Nissa Sabyan Terlibat Isu Perselingkuhan, Bagaimana Hukum Perselingkuhan dalam Islam?

0
108

Nissa Sabyan – Sempat mengguncangkan media sosial dengan suaranya yang emas, kini Nissa Sabyan terlibat isu perselingkuhan. Hal ini menjadi pokok pembicaraan yang cukup meramaikan  berbagai media. Perselingkuhan menjadi salah satu penyakit yang hendaknya dilawan oleh para pembina rumah tangga.

Islam mengajarkan untuk senantiasa menjaga rumah tangga hidup rukun dan menggapai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Lalu, bagaimana hukum perselingkuhan dalam Islam? Sobat Cahaya Islam tentunya tahu betul, yang namanya selingkuh adalah bentuk pengkhianatan yang akan berakhir menyakiti.

Pengkhianatan yang dilakukan oleh mereka yang berselingkuh sama halnya dengan tidak amanah. Sebagai bukti betapa tidak setianya terhadap pasangan halal yang telah diberikan Allah SWT.

Bagaimana Hukum Perselingkuhan dalam Islam?

Dalam Islam, selingkuh dikenal dengan istilah al-khianah az-zaujiyyah. Hal ini biasanya terjadi bagi setiap orang yang memiliki kelemahan dalam menjaga kesehatan hati serta menjaga pandangan. Selingkuh bisa dikatakan sebagai suatu zina, karena berzina tidak melulu secara fisik melainkan bisa dengan hati maupun mata.

Perselingkuhan merupakan salah satu perbuatan yang akan mengantarkan seseorang pada zina. Hal ini tentu amat dibenci Allah SWT. Adapun beberapa dalil yang bisa dijadikan acuan dalam menentukan hukum perselingkuhan yakni sebagai berikut.

1.    Dalil dalam Al-Qur’an

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, selingkuh merupakah salah satu perbuatan yang akan menjurus pada perzinaan. Jika dikaji lebih mendalam tentunya sudah termasuk ke dalam perzinaan. Lalu, Sobat Cahaya Islam, sebagai muslim yang baik tentunya harus menghindari hal-hal yang dilarang dalam syariat Islam.

Firman Allah swt dalam Al-Quran surat Al-Isra ayat 32:

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (Qs. AlIsra: 32)”.

2.    Berdasarkan Hadits Rasulullah SAW

Selanjutnya mengacu pada hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim. Di dalamnya dijelaskan ketetapan yang merupakan bagian dari zina. Di antara batasan tersebut yakni zina mata dengan melihat, zina lisan yakni dengan ucapan, zina hati yakni adanya gejolak syahwat serta membayangkan. Selain itu, dijelaskan pula bahwa seorang perempuan hendaknya melakukan perjalanan dengan mahramnya.

“Nabi bersabda: “Seorang wanita tidak boleh melakukan safar kecuali bersama mahramnya, dan seorang laki-laki tidak boleh masuk menemui wanita kecuali kalau ada mahram yang menemani wanita itu”. Lalu salah seorang laki-laki berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya berkehendak keluar dalam tentara ini dan itu, sedangkan istriku berniat melakukan ibadah haji”. Maka Nabi bersabda: “Keluarlah engkau (berhaji) bersama istrimu!”. [HR. Bukhari, no. 1862; Muslim, no. 1341]”.

Pada dasarnya, perselingkuhan hanya akan memberikan dampak buruk bagi pelakunya. Selain menyakiti seseorang karena pengkhianatan, pelaku selingkuh pun akan menerima ragam akibat yang merugikan. Perbuatan selingkuh hanya akan membawa kehancuran baik dari segi sosial maupun kesehatan yang secara umum dapat mendatangkan stress.

Hal ini tentunya sebagai salah satu pengingat betapa berbahayanya perbuatan selingkuh. Selain merugikan diri sendiri juga menyakiti orang lain yang bisa saja memberikan umpatan atau pun sumpah karena sakit hati yang dialaminya.

Demikianlah ulasan singkat terkait hukum perselingkuhan dalam Islam. Semoga setiap muslim mampu untuk saling mengingatkan agar terhindar dari perbuatan yang keji ini. Selanjutnya, isu yang menimpa Nissa Sabyan semoga bisa dijadikan pelajaran dan hendaknya disikapi dengan penuh penyesalan.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY