Hotma Sitompul Cerai, Inilah Perceraian dalam Perspektif Islam

0
36
Hotma Sitompul Cerai

Hotma Sitompul Cerai – Kabar mengecewakan datang dari ibunda Bams, vokalis Samsons. Media dihangatkan dengan berita terkait ibunda Bams dengan Hotma Sitompul Cerai.

Hal ini menjadi kabar yang amat menyedihkan untuk Bams. Perceraian adalah salah satu perbuatan yang tidak disukai Allah SWT. Jika masih ada kesempatan untuk diperbaiki, why not?

Perceraian dalam Perspektif Islam

Sobat Cahaya Islam, bergam aspek dalam kehidupan manusia diatur sedemikian rinci dalam syariat Islam. Begitu pun dalam kasus perceraian sekali pun. Tidak akan ada asap tanpa ada api, begitu pun dengan perceraian tentunya bisa disebabkan beragam hal. Lalu, bagaimana perceraian dalam perspektif Islam? Yuk simak informasi lengkapnya!

1.   Pengertian Perceraian

Hakikat perceraian yakni terputusnya ikatan pernikaha yang terjalin antara pasangan suami istri. Ketika hal ini terjadi, hak dan kewajiban yang dimiliki sepasang suami-istri akan gugur dan tidak berlaku lagi.

Artinya, baik suami maupun istri memiliki tanggung jawab masing-masing terhadap dirinya sendiri. Selain itu, keduanya pun dilarang untuk melakukan hubungan intim maupun sentuhan lainnya.

Di dalam Al-Qur’an pun tersirat aturan terkait kehidupan rumah tangga. Pada dasarnya, Islam tidak melarang perceraian, hanya saja perbuatan tersebut tidak disukai oleh Allah SWT. Islam mengajarkan untuk memilih alternatif guna menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Beberapa surat dalam Al-Qur’an menyinggung terkait hukum perceraian, yakni dalam surat Al-Baqarah ayat 227 hingga ayat 232, Ath-Thalaq ayat 1-7.

 وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلَاقَ فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

 “Dan jika mereka berketetapan hati hendak menceraikan, maka sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 227)

2.   Jenis-Jenis Perceraian

Hukum perceraian mengenal istilah talak, yakni gugurnya jalinan pernikahan antara suami-istri karena adanya ucapan yang dilontarkan secara jelas baik dari suami maupun istri. Terdapat beberapa talak yang bisa dilakukan seorang suami. Di antara talak tersebut yakni talak raj’i, talak bain, talak bid’i, dan talak sunni.

a.     Talak Raj’i

Talak Raj’i yakni ucapan sang suami ketika menjatuhkan talak satu atau talak dua terhadap istrinya. Ketika seorang suami melakukan talak raj’i, masih ada kesempatan untuk rujuk, dengan catatan masih dalam masa iddah. Adapun di luar batas masa iddah, diharuskan melakukan akad nikah kembali.

b.     Talak Bain

Selanjutnya, maksud dari talak bain yakni talak tiga yang diucapkan sang suami terhadap istrinya. Kondisi ini tidak memungkinkan keduanya untuk rujuk. Kalau pun ingin rujuk kembali, sang istri harus menikah terlebih dahulu dengan lelaki lain. ketika sang istri bercerai dan lewati masa iddahnya, maka suami yang awal bisa menikahinya kembali.

c.      Talak Bid’i

Adapun talak bid’i yakni kondisi di mana sang suami menjatuhkan talak terhadap sang istri dalam keadaan yang tidak biasanya. Maksudnya, yakni sang istri dalam keadaan haid, atau kondisi di mana sang istri sudah disetubuhi.

d.     Talak Sunni

Selain itu, terdapat talak sunni yang merupakan kebalikan dari talak bid’i. Talak Sunni merupakan talak di mana terucap cerai dari sang suami terhadap istri yang masih suci. Dalam hal ini diartikan, keduanya belum pernah melakukan hubungan antara suami-istri. 

3.   Rukun Perceraian

Ketika jalinan pernikahan sudah tidak bisa diselamatkan dan berakhir dalam perceraian, maka terdapat aturan yang harus dipatuhi. Keberadaan rukun perceraian ini menjadi syarat sahnya perceraian.  Dikatakan sah, ketika perceraian dilakukan oleh pasangan yang berakal sehat, baligh, berdasar pada kemauan sendiri tanpa ada paksaan dan semacamnya.

Sang istri dikatakan sah dalam perceraian, ketika akd nikah yang dilakukan benar-benar sah. Selain itu, sang istri belum dijatuhi talak tiga. Seorang istri dilarang untuk menggugat cerai, jika memang tidak memiliki alasan yang jelas.

Nah, Sobat Cahaya Islam itulah ulasan singkat terkai perceraian dalam perspektif Islam. Semoga senantiasa terhindar dari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah SWT. Berita terkait Hotma Sitompul Cerai, tentu cukup mengecewakan. Namun, jika memang hal itu adalah jalan satu-satunya yang harus dilalui, semoga tidak memberikan madharat bagi pihak yang bersangkutan.

Perceraian dalam Perspektif Islam

Sobat Cahaya Islam, bergam aspek dalam kehidupan manusia diatur sedemikian rinci dalam syariat Islam. Begitu pun dalam kasus perceraian sekali pun. Tidak akan ada asap tanpa ada api, begitu pun dengan perceraian tentunya bisa disebabkan beragam hal. Lalu, bagaimana perceraian dalam perspektif Islam? Yuk simak informasi lengkapnya!

1.   Pengertian Perceraian

Hakikat perceraian yakni terputusnya ikatan pernikaha yang terjalin antara pasangan suami istri. Ketika hal ini terjadi, hak dan kewajiban yang dimiliki sepasang suami-istri akan gugur dan tidak berlaku lagi.

Artinya, baik suami maupun istri memiliki tanggung jawab masing-masing terhadap dirinya sendiri. Selain itu, keduanya pun dilarang untuk melakukan hubungan intim maupun sentuhan lainnya.

Hotma Sitompul Cerai

Di dalam Al-Qur’an pun tersirat aturan terkait kehidupan rumah tangga. Pada dasarnya, Islam tidak melarang perceraian, hanya saja perbuatan tersebut tidak disukai oleh Allah SWT.

Islam mengajarkan untuk memilih alternatif guna menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Beberapa surat dalam Al-Qur’an menyinggung terkait hukum perceraian, yakni dalam surat Al-Baqarah ayat 227 hingga ayat 232, Ath-Thalaq ayat 1-7.

 وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلَاقَ فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

 “Dan jika mereka berketetapan hati hendak menceraikan, maka sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 227)

2.   Jenis-Jenis Perceraian

Hukum perceraian mengenal istilah talak, yakni gugurnya jalinan pernikahan antara suami-istri karena adanya ucapan yang dilontarkan secara jelas baik dari suami maupun istri.

Terdapat beberapa talak yang bisa dilakukan seorang suami. Di antara talak tersebut yakni talak raj’i, talak bain, talak bid’i, dan talak sunni.

a.     Talak Raj’i

Talak Raj’i yakni ucapan sang suami ketika menjatuhkan talak satu atau talak dua terhadap istrinya. Ketika seorang suami melakukan talak raj’i, masih ada kesempatan untuk rujuk, dengan catatan masih dalam masa iddah. Adapun di luar batas masa iddah, diharuskan melakukan akad nikah kembali.

b.     Talak Bain

Selanjutnya, maksud dari talak bain yakni talak tiga yang diucapkan sang suami terhadap istrinya. Kondisi ini tidak memungkinkan keduanya untuk rujuk. Kalau pun ingin rujuk kembali, sang istri harus menikah terlebih dahulu dengan lelaki lain. ketika sang istri bercerai dan lewati masa iddahnya, maka suami yang awal bisa menikahinya kembali.

c.      Talak Bid’i

Adapun talak bid’i yakni kondisi di mana sang suami menjatuhkan talak terhadap sang istri dalam keadaan yang tidak biasanya. Maksudnya, yakni sang istri dalam keadaan haid, atau kondisi di mana sang istri sudah disetubuhi.

d.     Talak Sunni

Selain itu, terdapat talak sunni yang merupakan kebalikan dari talak bid’i. Talak Sunni merupakan talak di mana terucap cerai dari sang suami terhadap istri yang masih suci. Dalam hal ini diartikan, keduanya belum pernah melakukan hubungan antara suami-istri. 

3.   Rukun Perceraian

Ketika jalinan pernikahan sudah tidak bisa diselamatkan dan berakhir dalam perceraian, maka terdapat aturan yang harus dipatuhi. Keberadaan rukun perceraian ini menjadi syarat sahnya perceraian.  Dikatakan sah, ketika perceraian dilakukan oleh pasangan yang berakal sehat, baligh, berdasar pada kemauan sendiri tanpa ada paksaan dan semacamnya.

Sang istri dikatakan sah dalam perceraian, ketika akd nikah yang dilakukan benar-benar sah. Selain itu, sang istri belum dijatuhi talak tiga. Seorang istri dilarang untuk menggugat cerai, jika memang tidak memiliki alasan yang jelas.

Nah, Sobat Cahaya Islam itulah ulasan singkat terkai perceraian dalam perspektif Islam. Semoga senantiasa terhindar dari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah SWT.

Berita terkait Hotma Sitompul Cerai, tentu cukup mengecewakan. Namun, jika memang hal itu adalah jalan satu-satunya yang harus dilalui, semoga tidak memberikan madharat bagi pihak yang bersangkutan.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY