Peringatan Hari Disabilitas Internasional: Penyandang Disabilitas di Mata Islam

0
740
Hari Disabilitas Internasional

Hari Disabilitas Internasional – Setiap tanggal 3 Desember, seluruh dunia ini memperingati Hari Disabilitas Internasional. Terdapat tujuan tertentu mengapa ada hari peringatan tersebut di seluruh dunia.

Adapun salah satu tujuannya yaitu memberikan dukungan dan perlindungan kepada para penyandang disabilitas yang ada di seluruh dunia. Pasalnya para penyandang disabilitas kerap orang pandang sebelah mata.

Padahal para disabilitas alias difabel sama-sama makhluk ciptaan Allah dengan semua kelebihan dan kekurangannya. Pada peringatan di tahun 2022 ini, terdapat tema tertentu yang berfokus terhadap penegakan hak asasi manusia.

Selain itu, tema peringatan Hari Disabilitas Internasional 2022 juga terkait pembangunan berkelanjutan juga perdamaian dan keamanan untuk para penyandang disabilitas. Peringatan tersebut juga sebagai komitmen untuk mewujudkan keadilan dan hak bagi para penyandang disabilitas yang ada di seluruh dunia.

Peringatan hari disabilitas sedunia ini pertama kali hadir pada tahun 1992 silam oleh Resolusi Majelis Umum PBB. Kala itu, peringatan tersebut bertujuan agar bisa meningkatkan kesadaran terkait masalah yang para kaum difabel hadapi.

Di mana masalah tersebut mencakup semua aspek kehidupan baik sosial, politik, ekonomi serta budaya di semua  negara dunia.

Memperingati Hari Disabilitas Internasional: Penyandang Difabel Dalam Islam

Dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional, Sobat Cahaya Islam sebagai muslim yang baik perlu memahami tentang penyandang difabel di mata agama islam.

Menurut perspektif islam sendiri, para penyandang disabilitas identik dengan beberapa istilah tersendiri, istilah tersebut yaitu dzawil ahat, dzawil a’dzar, orang yang memiliki keterbatasan, mempunyai uzur dan berkebutuhan khusus.

Dalam Al Quran, Hadits serta pendapat ulama sekalipun secara tegas menyampaikan pembelaan mereka terhadap para penyandang disabilitas. Hal ini tertuang dalam QS An Nur ayat 61 yang berbunyi:

 لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَى حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَنْ تَأْكُلُوا مِنْ بُيُوتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ آبَائِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أُمَّهَاتِكُمْ … (النور: 61)

Artinya, “Tidak ada halangan bagi tunanetra, tunadaksa, orang sakit, dan kalian semua untuk makan bersama dari rumah kalian, rumah bapak kalian atau rumah ibu kalian …” (Surat An-Nur ayat 61).

Lebih spesifik, di dalam Al Quran menegaskan kesetaraan sosial bagi penyandang disabilitas dan orang biasa pada umumnya. Adapun para penyandang disabilitas harus mendapat perlakukan yang sama dan kita terima secara tulus tanpa adanya diskriminasi dalam setiap kehidupan sosial.

Hari Disabilitas Internasional

Selain itu ada juga surat Ábasa ayat 1-11 yang berbunyi:

    عَبَسَ وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4) أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى (5) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى (6) وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى (7) وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى (8) وَهُوَ يَخْشَى (9) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى (10) كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ (11) … (عبس/1-11)

 Artinya, “Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling. Karena seorang tuna netra telah datang kepadanya. Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali ia ingin menyucikan dirinya (dari dosa). Atau ia ingin mendapatkan pengajaran yang memberi manfaat kepadanya. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy), maka engkau (Muhammad) memperhatikan mereka. Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau ia tidak menyucikan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sementara ia takut kepada Allah, engkau (Muhammad) malah mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu). Sungguh (ayat-ayat/surat) itu adalah peringatan. …” (Surat ‘Abasa ayat 1-11)

Di mana para ulama mufassirin meriwayatkan bahwasanya surat Ábasa turun berkaitan dengan salah satu sahabat disabilitas datang kepada Rasulullah SAW untuk memohon bimbingan agama islam tetapi dia abaikan.

Lalu turunlah surat Ábasa kepada beliau sebagai bentuk peringatan supaya memperhatikannya walaupun tunanetra. Bahkan beliau harus lebih memperhatikannya daripada kalangan pemuka Quraisy.

Dari kedua ayat Al Quran tersebut semakin jelas jika islam begitu memperhatikan para penyandang disabilitas dan menerimanya secara setara seperti manusia lainnya.

Etika Berinteraksi Dengan Para Penyandang Disabilitas

Sebagai masyarakat awam, Sobat Cahaya Islam wajib tahu cara memperlakukan para penyandang disabilitas dengan benar. Dengan demikian mereka tidak akan tersinggung dan tetap merasa sama dengan diri kita sendiri melalui cara:

1.       Bertanya Sebelum Menawarkan Bantuan

Reaksi pertama orang saat berjumpa dengan kaum difabel yaitu berusaha menolong. Namun supaya tidak menyinggung perasaan mereka, ada baiknya tanyakan terlebih dahulu sebelum memberikan bantuan.

2.       Menjaga Tindakan dan Ucapan

Sobat Cahaya Islami juga perlu memperlakukan para penyandang disabilitas dengan santun. Harap jaga selalu ucapan dan tindakan agar tidak membuat perasaannya terluka.

Itulah informasi tentang Hari Disabilitas Internasional dan bagaimana islam memperlakukan para penyandang disabilitas.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY