi ekonomi teman kepada orang lain. 
  • Tidak membahas dan mengejek tetangga lain ketika tak sengaja mendengar pertengkaran.
  • Tak sembarangan mengumbar dosa teman di media sosial manapun.
  • Saat mengetahui ada ketidaksempurnaan teman secara fisik, tak lantar Sobat mengejek ke teman-teman lainnya.
  • Tidak menyebar keburukan orang lain di sosial media yang bermaksud mempermalukan teman di hadapan orang banyak.

Memahami buruknya kebiasaan mengumbar keburukan orang lain seharusnya menjadi peringatan bagi seluruh umat Muslim. Tindakan memviralkan kesalahan orang lain tentu akan menambah dosa-dosa dan harus Sobat pertanggung jawabkan di akhirat kelak. Tindakan yang tepat yaitu tidak mengumbar aib orang lain dan menghindari ghibah.


  1. (QS Al-Hujurat: Ayat 12) ↩︎
  2. (HR. Muslim no. 2589) ↩︎

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY