Kepemimpinan Sultan Muhammad Al Fatih

0
892
Kepemimpinan Sultan Muhammad Al Fatih

Kepemimpinan Sultan Muhammad Al Fatih menjadi teladan karena di usia yang masih muda mampu menaklukan Konstantinopel di Romawi Timur. Sosoknya merupakan Khalifah Utsmaniyah yang telah memerintah hampir tiga puluh tahun dengan kemuliaan dan kebaikannya bagi kaum muslimin.

Mengenal Sosok Penakluk Konstantinopel

Sosok penguasa Utsmaniyah ketujuh, Mehmed II berkuasa antara tahun 1444 hingga 1446 dan 1451 hingga 1481. Banyak keberhasilan yang telah ia torehkan di masa kepemimpinan, salah satunya keberhasilan menaklukkan Konstantinopel di tahun 1453. Julukan Sang Penakluk tersemat pemimpin kelahiran 30 Maret 1432 di Edirne, Turki ini.

Silsilah keturunan Muhammad Al Fatih merupakan putra dari Sultan Murad II dan Huma Hatun. Mehmed II mendapatkan pendidikan yang baik di berbagai bidang, seperti ilmu agama, seni, hingga ilmu militer. Sultan Murad II, ayahnya, ingin Mehmed menjadi pemimpin yang kuat di wilayah Amasya agar mendapatkan bekal saat naik tahta kelak. 

Sang ayah mengirim guru untuk mendidik putranya, salah satunya yaitu Syaikh Muhammad Syamsuddin bin Hamzah. Muhammad II menerima kemuliaan menggantikan sang ayah yang telah wafat menjadi pemimpin di usia 22 tahun.  

Meneladani Kepemimpinan Sultan Muhammad Al Fatih

Sejak masih kecil, pemilik nama asli Muhammad Al Fatih ini sudah memiliki keunggulan dalam menyerap berbagai ilmu pengetahuan. Beliau memiliki kecenderungan mempelajari sejarah dan bahasa. 

Hal inilah yang menjadikan beliau sosok pemimpin memiliki keahlian pada urusan manajemen, administrasi negara hingga penugasaan medan dan strategi perang. Selain itu, beliau juga memiliki keunggulan akhlak terhadap syariat dibuktikan dengan sikap bijaksana, rela berkorban dan membela aqidah.

Berikut ini teladan kepemimpinan Sultan Muhammad Al Fatih:

1.Keteguhan Hati dan Keberanian

Sultan Al Fatih terjun ke medang perang melawan musuh dengan pedang miliknya. Dalam beberapangan di Balkan, tentara Utsmani berhadapan dengan tentara Bughanda yang bersembunyi di balik pohon rapat. Pasukannya melihat moncong meriam sudah mengarah ke pepohonan. 

Sang Sultan pun berteriak lantang memberikan semangat Islam yang membara. Sultan Al Fatih berada di barisan paling depan memegang tameng dan menghunuskan pedang tanpa menoleh. Tindakan ini memunculkan semangat jihad membara untuk para pasukannya.

2. Keikhlasan

Dalam banyak sikap kepemimpinan Sultan Muhammad Al Fatih menjadi teladan, salah satunya sikap keikhlasan. Akidah yang lurus terdapat dapat salah satu syair yang merujuk pada salah satu ayat:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” 1

Ayat ini menegaskan bahwa seorang mukmin harus bertakwa kepada Allah dan selalu berbuat baik. 

3. Disiplin dalam Menuntut Ilmu

Ringkasan cerita Muhammad Al Fatih salah satunya saat masih kecil dibiasakan orang tua untuk tunduk pada aturan gurunya. Syaikh Aaq Syamsudin menjadi guru yang mengajarkan Al Qur’an, Hadits, fiqih hingga ilmu modern. 

Kepemimpinan Sultan Muhammad Al Fatih

Dampak pendidikan yang ia terima sedari kecil tampak pada pandangannya terhadap politik, peradaban, hingga kemiliteran. Mehmed II menguasai tiga bahasa dengan baik, seperti Bahasa Arab, Persia, dan Turki.

4. Menjunjung Tinggi Keadilan

Kepemimpinan Sultan Muhammad Al Fatih yang harus jadi teladan selanjutnya yaitu sikap menjunjung tinggi keadilan.  Sultan telah mendapatkan ilmu dari Ahli Kitab yang sesuai dengan syariat Islam. Beliau tidak pernah berlaku jahat kepada seseorang bukan dari kalangan Nasrani. 

Bagi Mehmed II, keadilan merupakan pondasi dari kekuasaan. Pada masa kepemimpinannya tidak ada celah untuk mencela sebagaimana hadits berikut:

“Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan dari umatku, lalu ia membuat susah umatku, maka susahkanlah dia. Dan siapa saja yang mengurusi urusan dari umatku, lalu ia sayang pada umatku, maka sayangilah ia.” 2

Kepemimpinan Sultan Muhammad Al Fatih bisa menjadi teladan bagi para pemimpin yang amanah. Selalu menjaga perbuatan sesuai dengan syariah Islam menjadi landasan para pemimpin.


  1. (Al Maidah ayat 35) ↩︎
  2. (HR. Muslim, no. 1828) ↩︎

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY