Hukum Pemberian Gelar Haji dan Hajjah

0
71
Hukum Pemberian Gelar Haji

Hukum Pemberian Gelar Haji – Di Masyarakat Indonesia, umat muslim yang telah menunaikan ibadah haji mendapatkan gelar Haji (H) bagi laki-laki, dan Hajjah (Hj) bagi Perempuan. Masalahnya, meski sudah menjadi tradisi di Masyarakat Nusantara, ada Sebagian kelompok yang memandang pemberian gelar ini tidak boleh karena tidak ada dasar dalilnya.

Dalil Pemberian Gelar Haji untuk Orang yang Berhaji

Di zaman Rasulullah dan para sahabat, tidak ada gelar haji dan hajjah bagi mereka yang telah menunaikan rukun islam yang kelima tersebut. Menurut Syaikh Dr. Bakr Abu Zaid, pertama kali gelar haji beliau temukan dalam kitab Tarikh Ibnu Katsir saat pembahasan biografi ulama yang wafat pada tahun 680an.

Lalu, bagaimana hukumnya memberikan gelar haji untuk orang-orang yang telah berhaji? Dalam Al-Qur’an, Allah menyebut orang yang sedang berhaji dengan sebutan Haji. Perhatikan ayatnya di bawah ini:

اَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاۤجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ

“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus masjidil haram, kamu samakan dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan berjihad di jalan Allah?” (1)

Dalam ayat di atas, kata “Haji” merujuk pada kelompok orang yang sedang berhaji. Sementara itu, Masyarakat Indonesia menyandangkan gelar ini kepada umat Islam yang sudah menunaikan ibadah haji. Dalam hal ini, ada perbedaan pendapat dari para ulama.

Sebagian Ulama Melarang Gelar Haji

Karena belum pernah ada pada zaman Rasulullah, Sebagian ulama melarang adanya gelar ini. Mereka khawatir pemberian gelar tersebut dapat memicu riya’.

Lajnah Daimah dalam salah satu fatwanya mengatakan bahwa sebaiknya kita meninggalkan panggilan Haji ini. Pasalnya, melaksanakan ibadah tidak butuh pemberian gelar karena sudah mendapatkan pahala jika Allah menerima amalnya. Selain itu, umat muslim juga harus mengkondisikan jiwanya supaya tidak bergantung dengan gelar semacam ini. Dengan kata lain, niatnya harus Ikhlas lillahi ta’ala.

Selain itu, Imam al-Albani juga pernah memberikan keterangan serupa, di mana beliau melarang pemberian gelar Haji karena tidak pernah ada pada zaman Rasulullah.

Hukum Pemberian Gelar Haji Adalah Boleh Menurut Sebagian Ulama

Pendapat lain mengatakan bahwa boleh memberikan gelar Haji maupun Hajjah kepada mereka yang telah berhaji, terlepas dari hati jamaah hati masing-masing. Pasalnya, keikhlasan adalah alasan pribadi, berlaku untuk semua ibadah. Artinya, kita harus Ikhlas dalam beribadah apapun kondisisnya, meski banyak orang lain mengetahuinya.

Selain itu, pemberian gelar tertentu terkait ibadah tertentu bersifat urf (tradisi). Jadi, hal ini tergantung tradisi dalam Masyarakat setempat. Kadang, Masyarakat memberikan gelar untuk orang-orang yang pernah beruang atau memberikan manfaat besar bagi banyak orang. Sebagai contoh, orang yang sudah pernah berjihad mendapatkan gelar mujahid. Dahulu, orang yang ikut perang Badar mendapat gelar al-Badri. Meski perang badar telah usai bertahun-tahun, gelar tersebut tetap melekat pada mereka.

Terakhir, kita tahu bahwa tidak ada satu pun dalil yang melarang pemberian gelar semacam ini. Yang jelas, gelar Haji harus menjadi pengingat bagi siapapun yang pernah berhaji, bahwa ia telah menunaikan ibadah yang Istimewa yang tidak semua orang bisa menunaikannya. Sehingga perilakunya harus mencerminkan seorang ahli ibadah.


Referensi:

(1) Q.S. At-Taubah: 19

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY