Kaum Muslimin di medan perang – Salah satu tanda menjelang datangnya hari akhir yaitu pertempuran besar dalam sejarah. Siapa yang dihadapi kaum muslimin di medan perang akhir zaman? Al Malhamah Kubra merupakan perang yang tak pernah terbayangkan karena melibatkan puluhan juta pasukan dan dunia di ambang kehancuran.
Keadaan Kaum Muslimin di Medan Perang Akhir Zaman
Keadaan kaum muslim sebelum munculnya Dajjal berada dalam situasi penuh persaingan dan peperangan terus-menerus. Selain peperangan, Sobat juga menyaksikan munculnya berbagai macam fitnah. Berikut ini beberapa kengerian yang tergambar dari perang akhir zaman:
1. Terjadinya Perang Malhamah Al Kubro
Al Malhamah Al Kubra merupakan perang yang terjadi antara Al Mahdi dan Eropa Romawi. Perang tersebut melibatkan 960.000 pasukan dan kaum muslimin meraih kemenangan dan bergerak ke Konstantinopel. Perang akhir zaman ini terjadi sebelum kemunculan Dajjal. Salah satu hadits Malhamah Al Kubra berbunyi:
“Wahai Ibnu Hawalah, jika engkau melihat kekhilafahan telah turun di bumi Al-Maqdis (Baitul Maqdis, Palestina), maka itu pertanda telah dekatnya berbagai goncangan, kegundah-gulanaan, dan peristiwa-peristiwa besar. Bagi umat manusia, kiamat lebih dekat kepada mereka daripada dekatnya telapak tanganku kepada kepalamu ini.” 1
2. Tidak Menggunakan Senjata Modern
Saat Al Malhamah Al Kubra terjadi, manusia tidak memiliki alat-alat perang modern. Senjata yang dipergunakan yaitu kembali menggunakan pedang, busur, dan panah. Tidak ada juga tank atau pesawat tempur, melainkan berjalan kaki dan mengendarai kuda.
Kaum Muslimin di medan perang akhir zaman berjalan secara tradisional dan pertempuran banyak memakan korban dan menumpahkan banyak darah. Imam Mahdi memimpin perang, sementara aliansi bangsa Eropa dipimpin oleh panglima perang andalan yang mendapatkan dukungan dari kaki tangan Dajjal.


Saat perang meletus, kekuatan legim kaum muslimin berpusat di Damaskus yang bernama Al-Ghuthah. Jumlah korban pertempuran begitu besar sekitar 5 juta banding 100, artinya hanya 50.000 orang yang masih hidup.
Kaum muslimin di medan perang akhir zaman tidak akan tahu kapan hari kiamat datang kecuali Allah, sebagaimana ayat:
“Mereka menanyakan kepadamu (Nabi Muhammad) tentang kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada pada Tuhanku. Tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk yang) di langit dan di bumi. Ia tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” 2
3. Kaum Muslim Berdamai dengan Nasrani
Peperangan Al Malhamah Kubra diawali dengan kekalahan Yahudi. Kaum Yahudi memusuhi penganut agama Islam dan Nashara. Kelak peperangan di hari akhir, Muslimin dan Nasrani bersatu dalam perjanjian perang melawan Yahudi. Dalam peperangan tersebut, Yahudi akan binasa secara keseluruhan.
4. Kaum Nasrani Melanggar Janji
Kaum Muslimin di medan perang akhir zaman berhasil mengalahkan kaum Yahudi bersama kaum Nasrani. Namun, setelah itu Nasrani justru melanggar perjanjian bahkan mengatakan bahwa kaumnya yang berhasil mengalahkan Yahudi. Perang pun meletus antara Nasrani dan Muslimin.
Para musuh dari bangsa Romawi dan lainnya berkumpul untuk memerangi kaum Muslimin. Saat perang tersebut meletus, maka terjadilah kemurtadan yang dahsyat. kaum Muslimin bertekad tidak akan kembali kecuali membawa kemenangan.
Pertempuran terjadi seharian dari pagi hingga malam dan di masing-masing pihak tidak ada tanda-tanda kemenangan. Di hari keempat, kaum Muslimin yang tersisa berhasil bangkit untuk memerangi orang kafir. Perang terus terjadi di semua penjuru dunia hingga Allah menakdirkan kaum Muslimin menang.
5. Kaum Muslimin Berhasil Memenangkan Pertempuran
Makna penaklukkan Konstantinopel sebagaimana dalam hadits bukan peristiwa sejarah. Kaum Muslimin memang pernah berjaya dan memukul mundur pasukan Romawi di bawah kepemimpinan Muhammad Al Fatih. Menjelang kiamat, Konstantinopel berhasil kembali ke tangan kaum Muslimin.
Kaum Muslimin di medan perang akhir zaman menjalani peperangan cukup sengit. Saat itu, tidak lagi ada kendaraan maupun persenjataan modern. Setelah kaum Nasrani berkhianat, kaum Muslimin berhasil meraih kemenangan.





























