Larangan Mudik Di Masa Pandemi : Hukum Mudik dalam Islam

0
62
Larangan Mudik

Larangan Mudik – Di masa pandemi ini pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan terkait larangan mudik. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi lonjakan drastis di bulan April – Mei mendatang.

Larangan ini menuai pro kontra di tengah masyarakat dikarenakan tidak selaras dengan realita penerapannya. Sehingga, akan membutuhkan waktu dan tenaga ekstra untuk memahamkan kepada masyarakat terkait sosialisasi larangan tersebut.

Sobat Cahaya Islam, bagi kaum muslimin seharusnya larangan mudik bukanlah sesuatu yang harus disesali. Terdapat pelajaran (ibrah) yang bisa diambil. Dengan adanya kebijakan tersebut, umat dapat menjaga diri serta keluarganya dari virus covid-19.

Jika mudik dibiarkan saja terjadi, maka akan bertambah beban para petugas kesehatan karena harus menerima lonjakan pasien. Tentu hal ini sangat disayangkan, bahkan terkategorikan sebagai aktivitas yang dzalim. Hari Raya seharusnya menjadi hari yang suci, namun jika diisi dengan kedzaliman akan menjadikan kesucian hari tersebut ternodai.

Apa larangan mudik menjadikan aktivitas silaturrahmi terhenti?

adanya kebijakan larangan mudik tidak akan menghilangkan esensi yang biasanya dilakukan, dalam hal ini menjalin silah ukhuwah dan silaturrahmi.

Kedua hal tersebut masih dapat dijalankan dengan memanfaatkan gawai. Bahkan, terdapat berbagai aplikasi untuk menjalin komunikasi tanpa harus bertatap muka. Hal ini akan membantu virus covid – 19 terhenti.

Di dalam Islam sendiri tidak ada kewajiban untuk menjalankan silaturrahmi hanya di masa mudik. Menjalin komunikasi kembali baik dengan keluarga maupun kolega dapat dilakukan kapanpun dan di hari apapun. Sehingga, seharusnya tidak ada permasalahan mendalam terkait larangan tersebut. Lantas, bagaimana umat muslim seharusnya menyikapi momen mudik di masa pandemi? Simak penjelasannya di bawah ini!

1.   Momen Muhasabah Diri

Bagi kaum muslimin, sudah seharusnya momen mudik yang tidak terpakai menjadi momen untuk melakukan perenungan. Muhasabah yang dilakukan akan menjadikan diri lebih baik lagi di masa depan dengan target yang lebih maksimal. Selain itu, diri akan menjadi lebih ikhlas manakala tidak jadi melakukan mudik.

Jadi daripada menyalahkan kebijakan pemerintah, alangkah lebih baik momen mudik digantikan dengan hal yang produktif. Hal ini pun sesuai dengan apa yang Allah sampaikan dalam firmanNya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

2.   Mengajarkan Kebaikan pada Keluarga

Selain momen perenungan, cobalah untuk menjadikan mudik untuk mengajari banyak kebaikan pada keluarga. Misal dengan mengaji, kajian online dan mempelajari hadits. Hal ini tentu akan lebih berguna karena bisa memahami Islam lebih dalam. Kebaikan yang diajarkan dapat menjadi pemberat amalan di bulan Ramadhan.

3.   Bercengkrama dengan Tetangga

Bagi kaum muslimin, baik dan bersikap lembut terhadap tetangga sangat dianjurkan, bahkan dihukumi Sunnah. Jadikan momen mudik sebagai ajang untuk dekat dengan tetangga. Hal ini dimaksudkan agar ketegangan dengan tetangga dapat diminimalisir. Salah satu hal yang bisa dilakukan yakni berbuka bersama atau membuat kue kering untuk hari raya.

Nah Sobat Cahaya Islam, itu tadi beberapa langkah yang bisa dilakukan ketika larangan mudik diberlakukan. Jadikan momen mudik sebagai waktu yang produktif dibandingkan menyesali hak yang bisa dilakukan. Allah SWT lebih menyenangi yang demikian dibandingkan menyia-nyiakan waktu alias tidak berlaku produktif.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY