Lagu Genjer-genjer dan Kontroversinya, Bagaimana Islam Memandang tentang Musik?

0
73

Lagu Genjer-genjer – Pernahkah Sobat Cahaya Islam mendengar lagu genjer-genjer? Ternyata lagu ini sempat menjadi pro kontra saat zaman penjajahan dahulu. Bahkan, menurut nenek moyang kita lagu ini erat kaitannya dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Sehingga, banyak yang melarang pemutaran lagu ini hingga masa orde baru berakhir.

Meski demikian, lagu genjer-genjer yang berasal dari Banyuwangi ini tetap menuai pro kontra hingga sekarang. Lagu ciptaan Muhammad Arif ini menggunakan bahasa Osing, bahasa daerah Banyuwangi yang merupakan gambaran sejarah tentang keadaan Banyuwangi saat masa penjajahan Jepang setelah Indonesia dijajah oleh Belanda.

Mulanya daerah Banyuwangi adalah daerah yang terkenal dengan kekayaannya. Saat Jepang menguasai Indonesia, orang-orang Banyuwangi dipaksa menanam dan mengonsumsi tanaman Genjer yang biasa dimakan itik. Hal itulah yang membuat Arif mencoba merepresentasikan keadaan masyarakat Banyuwangi melalui syair lagu. Muhammad Arif merupakan seniman asal Banyuwangi.

Pada saat yang bersamaan, lagu ini disuguhkan kepada PKI dan mereka senang dengan lagu tersebut. Sehingga hampir tiap pertemuan atau rapat PKI, lagu genjer-genjer selalu diputar. Oleh sebab itu, lagu ini sangat erat kaitannya dengan PKI. Bahkan, ada yang mengklaim bahwa lagu ini merupakan lagu Mars PKI.

Setelah orde baru berakhir, pelarangan pemutaran lagu genjer-genjer secara resmi juga ikut berakhir. Bahkan, pemutaran lagu ini boleh dilakukan melalui internet dan tersebar secara luas. Sobat Cahaya Islam, bagaimana sebenarnya Islam memandang sebuah lagu atau musik? Terlebih lagu tersebut merupakan lagu daerah yang diklaim oleh organisasi terlarang Indonesia.

Lagu Genjer-genjer dan Bagaimana Pandangan Islam terhadap Musik dan Lagu?

Menurut ulama berbeda pendapat tentang musik dan lagu, ada yang menghukumi mendengarkan lagu sudah termasuk perbuatan makruh, haram, atau boleh. Untuk menjawab pertanyaan Sobat Cahaya Islam tentang bagaimana Islam memandang musik dan lagu, simak pembahasan berikut ini:

1.     Haram

Menurut Imam Syafi’i, Imam Malik, dan Imam Abu Hanifah mendengarkan musik dapat dikatakan haram. Bahkan, memukul alat musik juga merupakan suatu kebatilan. Dari mana sumber ini berasal? Menurut ulama tadi mendengarkan musik dapat melalaikan seseorang lupa membaca Al-Quran dan lebih senang mendengarkan musik.

Mereka yang mengharamkan musik berdasar terhadap ayat berikut:

“Dan hasutlah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” (QS. Al-Isra’ Ayat 64)

2.     Halal

Berbeda dengan ulama di atas, Imam Ghazali berpendapat bahwa mendengarkan musik, bernyanyi, atau memainkan alat musik hukumnya adalah halal. Sebab yang menjadi inti dari suatu hukum tentang musik adalah substansinya. Bukan alat musiknya. Terlebih dalam Al-Quran atau hadist tidak disebutkan secara detail hukum tentang musik tadi.

Sehingga, menurut pandangan fiqih, sesuatu yang tidak dihukumi dalam Al-Quran atau Hadist maka hukumnya dikembalikan pada asalnya. Kaidah lain juga menyebutkan bahwa musik termasuk bagian dari muamalah, dan hukum muamalah adalah halal kecuali jika dalam Al-Quran atau hadist terdapat penjelasan detail tentang hal tersebut.

Nah, bagaimana menurut Sobat Cahaya Islam tentang lagu genjer-genjer yang masih diperdebatkan kebolehan dan keharaman pemutarannya? Semua tergantung dari pendapat ulama mana yang kita gunakan untuk menyikapi hal ini. Wallahu a’lam.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY