Bagaimana Islam Memandang Rasa Bersalah Setelah Melakukan Dosa?

0
3
rasa bersalah setelah melakukan dosa

Rasa bersalah setelah melakukan dosa – Bagaimana Islam memandang rasa bersalah setelah melakukan dosa menjadi hal penting untuk dipahami seorang Muslim. Perasaan menyesal setelah melakukan maksiat bukan selalu pertanda buruk. Justru, rasa bersalah dapat menjadi tanda bahwa hati masih memiliki kepekaan terhadap kesalahan dan mendorong seseorang untuk kembali kepada Allah SWT.

Bagaimana Islam Memandang Rasa Bersalah Setelah Melakukan Dosa?

Dalam ajaran Islam, persoalan yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika seseorang berulang kali melakukan dosa hingga maksiat tersebut terasa biasa. Rasa takut perlahan menghilang, penyesalan semakin berkurang, bahkan seseorang mulai mencari alasan untuk membenarkan perbuatannya.

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa seseorang dapat terus melakukan dosa hingga kesalahan tersebut terasa ringan dalam hatinya. Kondisi itu justru menjadi sesuatu yang perlu Sobat waspadai karena dosa yang kecil di hadapan manusia belum tentu kecil di sisi Allah SWT. Hal ini menunjukkan bagaimana Islam memandang rasa bersalah setelah melakukan dosa. 

Seorang mukmin seharusnya tidak menganggap penyesalan sebagai sesuatu yang harus dihindari. Sebaliknya, perasaan tersebut dapat menjadi dorongan untuk meninggalkan maksiat dan memperbaiki diri.

Abdullah bin Mas’ud RA juga menggambarkan perbedaan sikap seorang mukmin dan orang yang terbiasa melakukan maksiat. Seorang mukmin ibarat orang yang duduk di bawah gunung dan khawatir gunung tersebut menimpanya. Sementara orang yang gemar berbuat dosa menganggap kesalahannya seperti lalat yang hinggap di hidung lalu pergi begitu saja.

Artinya, seorang Muslim tetap bisa terjatuh dalam kesalahan. Namun, hati seharusnya tidak kehilangan rasa takut dan penyesalan setelah melakukan dosa.

Mengapa Orang Bisa Meremehkan Dosa?

Orang fajir menggambarkan hati yang telah kehilangan kepekaan, sehingga dosa hanya lewat begitu saja dengan alasan berikut ini:

1. Kebiasaan Maksiat Bisa Mengikis Kepekaan Hati

Dosa yang terus Sobat ulang dapat membuat seseorang semakin terbiasa. Awalnya muncul rasa bersalah, kemudian seseorang mulai mencari pembenaran. Jika terus dilakukan, kesalahan tersebut akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang normal. Al-Qur’an menyebut kondisi hati yang tertutup akibat perbuatan dosa sebagaimana ayat:

rasa bersalah setelah melakukan dosa

Oleh karena itu, bagaimana Islam memandang rasa bersalah setelah melakukan dosa tidak dapat dilepaskan dari anjuran untuk segera bertobat. Rasa bersalah seharusnya tidak berhenti pada perasaan sedih, tetapi dilanjutkan dengan meninggalkan dosa, memohon ampun dan berusaha tidak mengulanginya.

Islam juga mengingatkan agar umat tidak meremehkan dosa kecil. Kesalahan yang sepele dapat menumpuk apabila terus Sobat lakukan. 

2. Mudah Berputus Asa

Rasa bersalah setelah melakukan dosa juga tidak seharusnya membuat seseorang berputus asa dari rahmat Allah SWT. Seorang Muslim justru harus segera memperbaiki diri dan memohon ampun. Bagaimana Islam memandang rasa bersalah setelah melakukan dosa pada akhirnya berkaitan dengan sikap seseorang setelah menyadari kesalahannya. 

Penyesalan yang mendorong pertobatan merupakan sesuatu yang berbeda dengan rasa bersalah yang membuat seseorang merasa tidak memiliki harapan. Seorang Muslim juga tidak seharusnya merasa aman hanya karena Allah Maha Pengampun, lalu sengaja terus melakukan maksiat. 

Hal yang justru perlu Sobat waspadai adalah ketika dosa tidak lagi menimbulkan penyesalan. Sebab, saat maksiat mulai terasa biasa, seseorang berisiko kehilangan kepekaan terhadap kesalahan, Harapan terhadap ampunan harus disertai usaha untuk meninggalkan dosa. 

rasa bersalah setelah melakukan dosa

Dengan demikian, bagaimana Islam memandang rasa bersalah setelah melakukan dosa dapat Sobat pahami sebagai bagian dari proses introspeksi. Rasa bersalah dapat menjadi alarm agar seseorang berhenti, bertobat dan kembali mendekat kepada Allah.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY