Berbuat Baik Kepada Ibu (Kisah Abu Hurairah dan Islamnya Sang Ibunda)

0
1440

Siapa yang tidak tahu sahabat Rasulullah yang bernama Abu Hurairah? Abu Hurairah dikenal sebagai orang yang giat dan sangat dekat dengan Rasulullah. Banyak para ulama menggambarkan kedekatan sahabat Abu Hurairah RA bagaikan melekatnya perangko pada sebuah amplop. Abu Hurairah senantiasa berada disisi Rasulullah untuk menyegarkan rasa hausnya akan ilmu yang sepertinya tidak pernah habis.

Tentu saja mereka yang dekat dengan para utusan Allah bisa dikatakan sebagai orang-orang yang alim dan memiliki tingkat keimanan dan ketaqwaan yang tinggi kepada Allah. Disisi lain Allah berfirman dalam surat Hud 120, yang memerintahkan kita untuk mengambil peringatan dari kisah-kisah para Nabi untuk keteguhan hati. Tentu ayat ini memiliki pengertian yang luas dimana orang-orang yang dekat dengan para utusan Allah bisa dikatakan layak untuk di pelajari dan diambil hikmahnya.

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

 Tak jemu-jemu tim Cahayaislam mengingatkan kepada diri kami dan sobat Cahayaislam semua untuk melaksanakan birulwalidainiikhsanan (berbuat baik kepada orang tua). Dalam beberapa artikel kami yang sebelumnya, banyak pula kisah-kisah dan ulasan tentang tips berbakti kepada orang tua. Kali ini tim Cahayaislam berniyat untuk membawakan satu kisah dari salah satu Sahabat Rasulullah SAW yang namanya sering sekali terdengar dan tercantum dalam banyak riwayat Hadits Rasulullah tersebut. Simak kisahnya disini:

Kisah abu hurairah dan ibunya yang termaktub dalam Kitab kebaikan para sahabat

حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ يُونُسَ الْيَمَامِيُّ، حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ، عَنْ أَبِي كَثِيرٍ، يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنِي أَبُو هُرَيْرَةَ، قَالَ كُنْتُ أَدْعُو أُمِّي إِلَى الإِسْلاَمِ وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فَدَعَوْتُهَا يَوْمًا فَأَسْمَعَتْنِي فِي رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا أَكْرَهُ فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَأَنَا أَبْكِي قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أَدْعُو أُمِّي إِلَى الإِسْلاَمِ فَتَأْبَى عَلَىَّ فَدَعَوْتُهَا الْيَوْمَ فَأَسْمَعَتْنِي فِيكَ مَا أَكْرَهُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يَهْدِيَ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ اللَّهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ ‏”‏ ‏.‏ فَخَرَجْتُ مُسْتَبْشِرًا بِدَعْوَةِ نَبِيِّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا جِئْتُ فَصِرْتُ إِلَى الْبَابِ فَإِذَا هُوَ مُجَافٌ فَسَمِعَتْ أُمِّي خَشْفَ قَدَمَىَّ فَقَالَتْ مَكَانَكَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ ‏.‏ وَسَمِعْتُ خَضْخَضَةَ الْمَاءِ قَالَ – فَاغْتَسَلَتْ وَلَبِسَتْ دِرْعَهَا وَعَجِلَتْ عَنْ خِمَارِهَا فَفَتَحَتِ الْبَابَ ثُمَّ قَالَتْ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ – قَالَ – فَرَجَعْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَتَيْتُهُ وَأَنَا أَبْكِي مِنَ الْفَرَحِ – قَالَ – قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَبْشِرْ قَدِ اسْتَجَابَ اللَّهُ دَعْوَتَكَ وَهَدَى أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ ‏.‏ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ خَيْرًا – قَالَ – قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يُحَبِّبَنِي أَنَا وَأُمِّي إِلَى عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ وَيُحَبِّبَهُمْ إِلَيْنَا – قَالَ – فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ اللَّهُمَّ حَبِّبْ عُبَيْدَكَ هَذَا – يَعْنِي أَبَا هُرَيْرَةَ وَأُمَّهُ – إِلَى عِبَادِكَ الْمُؤْمِنِينَ وَحَبِّبْ إِلَيْهِمُ الْمُؤْمِنِينَ ‏”‏ ‏.‏ فَمَا خُلِقَ مُؤْمِنٌ يَسْمَعُ بِي وَلاَ يَرَانِي إِلاَّ أَحَبَّنِي

(H.R Muslim 2491)

Didalam Hadits yang panjang riwayat Muslim nomor hadits 2491 diatas diceritakan suatu kejadian yang dialami sahabat Abu Hurairah dalam beramar ma’ruf dan berdakwah kepada ibunya yang masih musyrik. Abu Hurairah adalah sahabat Rasulullah yang begitu menyayangi ibunya. Suatu ketika ia mengajak ibunya untuk masuk islam, namun ibunya menolak dan malah melontarkan perkataan yang tidak disukai Abu Hurairah darinya tentang Rasulullah.

Berjalan terhuyung dengan rasa pedih dan mata yang kabur karena air mata, Abu Hurairah menghadap kepada Rasulullah SAW. Apa yang dilakukan? Walau Abu Hurairah mendapatkan cacian atas Rasulullah dari ibunya yang menyayat hatinya, dia tidak marah kepada ibunya ia justru meminta Rasulullah mendoakan ibunya agar diberi petunjuk Allah SWT.

Dengan berlinang air mata, Abu Hurairah meminta Rasulullah untuk memintakan hidayah atas ibunya kepada Allah. Rasulullah berdoa (اللَّهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ) dan menenagkan hati sahabatnya tersebut.

Keajaiban Hidayah Allah pada ibu Abu Hurairah

Setelah hati Abu Hurairah tenang diapun kembali kerumah ibunya. Ternyata keajaiban terjadi dan Allah mengabulkan doa Rasulullah untuk menggerakkan hati ibu Abu Hurairah untuk menerima islam. Tambah berlinanglah air mata Abu Hurairah sambil berlari kembali menuju rumah Rasulullah untuk memanjatkan puja dan puji syukurnya kepada Allah dan kebaikan Rasulullah.

Apa yang bisa dipetik dari kisah tersebut?

Tentu kisah tersebut merupakan kisah baik yang harus kita ambil hikmahnya bahwa segala hal di dunia ini adalah mungkin bagi Allah. Dan lagi, Allah itu tidak buta dan Dia adalah dzat yang maha melihat segala sesuatu, dimana Allah tidak akan berpangku tangan melihat hambanya yang dengan ikhlas dan i’tikad baik untuk berbuat baik kepada orang tuanya. Allah pasti akan membantu dan memberikan jalan untuknya. Semoga kita menjadi orang-orang yang bisa selalu berbuat baik kepada orang tua kita. Amiin!

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!