Bolehkah mandi wiladah dan nifas disekalikan – Karena tidak mau ribet dan ingin segera kembali beribadah, terkadang ada yang menggabungkan dua niat mandi besar jadi satu, misalnya niat mandi wiladah dan nifas. Lantas bolehkah mandi wiladah dan nifas disekalikan?.
Membahas mengenai mandi besar atau mandi wajib, sebaiknya tidak melakukannya secara sembarangan. Takutnya malah akan membuat seluruh ibadah yang dilakukan dianggap tidak sah.
Penjelasan Mengenai Bolehkan Mandi Wiladah dan Nifas Disekalikan
Mandi besar karena wiladah dan nifas merupakan suatu kewajiban seorang muslimah agar diperbolehkan melaksanakan ibadah wajib kembali.
Berdasarkan penjelasan yang diambil dari Fath Al Mu’in, I’anah Al Thalibin, dan Nail Al Raja’, dikatakan bahwa mandi besar adalah kewajiban yang bersifat bisa ditunda. Maksud ditunda di sini bukan diniatkan untuk mengabaikan ibadah wajib, tetapi karena situasi darurat.


Sebab, salah satu syarat diperbolehkan mandi besar adalah bebas dari hadas besar. Jadi seseorang tidak diperbolehkan melaksanakan mandi wajib sementara masih menanggung hadas besar.
Berdasarkan pendapat Imam An-Nawawi RA, jika seorang perempuan mandi wiladah dalam keadaan masih nifas, maka dianjurkan untuk menunggu nifasnya selesai terlebih dahulu. Jadi dapat disimpulkan bahwa diperbolehkan mandi wiladah dan nifas disekalikan.
Dasar Hukum Mandi Wajib
Wiladah dan nifas merupakan kondisi yang mengharuskan perempuan untuk melaksanakan mandi wajib. Hal ini dijelaskan dalam surah An Nisa ayat 43 yang berbunyi sebagai berikut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْتُمْ سُكٰرٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ وَلَا جُنُبًا اِلَّا عَابِرِيْ سَبِيْلٍ حَتّٰى تَغْتَسِلُوْاۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُوْرًا ٤٣
Lafadz latin: yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ taqrabush-shalâta wa antum sukârâ ḫattâ ta‘lamû mâ taqûlûna wa lâ junuban illâ ‘âbirî sabîlin ḫattâ taghtasilû, wa ing kuntum mardlâ au ‘alâ safarin au jâ’a aḫadum mingkum minal-ghâ’ithi au lâmastumun-nisâ’a fa lam tajidû mâ’an fa tayammamû sha‘îdan thayyiban famsaḫû biwujûhikum wa aidîkum, innallâha kâna ‘afuwwan ghafûrâ
Terjemah: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mendekati salat, sedangkan kamu dalam keadaan mabuk sampai kamu sadar akan apa yang kamu ucapkan dan jangan (pula menghampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub, kecuali sekadar berlalu (saja) sehingga kamu mandi (junub). Jika kamu sakit, sedang dalam perjalanan, salah seorang di antara kamu kembali dari tempat buang air, atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapati air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci). Usaplah wajah dan tanganmu (dengan debu itu). Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”


Mandi wajib harus dilaksanakan oleh seseorang yang menanggung hadas besar. Tanpa melakukan mandi wajib, maka orang itu tidak diperbolehkan melaknsakan sholat. Dalilnya ada dalam surah al-Maidah ayat 6, yaitu:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُۗ مَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ٦
Lafadz latin: yâ ayyuhalladzîna âmanû idzâ qumtum ilash-shalâti faghsilû wujûhakum wa aidiyakum ilal-marâfiqi wamsaḫû biru’ûsikum wa arjulakum ilal-ka‘baîn, wa ing kuntum junuban faththahharû, wa ing kuntum mardlâ au ‘alâ safarin au jâ’a aḫadum mingkum minal-ghâ’ithi au lâmastumun-nisâ’a fa lam tajidû mâ’an fa tayammamû sha‘îdan thayyiban famsaḫû biwujûhikum wa aidîkum min-h, mâ yurîdullâhu liyaj‘ala ‘alaikum min ḫarajiw wa lâkiy yurîdu liyuthahhirakum wa liyutimma ni‘matahû ‘alaikum la‘allakum tasykurûn
Terjemah: Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki. Jika kamu dalam keadaan junub, mandilah. Jika kamu sakit, dalam perjalanan, kembali dari tempat buang air (kakus), atau menyentuh perempuan, lalu tidak memperoleh air, bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menjadikan bagimu sedikit pun kesulitan, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu bersyukur.
Jawaban mengenai bolehkah mandi wiladah dan nifas disekalikan yang disampaikan di atas diambil dari penjelasan Buya Yahya. Dalam sebuah potongan video di YouTube, Buya Yahya menjelaskan bahwa boleh menggabungkan 4 mandi wajib dalam satu niat.

































