Gak Mudik tapi Wisata ke Ragunan? Makna Wisata di dalam Islam

0
106
ragunan

Ragunan – Tahun ini, pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah telah menerapkan adanya kebijakan penyekatan mudik dan wana wisata tetap dibuka sesuai protokol kesehatan. Tentu saja hal ini telah menarik minat sebagian besar masyarakat Indonesia. Tak ayal, beberapa masyarakat telah melaksanakan second plan untuk berwisata. Salah satu wahana yang diserbu di ibukota yakni Ragunan.

Sobat Cahaya Islam, tidak ada pelarangan secara pasti bagi umat Islam untuk berwisata ke Ragunan. Hanya saja, masyarakat harus tetap waspada agar tidak menjadi korban covid – 19 selanjutnya. Meski sebelumnya sudah mendapatkan jatah vaksin, tetap saja harus waspada. Inilah sifat yang dicintai Allah SWT.

Bagaimana Umat Menyikapi Wisata Ragunan yang Ramai Pengunjung?

ragunan

Sebagai umat muslim yang wara’, seharusnya menjai kelompok yang ikut memberikan sosialisasi baik lewat sosial media maupun kepada sanak saudara. Pasalnya, tujuan dari program penyekatan mudik adalah untuk menekan lonjakan orang yang terjangkit virus corona.

Namun, bila kebijakan pembukaan wisata menjadikan pengunjung saling berdatangan dan tak patuh prokes tentu hal tersebut haruslah dikaji ulang. Hal ini sangat memerlukan peran dari kemenparekraf dan kementerian terkait lainnya.

Apa Makna Wisata yang Sesungguhnya bagi Umat Muslim?

ragunan

Sebagian besar umat, memaknai wisata sebagai upaya untuk menghibur diri setelah masa kerjaan, pendidikan maupun hal lainnya telah usai. Biasanya, ketika umat sedang berwisata mereka juga menganggapnya sebagai waktu berlibur sekaligus waktu berkualitas untuk dirinya.

Benarkah demikian? Sebenarnya. Istilah wisata sendiri tidaklah datang dari Islam. Sebab, liburan versi umat sangat jauh berbeda dengan definisi sekarang. Liburan sejati bagi umat yakni kembali kepada Allah SWT dan memanen hasil amalan yang sudah dilakukan selama di dunia. Ini artinya, fase kehidupan di dunia bukanlah fase liburan bagi umat Islam.

Malah dunia haruslah dianggap sebagai wadah tempat beramal. Semakin banyak amalan dilakukan, semakin banyak hasil yang dipanen di hari pertanggungjawaban. Jika coba diuraikan, tentu amalan ini sangatlah banyak ragamnya.

Mulai dari amalan dasar seperti shalat, puasa, zakat dan amalan nafilah lainnya. Jika sedemikian banyak amalan yang dilakukan, maka sanggupkah diri berwisata ria di luaran sana?

Sobat Cahaya Islam, walaupun makna wisata yang sebenarnya adalah ketika umat telah berpulang ke Allah SWT, umat tetap dapat menikmati wisata di dunia. Pasalnya, mentadabburi ciptaan Allah SWT juga merupakan bagian ajaran Islam.

Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam surat Al Imron ayat 190 yakni :

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.

Semakin banyak ciptaan Allah SWT yang membuat umat takjub, maka semakin kuat iman yang menancap dalam diri. Selain itu, wisata dihukumi sebagai kegiatan mubah. Walaupun demikian, tetaplah umat perlu memperhatikan wisata yang dilakukan akan menjadikan aktivitasna positif atau negatif di mata syariat Islam.

Misalnya, akan menjadi sebuah keharaman jika wisata yang didatangi malah mengajak pada hal yang berbau maksiat seperti wisata karaoke maupun lainnya. Berwisata seperti ke masjid bersejarah ditemani dengan mahramnya tentu akan meningkatkan keimanan dalam diri umat. Sungguh hal tersebut merupakan sebuah keberkahan.

Nah Sobat Cahaya Islam, itulah penjelasan terkait bagaimana umat menyikapi wana wisata tak terkecuali Ragunan. Tentu, berwisata bersama akan menjadi hal yang menyenangkan bila Allah SWT juga meridhoinya. Sebab, ridho dari Allah SWT lah yang melahirkan kebaikan dan rasa bahagia dalam diri setiap umat Islam.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY