Bagimu agamamu bagiku agamaku – Sobat Cahaya Islam, bagimu agamamu bagiku agamaku merupakan sebuah ungkapan Al-Qur’an yang masyhur. Sesungguhnya ungkapan ini adalah terjemahan dari Surah Al-Kafirun ayat 6.
Surah Al-Kafirun merupakan surah Makkiyah yang terdiri dari 6 ayat. Surah ini turun sesudah Surah Al-Ma’un. Banyak yang mengaitkan surah tersebut dengan toleransi Islam terhadap agama lain. Apakah benar demikian adanya?
Asbabun Nuzul Ayat Bagimu Agamamu Bagiku Agamaku
Surat ini turun setelah kaum kafir Quraisy mengajak Rasulullah saw untuk menyembah berhala-berhala mereka selama satu tahun. Selanjutnya mereka akan menyembah Allah Ta’ala selama satu tahun.
Karenanya turunlah Surah Al-Kafirun berikut,
“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukannya penyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak pernah jadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah jadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”1
Toleransi atau Bara’ah?
Sebelum menelaah lebih jauh, ada baiknya Sobat simak dahulu mengenai makna toleransi. Pemahaman makna yang benar dapat menghindarkan dari kesalahan persepsi.


Dalam KBBI, toleransi memiliki tiga makna. Adapun ketiga maknanya adalah:
- Sifat atau sikap toleran.
- Batas ukuran untuk suatu penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan.
- Penyimpangan yang masih dapat diterima.
Dari uraian di atas, dapat Sobat temukan pemahaman bahwa toleransi adalah penerimaan. Dalam hal toleransi beragama maka maknanya menjadi penyimpangan atau penambahan dan pengurangan dalam agama yang masih dapat diterima.
Jadi sebenarnya kurang tepat jika mengaitkan Surah Al-Kafirun dengan toleransi beragama. Sesungguhnya Islam tidak pernah menerima penyimpangan-penyimpangan aqidah agama lainnya. Demikian juga para penganut agama lain, tidak pernah menerima kebenaran tauhid. Karenanya toleransi beragama sesungguhnya tidak pernah bisa terjadi.
Tinjauan Tafsir
Tafsir Surah Al-Kafirun tidak menunjukkan pengakuan atau penerimaan terhadap aqidah-aqidah batil. Sebaliknya ayat-ayat tersebut menyatakan pemutusan hubungan (bara’ah) dan berlepas diri dari kesyirikan.
Untuk memahami selengkapnya, Sobat Cahaya Islam dapat menyimak nukilan tafsir Surah Al-Kafirun berikut ini:
1. Tafsir Ibnu Katsir


Surah ini menyatakan pembebasan diri dari apa perbuatan orang-orang musyrik. Di samping itu, surah ini juga memerintahkan untuk membersihkan diri sebersih-bersihnya dari segala bentuk kemusyrikan.
Rasulullah saw berlepas diri dari orang-orang kafir dalam semua perbuatan mereka. Sesungguhnya seorang hamba memiliki Tuhan yang dia sembah dan cara ibadahnya sendiri. Rasul dan orang-orang beriman menyembah Allah ‘Azza wa Jalla sesuai dengan perintah-Nya.
Untuk itulah kalimat Laa ilaha illallah, Muhammad Rasulullah. Tidak ada yang berhak disembah selain Allah Ta’ala dan tidak ada jalan menuju kepada-Nya selain dari apa yang Rasulullah saw sampaikan.
Adapun orang-orang musyrik menyembah selain Allah dengan cara penyembahan yang tidak mendapat izin-Nya. Karena itulah Rasulullah saw bersabda kepada mereka,
“Untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku.” 2
2. Tafsir Ibnu Abbas
Ibnu Abbas memberikan keterangan mengenai Surah Al-Kafirun,
“Tidak ada surah dalam Al-Qur’an yang lebih keras kebenciannya terhadap Iblis daripada surah ini. Karena surah ini mengandung tauhid sekaligus bara’ah terhadap kesyirikan.” 3
Peninjauan tafsir tersebut menjelaskan bahwa Surah Al-Kafirun bukanlah surah pengakuan atau penerimaan terhadap aqidah batil. Sebaliknya surah tersebut menyatakan pemutusan hubungan dan berlepas diri dari kekufuran dan para pelakunya.
Saling menerima antara agama tauhid dan agama lainnya memang tidak akan pernah terjadi. Yang bisa mewujud hanyalah hidup berdampingan, saling membiarkan, dan tidak saling mengganggu.
Sekian, Sobat Cahaya Islam, penjelasan tentang ayat bagimu agamamu bagiku agamaku. Semoga menambah pemahaman dan wawasan Sobat semua. Salam.































