Hukum Bekerja di Perusahaan Non Muslim, Apakah Halal?

0
39
Hukum bekerja di perusahaan non muslim

Hukum bekerja di perusahaan non muslim – Bekerja pada orang non muslim merupakan hal yang sering kita lihat di masyarakat Indonesia. Sobat Cahaya Islam pasti bertanya apakah hukum bekerja di perusahaan non muslim seperti itu?

Terlintas keraguan apakah penghasilan dari bekerja di perusahaan tersebut halal untuk digunakan? Jika masih memiliki keraguan, yuk simak penjelasannya lebih lanjut berikut ini.

Hukum Bekerja di Perusahaan Non Muslim, Apa Saja Syaratnya

Islam tidak pernah membatasi kaum Muslim untuk bekerja mencari nafkah dimanapun dan kepada siapapun, selama pekerjaannya berada di jalan yang halal. Selain halal, pekerjaan yang dijalani juga harus sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.

Ada beberapa dalil mengenai permasalahan ini, salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ka’b bin ‘Ujrah Radhiyallahu Anhu yang menerangkan tentang hukum bekerja pada kaum non muslim. Beliau berkata;

 Saya mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  pada suatu hari, dan saya melihat beliau pucat. Maka saya bertanya, ‘Ayah dan ibu saya adalah tebusanmu. Kenapa engkau pucat ?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidak ada makanan yang masuk ke perut saya sejak tiga hari.’ Maka saya pun pergi dan mendapati seorang Yahudi sedang memberi minum untanya. Lalu saya bekerja padanya, memberi minum unta dengan upah sebiji kurma untuk setiap ember. Sayapun mendapatkan beberapa biji kurma dan membawanya untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  . Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Dari mana ini wahai Ka’b?’ Lalu sayapun menceritakan kisahnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apakah kamu mencintaiku wahai Ka’b?’ Saya menjawab, ‘Ya, dan ayah saya adalah tebusanmu.’ “ (HR ath-Thabrani no. 7.157)

Dari riwayat tersebut di atas, bisa disimpulkan bahwa dalam Islam hukum bekerja pada orang non Muslim adalah halal, selama memenuhi beberapa syarat dan ketentuan .

Sobat Cahaya Islam, mari kita simak apa saja ketentuan yang membuat bekerja pada orang non muslim menjadi halal.

1. Usaha Yang Digeluti Tidak Melanggar Syari’at Islam

Hukum bekerja di perusahaan non muslim adalah halal jika jenis pekerjaan yang digeluti tidak termasuk ke dalam bidang yang diharamkan oleh Allah SWT. Hasil produksi dari perusahaan tersebut tidak melanggar syariat Islam.

Hukum bekerja di perusahaan non muslim

Jika bidang pekerjaan dan hasil produksi dari perusahaan tersebut melanggar syari’at Islam, maka walaupun perusahaan tersebut dimiliki oleh orang Islam, pekerjaan nya tetap haram.

Contohnya bekerja di perusahaan milik kaum Nasrani yang bergerak di bidang penjualan makanan. Selama perusahaan tidak menjual makanan dan minuman yang diharamkan dalam agama Islam, maka penghasilan yang didapatkan adalah halal.

2. Pekerjaan Yang Dilakukan Tidak Memiliki Dampak Negatif Terhadap Umat Islam

Dalam kitab Fath al Bari karya Ibnu Hajar, dijelaskan secara gamblang bahwa umat Islam diperbolehkan untuk bekerja pada kaum non Muslim jika memenuhi dua syarat.

Salah satunya yaitu pekerjaan yang dilakukan tidak membawa dampak buruk bagi umat dan agama Islam itu sendiri. Misalnya, pekerjaan yang pada intinya menyebarkan fitnah agar masyarakat membenci agama Islam, tentu saja pekerjaan ini haram.

Pekerjaan seperti ini jelas merugikan umat Islam karena dampak negatif dari pemikiran jelek tentang agama Islam akan berimbas pada para pemeluknya.

3. Hindari Pekerjaan Yang Akan Membawa Mudharat

Salah satu jenis pekerjaan yang dikhawatirkan akan merusak aqidah adalah bekerja sebagai ART atau menjadi ibu susu di sebuah keluarga non-muslim. Islam tidak memandang rendah pekerjaan tersebut.

Namun muncul kekhawatiran adanya tekanan dari majikan dan pembatasan waktu ibadah. Dikhawatirkan juga majikan akan menyuruh memasak makanan yang dinyatakan haram seperti daging babi dan sebagainya.

Hukum bekerja di perusahaan non muslim

Pada saat bekerja dengan orang non-Muslim, jangan sampai memakan daging yang hewannya disembelih oleh mereka. Allah memberikan ketetapan malalui surah Al –An’am ayat 121 yang berbunyi;

وَلَا تَأْكُلُوْا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللّٰهِ عَلَيْهِ وَاِنَّهٗ لَفِسْقٌۗ وَاِنَّ الشَّيٰطِيْنَ لَيُوْحُوْنَ اِلٰٓى اَوْلِيَاۤىِٕهِمْ لِيُجَادِلُوْكُمْ ۚوَاِنْ اَطَعْتُمُوْهُمْ اِنَّكُمْ لَمُشْرِكُوْنَ ࣖ

“Dan janganlah kamu memakan dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) tidak disebut nama Allah, perbuatan itu benar-benar suatu kefasikan. Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu. Dan jika kamu menuruti mereka, tentu kamu telah menjadi orang musyrik.” (QS. Al-An’am Ayat 121)

Masih seputar tekanan dalam pekerjaan saat bekerja dengan kaum non-Muslim, dikhawatirkan kaum muslimin bersedia melakukan hal-hal yang melanggar syari’at karena terpaksa sehingga merugikan diri sendiri.

Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits,

Tidak pantas bagi seorang Mukmin untuk menghinakan dirinya sendiri.([HR at-Tirmidzi no. 2254 dan Ibnu Mâjah no. 4.016,)

Melalui hadits ini Rasulullah mengajak kaum muslim untuk menjaga harga diri dan martabatnya dengan tidak membuka celah bagi kaum non muslim untuk melakukan pelecehan atau tekanan.

Sobat Cahaya Islam, hukum bekerja di perusahaan non muslim ternyata bergantung pada kondisi dan jenis pekerjaan yang dipilih. Pekerjaan akan jadi halal jika produk yang dihasilkan tidak merugikan dan tetap sesuai dengan syari’at agama Islam.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY