Birgaldo Sinaga Tiada, Memaknai Kematian dalam Islam

0
135

Birgaldo Sinaga – Birgaldo Sinaga tiada setelah cukup lama berjuang melawan virus covid-19 dalam dirinya. Sosoknya mulai dikenal publik ketika gencar menyuarakan keadilan bagi Ahok dalam kasus penistaan agama. Sebelumnya, sosok ini sudah dikenal sebagai pegiat media sosial serta aktivis toleransi. Ia selalu menjadi sosok di garda terdepan untuk membela yang menurutnya benar.

Sobat Cahaya Islam, kematian adalah suatu kepastian tak terkecuali bagi Birgaldo Sinaga. Kematian hanya istilah bagi umat yang masih diberikan jatah usia untuk hidup di dunia. Padahal, sebenarnya kematian adalah fase perpindahan dari alam dunia menuju alam akhirat. Di alam itulah, umat akan menunggu datangnya hari pembalasan beserta mempertanggungjawabkan amalannya di dunia.

Bagaimana Umat Seharusnya Memaknai Kematian?

birgaldo Sinaga

Sobat Cahaya Islam, kematian haruslah dimaknai sebagai pengingat terbaik. Bahkan, Allah SWT juga telah memberikan kemuliaan bagi umat yang senantiasa mengingat kematian. Selain itu, mengingat kematian menjadikan umat senantiasa berhati – hati dalam melakukan amalan. Sikap kehati – hatian seperti ini diistilahkan sebagai sikap yang wara’.

Hal ini sesuai dengan penyampaian Rasulullah SAW yakni dalam haditsnya yakni :

فضل العلم خير من فضل العبادة وخير دينكم الورع

“Keutamaan menuntut ilmu itu lebih dari keutamaan banyak ibadah. Dan sebaik-baik agama kalian adalah sifat wara’” (HR. Ath Thobroni dalam Al Awsath, Al Bazzar dengan sanad yang hasan. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib 68 mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirih.)

Wara’ akan menjadikan umat terbebas dari aktivitas yang liberal (bebas). Maksud dari aktivitas liberal sendiri yakni tidak melibatkan Allah SWT dalam segala aktivitasnya. Padahal Allah SWT Sang Maha Melihat Segala Sesuatu meski dilakukan di tempat tersembunyi sekalipun.

Namun jika sikap wara’ ini tidak tertancap dalam diri masyarakat, maka dosa tak akan mampu terendus dalam diri. Apalagi, jika kematian tidak pernah masuk ke dalam bahasan muhasabah diri. Tentu umat akan mengalami kerugian.

Fenomena ketidakmunculan sikap wara’ dalam diri umat sebenarnya sudah dikabarkan sejak Rasulullah SAW masih hidup. Dalam haditsnya, beliau menyampaikan bahwa umat akan lebih mencintai kehidupan dunia dan takut maut. Sehingga, alih – alih meningkatkan keimanan serta amalan untuk persiapan bekal kematian maka umat malah sibuk memperhatikan urusan dunia.

Apa Dampak yang Dirasakan Umat bila Lalai dalam Kematian?

birgaldo Sinaga

Salah satu dampaknya bagi umat muslim yakni, merasa bahwa dirinya seolah – olah abadi. Sehingga, seringkali meninggalkan amalan kebaikan berbuah akhirat. Padahal, Rasulullah SAW telah mengabarkan bahwa jika urusan akhirat yang dikerjakan, maka umat harus merasa bahwa seolah – olah akan dimatikan besok.

Namun jika terkait urusan dunia, maka seharusnya umat merasa bahwa mereka akan dihidupkan selama – lamanya. Hal tersebut bukan berarti mengajarkan kepada umat bahwa harus menunda urusan dunia. Perlu diingat, urusan keduniawian merupakan amanah yang dipercayakan kepada umat. Hanya saja, prioritas dalam pengerjaannya perlu lebih mendahulukan urusan akhirat.

Selain itu, umat tidak akan merasa memiliki dosa yang besar. Kematian akan menjadi penghalang bagi umat untuk melakukan hal – hal yang berbau maksiat. Namun, hal tersebut tidak akan terjadi manakala umat tak seringkali merenungi kematian. Alih – alih muhasabah, umat lebih cenderung terperosok pada jurang kemaksiatan karena jalannya lebih mudah.

Nah Sobat Cahaya Islam, itu tadi ulasan mengenai pemaknaan kematian dalam Islam tak terkecuali bagi keluarga yang ditinggalkan oleh Birgaldo Sinaga. Semoga umat yang masih hidup di dunia, dapat senantiasa menjadikan kematian sebagai perenungan terbaik agar dicintai Allah SWT dan terhindar dari perbuatan maksiat.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY