Ada Apa Dengan Nasi Padang Babi?

0
211
Nasi Padang Babi

Nasi Padang Babi – Nasi Padang Babi merupakan hal yang aneh. Padang adalah kota di Sumatera Barat yang bersuku Minang kabau. Padang merupakan kota yang kaya dengan adat istiadat, budaya serta makanan khasnya. Suku Minang sebagai suku di padang mempunyai semboyan , “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”  yang artinya adat bersendi agama, agama bersendi kitabullah.

Dari semboyan tersebut kita bisa melihat betapa dekatnya kehidupan suku Minang dengan Islam. Kitabullah yang dimaksud dalam semboyan tersebut adalah Al-qur’an. Sobat Cahaya Islam, apakah sudah ada yang pernah berkunjung ke padang atau Sumatera barat?.

Kedekatan kehidupan masyarakat Minang dengan Islam bukan hanya sekedar semboyan. Kedekatan itu terbukti dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu cerminan nya adalah masakan Padang adalah pasti makanan halal, dari bahan, proses pengolahan dan penyajiannya. Maka meski diakui hanya sebagai inovasi tetap tidak bisa diterima oleh masyarakat suku Minang.

Bolehkah Menjual Nasi Padang Babi Pada Non Muslim?

Sobat cahaya Islam, tentu banyak yang berpikir bahwa Padang sebagai sebuah budaya dan Padang sebagai jenis masakan bukan hal yang bisa disamakan. Padang dalam hal budaya yang dekat dengan  Islam yang menerapkan nilai-nilai Islam tidak serta merta membuat makanan nya juga harus demikian.

 Banyak yang berpendapat bahwa menjual Nasi Padang Babi boleh-boleh saja asal diinformasikan dengan jelas agar pembeli tidak merasa tertipu. Tapi tentu saja yang paling berhak menentukan boleh tidaknya adalah pemiliknya, dalam hal ini masyarakat suku Minang.

Mereka berhak jika ingin menerapkan syariat Islam secara kaffah mencakup segala sektor dalam kehidupan. Terutama dalam hal makanan, sesuatu yang masuk kedalam tubuh dan mengalir dalam darah. Karena ada dalil yang menyebutkan demikian.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya, “Wahai orang yang beriman, masuklah kamu semua ke dalam Islam. janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kalian.  Surat Al-Baqarah ayat 208

Manfaat Makanan Halal Dalam Islam

Memakan makanan yang halal dalam Islam adalah merupakan perintah dari Allah SWT. Allah SWT memerintahkan untuk memakan makanan yang baik. Makanan yang baik dan halal memberikan manfaat pada manusia diantaranya adalah terkabulnya do’a dan mengalir keberkahan.

1.      Terkabulnya Do’a

Nasi Padang Babi

Allah Ta’ala berfirman, ’Wahai para rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik, dan kerjakanlah kebajikan’ –Qs al-Mu’minûn/23 ayat 51

Salah satu sebab terkabulnya do’a adalah karena terjaganya makanan yang kita makan. Terjaga yang dimaksud adalah kita harus memastikan bahwa makanan yang kita makan adalah makan yang halal. Baik halal cara mendapatkan maupun halalnya makanan itu sendiri.

 Jika makanan yang halal adalah salah satu jaminan do’a terkabul maka wajar jika ada yang bersikeras menolak Nasi Padang Babi dan  inovasi-inovasi terhadap makanan yang dikhawatirkan menimbulkan kerancuan ditengah masyarakat. Adapun beberapa syarat makanan halal antara lain adalah;

  1. Terjaga dari zat-zat yang telah diharamkan oleh Allah SWT.
  2. Diperoleh dengan cara yang halal dan tidak melanggar syari’at.
  3. Proses pengolahan dan penyajian dilakukan dengan cara yang halal.
  4. Penyimpanan atau pengawetan pada makanan-makanan tertentu tetap harus memerhatikan unsur kehalalan.

Itulah beberapa syarat makanan halal dalam Islam. Tiap-tiap muslim wajib memastikan kehalalan dari setiap produk terutama makanan. Baik untuk dikonsumsi oleh dirinya sendiri atau untuk diperjual belikan dan dikonsumsi orang lain.

2.      Mengalir Keberkahan

Nasi Padang Babi

Manfaat makanan halal selanjutnya adalah keberkahan yang mengalir. Keberkahan yang mengalir akan membuat tubuh menjadi sehat, ringan melakukan amalan soleh dan lembut hati serta lisan. Dan masih banyak lagi manfaat dari keberkahan lainnya.

Kita sebagai umat Islam penting sekali untuk menjalankan perintah dan meninggalkan apa sudah jelas larangannya, seperti halnya larangan memakan daging Babi. Sebagaimana dalam ayat di bawah ini yang menerangkan dengan jelas keharamannya.

اِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ بِهٖ لِغَيْرِ اللّٰهِ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَلَآ اِثْمَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Al-Baqarah: 173.

Sobat Cahaya Islam, apa yang sudah jelas keharamannya tentu tidak bisa kita ubah menjadi halal. Islam tidak melarang berinovasi tetapi tetap memerhatikan ketentuan syari’at. Dan yang paling penting adalah kita mengetahui bahwa Nasi Padang Babi haram bagi muslim.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY