Film Jejak Khilafah di Nusantara Dilarang, Apa Makna Khilafah dalam Al-Quran dan Sunnah?

0
43

Film Jejak Khilafah di Nusantara – Perdana tayang secara virtual pada Kamis, 20/8/2020 lalu menuai polemik di kalangan masyarakat. Pada penayangan perdananya, film Jejak Khilafah di Nusantara di blokir dan tidak dapat di akses. Pemblokiran film ini diduga akibat adanya beberapa keluhan dari pemerintah.

Bahkan mirisnya, ada yang mengaitkan film ini dengan organisasi ISIS dan tindak terorisme. Wasekjen MUI, Tengku Zulkarnain yang akrab disapa Tengku Zul merasa geram dengan tindakan pemerintah yang melakukan pemblokiran pada film tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa film dokumenter tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan ISIS maupun terorisme. Lantas, apa sebenarnya isi dari film Jejak khalifah di Nusantara ini sehingga di blokir pemerintah?

Ternyata, film dokumenter yang disutradarai oleh Niko Pandawa ini mengusung tema mengenai hubungan kekhalifahan Islam dengan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara seperti Samudera Pasai. Ia juga menyampaikan bahwa film ini merupakan hasil riset panjang ke seluruh wilayah Nusantara, mulai dari Aceh sampai Ternate.

Sampai saat ini, belum ada konfirmasi serta penjelasan dari pemerintah terkait alasan di blokirnya film dokumenter tersebut.

Film Jejak Khilafah di Nusantara dicekal, Begini Makna Khilafah dalam Al-Quran dan Sunnah!

  1. Khilafah dalam Al-Quran

Khilafah dalam konsep pemerintahan Islam merupakan bahasa politik Islam yang diambil langsung dari nash Al-Quran dan sunnah-sunnah nabi. Kata khilafah berasal dari kata khalfun yang berarti belakang, yang kemudian terpecah dan membentuk turunan kata seperti:

Khalfun; generasi pengganti yang berprilaku buruk.

Khulafa;pewaris bumi setelah kaum yang dibinasakan.

Al Khalaif; kaum yang datang sebagai pengganti kaum lama yang berkuasa.

Khalifah; seseorang yang diberi mandat sebagai penguasa bumi.

Dari keempat turunan kata khalfun tersebut, yang menjadi pusat pembahasan kita kali ini adalah poin keempat. Yakni makna khilafah sebagai seseorang yang diberikan kedudukan sebagai penguasa bumi.

Sobat Cahaya Islam, dalam Al-Quran Allah telah banyak menyebutkan mengenai khilafah beserta kepemimpinan. Salah satunya dalam surah Al-Baqarah ayat 30, khilafah dimaknai sebagai mandat yang diberikan oleh Allah kepada manusia sebagai penguasa bumi dan pemimpin bagi umat manusia lainnya.

“Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada Malaikat : “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Para Malaikat berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang-orang yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji nama-Mu dan mensucikan Engkau? Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

  1. Khilafah dalam Sunnah dan Hadits Nabi

Istilah Khalifah dalam hadits Nabi lebih banyak disebutkan daripada dalam Al-Quran, dan penjelasannya lebih rinci. Disini disebutkan lebih tegas mengenai makna khalifah dalam konteks kepemimpinan.

Dari Abu Hazim, beliau berkata “Saya pernah duduk (menjadi murid) Abu Hurairah selama lima tahun, saya pernah mendengar dia menceritakan Rasulullah SAW, beliau bersabda: ‘Dahulu Bani Israil selalu dipimpin oleh seorang Nabi, setiap Nabi meninggal maka akan digantikan oleh seorang Nabi lain sesudahnya. Dan sungguh tiada Nabi lain setelahku, namun yang ada adalah para khalifah (kepala kepemimpinan) yang akan berbuat banyak kerusakan dan dosa….’ (Shahih Muslim No:3429)

Dari penjelasan diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwasanya khilafah merupakan mandat yang diberikan Allah kepada manusia sebagai seorang pemimpin. Konteks pemimpin ini dapat dimaknai dengan dua perspektif berbeda.

Konteks pertama adalah kekhalifahan yang bersifat umum, yakni seluruh manusia adalah khalifah yang dipilih oleh Allah sebagai pemimpin atas makhluk lainnya yang ada di bumi. Sedangkan konteks khalifah yang kedua lebih khusus, yakni kepemimpinan manusia terhadap manusia lainnya.

Dalam konteks kedua, tidak semua manusia dapat dikatakan sebagai seorang khalifah. Ada kriteria tertentu yang telah ditetapkan syariat, hanya orang-orang terpilih yang dapat menduduki posisi ini.

Bentuk kekhalifahan inilah yang telah disebutkan dalam hadits Nabi diatas, yang kemudian diterapkan dalam sistem pemerintahan Islam, atau dikenal juga dengan sebutan khilafah syar’iyah yakni kepemimpinan berdasarkan hukum dan syariat-syariat Islam.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!