Takut tidak sempat berbakti kepada orang tua – Pernahkah Sobat terbangun di sepertiga malam dengan dada sesak, dibayangi oleh ketakutan. Sadar bahwa waktu berjalan terlalu cepat sementara belum memberikan apa pun untuk ayah dan ibu tentu jadi beban berat. Perasaan takut tidak sempat berbakti kepadaorang tua adalah refleksi dari keimanan yang hidup di dalam jiwa seorang muslim.
Jemput Berkah Lawan Takut Tidak Sempat Berbakti Kepada Orang Tua
Mengingat usia orang tua yang kian senja dan keterbatasan waktu, kecemasan tidak sempat berbakti sangat manusiawi. Namun, Islam tidak membiarkan umatnya larut dalam kekhawatiran yang melumpuhkan. Sebaliknya, Islam memberikan jalan keluar yang indah agar rasa takut tersebut menjelma menjadi energi amal saleh yang nyata, antara lain:
1. Mengubah Kecemasan Menjadi Aksi Nyata
Rasa cemas yang Sobat biarkan tanpa tindakan hanya akan menjadi bisikan setan agar rasa putus asa kian memuncak. Dalam pandangan Islam, obat pertama untuk mengatasi rasa takut tidak sempat berbakti kepada orang tua adalah dengan memaksimalkan momentum hari ini. Jangan menunggu mapan secara finansial untuk membahagiakan mereka.
Sebab, seseorang yang mendapati orang tuanya masih hidup tetapi tidak membuatnya masuk surga termasuk rugi. Oleh karena itu, mulailah dari hal kecil, contohnya berikan perlakuan hangat, dengarkan cerita mereka dengan penuh perhatian. Selain itu, Sobat bisa penuhi kebutuhan harian mereka semampunya.
Ketika Sobat bergerak aktif memanfaatkan waktu yang tersisa, kecemasan itu perlahan akan memudar dan berganti menjadi ketenangan jiwa.
2. Pintu Berbakti Tidak Pernah Tertutup
Salah satu kesalahpahaman yang sering memicu rasa takut tidak sempat berbakti kepada orang tua adalah anggapan bahwa bakti terputus saat ajal tiba. Islam adalah agama yang penuh rahmat. Jika takdir berkata bahwa waktu mereka di dunia telah habis, Allah SWT tetap membuka pintu bakti selebar-lebarnya melalui jalur langit.


Bentuk bakti seorang anak setelah orang tuanya wafat yakni dengan memohonkan ampun. Selain itu, Sobat juga bisa menunaikan janji orang tua setelah wafat. Memuliakan teman mendiang orang tua juga termasuk menyambung silaturahmi. Mengetahui prinsip ini seharusnya mengikis rasa takut kita, karena kesempatan berbakti itu sejatinya abadi.
3. Melatih Diri untuk Ikhlas dan Tawakal
Terkadang, rasa takut tidak sempat berbakti kepada orang tua muncul karena terikat oleh jarak, pekerjaan, atau keterbatasan ekonomi. Permasalahan-permasalahan tersebut yang membuat Sobat tidak bisa mendampingi mereka setiap saat. Di sinilah pentingnya menanamkan sikap tawakal.
Sadarilah bahwa umur, pertemuan, dan perpisahan berada di bawah kendali mutlak Allah SWT. Tugas manusia hanyalah berusaha optimal pada ruang yang bisa dikendalikan. Titipkan orang tua kita kepada Allah melalui doa-doa di sujud terakhir.
Ingatlah bahwa ketulusan niat Sobat untuk berbakti, meskipun terhalang oleh keadaan, sudah tercatat sebagai pahala yang sempurna di sisiNya, sebagaimana hadits:

































