Peran NU Menjaga Harmoni – Dalam konteks kehidupan berbangsa yang beragam suku, budaya, dan agama seperti Indonesia, menjaga harmoni antarumat beragama adalah tantangan sekaligus kebutuhan. Maka, di sinilah peran Nahdlatul Ulama (NU), sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, menjadi sangat penting dan relevan.
Sejak berdiri pada tahun 1926, NU telah berkomitmen tidak hanya dalam dakwah keislaman, tetapi juga dalam membangun kehidupan sosial yang damai, adil, dan harmonis di tengah kemajemukan bangsa.
Komitmen NU terhadap Islam Wasathiyah


Salah satu dasar yang menjadi fondasi sikap NU terhadap perbedaan agama adalah prinsip Islam wasathiyah (moderat), yang berusaha menyeimbangkan antara teks keagamaan dan realitas sosial. Islam yang NU ajarkan bukanlah Islam yang eksklusif dan keras. Tetapi Islam yang ramah, toleran, dan terbuka terhadap dialog. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Al-Hujurat:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (1)
Ayat ini menjadi dasar bahwa perbedaan, termasuk perbedaan agama, adalah bagian dari kehendak Allah dan kita harus menyikapinya dengan saling mengenal, bukan saling bermusuhan.
Dakwah yang Mempersatukan, Bukan Memecah Belah
NU semakin terkenal luas melalui para kiai dan pesantrennya yang menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan santun dan penuh kearifan lokal. Dalam berdakwah, NU tidak menggunakan pendekatan konfrontatif, melainkan dialogis dan partisipatif. Melalui forum-forum lintas agama, NU aktif membangun jembatan komunikasi dengan umat beragama lain demi terwujudnya kedamaian sosial.
Salah satu tokoh NU, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bahkan terkenal sebagai tokoh pluralis dan humanis yang menjadikan dialog antaragama sebagai bagian penting dalam politik kebangsaan. Gus Dur pernah mengatakan, “Tuhan tidak perlu dibela. Yang perlu dibela adalah hak-hak sesama manusia.” Ucapan ini mencerminkan sikap NU yang lebih mengedepankan kemanusiaan dalam bingkai agama.
Peran NU Menjaga Harmoni dengan Meredam Konflik
NU juga berperan nyata dalam meredam berbagai konflik horizontal yang pernah terjadi di Indonesia. Di daerah-daerah yang pernah mengalami gesekan antaragama, tokoh-tokoh NU sering terlibat langsung dalam proses rekonsiliasi dan pemulihan hubungan sosial. Misalnya, dalam konflik di Poso dan Ambon, banyak kiai NU yang terlibat sebagai mediator damai, bekerja sama dengan tokoh agama Kristen setempat.
Melalui organisasi seperti Lakpesdam NU, FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama), dan jaringan pesantren, NU terus mengedukasi masyarakat untuk hidup damai di tengah perbedaan. Bagi NU, menjaga keutuhan NKRI adalah bagian dari menjaga agama, sebagaimana tercermin dalam semboyan mereka: “Hubbul wathan minal iman” (Cinta tanah air adalah bagian dari iman).
Peran Nahdlatul Ulama dalam menjaga harmoni antar umat beragama bukan hanya penting, tetapi juga strategis. Dengan pendekatan Islam yang moderat, berlandaskan kearifan lokal, dan semangat persatuan, NU menjadi penjaga keutuhan sosial di tengah perbedaan. Di tengah tantangan globalisasi dan radikalisme, NU hadir sebagai pilar penting yang menyejukkan suasana, meneduhkan umat, dan merajut kebersamaan antar anak bangsa.
Referensi:
(1) QS. Al-Ḥujurāt: 13































