Peringatan Supersemar Bukti Peralihan Kekuasaan, Inilah Larangan untuk Mengejar Kekuasaan dalam Perspektif Islam!

0
42

Supersemar – Setiap tanggal 11 Maret diperingati Supersemar yang memiliki kepanjangan Surat Perintah 11 Maret. Keberadaan Supersemar menjadi salah satu peristiwa yang amat penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Sehingga setiap tanggal tersebut diperingati sebagai hari Supersemar.

Pada tahun 1966 yang sudah lampau, tepatnya tanggal 11 Maret, adanya penandatanganan sebuah surat yang berisikan penyerahan kekuasaan dari Presiden Soekarno terhadap Presiden Soeharto. Adanya mandat kekuasaan ini dilatarbelakangi dengan sebuah peristiwa naas yakni G30S PKI, tanggal 1 Oktober 1965 pada dini hari.

Kekuasaan merupakan salah satu hal yang tidak perlu dikejar bahkan dicari dengan penuh ketamakan. Sobat Cahaya Islam, hal ini diajarkan dalam Islam bahwa di antara manusia hendaknya tidak meminta kekuasaan. Adapun informasi lengkapnya yakni sebagai berikut.

Larangan Mengejar Kekuasaan dalam Perspektif Islam

Sebagai tempat persimpangan semata, kepuasan dunia hendaknya tidak menjadikan seorang muslim lupa akan kehidupan yang lebih kekal. Namun, tidak sedikit di antara mereka yang berlomba-lomba untuk menggapainya, salah satunya dengan mencari kekuasaan.

Larangan ini dijelaskan dalam beberapa hadits Rasulullah SAW, salah satunya yang berbunyi:

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ لاَ تَسْأَلِ الإِمَارَةَ ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا ، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kekuasaan karena sesungguhnya jika engkau diberi kekuasaan tanpa memintanya, engkau akan ditolong untuk menjalankannya. Namun, jika engkau diberi kekuasaan karena memintanya, engkau akan dibebani dalam menjalankan kekuasaan tersebut.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 7146 dan Muslim no. 1652)

Dalam hadits tersebut secara tegas Nabi SAW memberikan nasihat untuk tidak meminta kekuasaan, sebaliknya jika memang diberi kekuasaan dan situasinya tidak memungkinkan untuk menolak, maka Allah SWT pun akan melindunginya.

Namun, lain halnya jika seseorang hingga berbuat tamak untuk mendapatkan kekuasaan, maka hanya akan ada beban yang dipikul. Selain itu, hanya kesulitan-lah yang akan diterima.

Di dalam sebuah kitab Fathul Bari pada halaman 124 dijelaskan bahwa mereka yang begitu tamak dalam mencari kekuasaan tidak akan mendapatkan pertolongan Allah SWT.

Islam mengajarkan untuk senantiasa tawadhu, terutama perihal kepemimpinan/ kekuasaan. Ditambah lagi jika memang tidak memiliki kecakapan untuk melakukannya. Hal ini hanya akan mengantarkan seseorang terjerumus pada hal-hal yang bertentangan dengan agama.

Larangan mencari dan meminta kekuasaan ini berlaku untuk setiap manusia, terkecuali pada para Nabi yang memiliki kasus tertentu. Sebagai contoh, pada kisah Nabi Yusuf as. yang masih meminta kekuasaan. Hal ini termaktub dalam ayat suci Al-Qur’an yakni dalam surat Yusuf ayat 55.

Hal ini juga terjadi pada kisah Nabi Sulaiman yang meminta sebuah kerajaan. Permintaan ini terdapat pada firman Allah SWT dalam surat Shad ayat 35. Mengingat situasi pada zaman para Nabi dan masa kini amatlah berbeda. Maka dari itu, setiap umat muslim tidak diperkenankan untuk mencari-cari kekuasaan.

Demikianlah Sobat Cahaya Islam ulasan singkat terkait larangan untuk mencari atau pun mengejar sebuah kekuasaan. Semoga tidak berulang peristiwa Supersemar di tanah air tercinta. Hal ini bisa dilakukan dengan memilih pemimpin disertai batas waktu kepemimpinannya yang jelas.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY