Cara Mengatasi Anak Tantrum dengan Pendekatan Parenting Islami

0
401
Cara Mengatasi Anak tantrum

Mengatasi Anak Tantrum – Sobat Cahaya Islam, tantrum anak – seperti menangis kencang, berteriak, atau melempar barang – adalah tantangan umum yang dihadapi orang tua, terutama di era modern yang penuh distraksi seperti gadget dan media sosial.

Parenting Islami menawarkan solusi untuk mengelola tantrum dengan pendekatan yang penuh kasih sayang dan berlandaskan syariat. Artikel ini mengupas cara mengatasi tantrum anak dengan kesabaran, mengambil inspirasi dari akhlak Nabi Ayyub AS, dalil Al-Qur’an, dan tips praktis berbasis psikologi anak. Yuk, simak panduan berikut untuk menjadi orang tua yang sabar dan bijak!

Cara Mengatasi Anak Tantrum dengan Memahami Kebutuhannya

Saat anak tantrum, emosi orang tua sering terpancing. Islam mengajarkan untuk menahan amarah. Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Bukan orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya saat marah” (1)

Selain itu, kita sebagai orang tua juga harus tahu apa yang sang buah hati butuhkan. Faktanya, tantrum sering terjadi karena anak lapar, lelah, atau ingin diperhatikan. Dalam Islam, memenuhi kebutuhan anak adalah bagian dari amanah. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (2)

Salah satunya dengan memeriksa apakah anak lapar, mengantuk, atau tidak nyaman. Misalnya, tawarkan makanan ringan atau ajak tidur siang (qailulah) sesuai sunnah. Selain itu, berikan perhatian dengan mendengarkan anak, seperti bertanya, “Apa yang kamu rasakan?” Contohnya, jika anak tantrum karena ingin bermain gadget, tawarkan aktivitas lain seperti membaca buku cerita Islami.

Gunakan Komunikasi Lembut dan Ajak Berdzikir

Rasulullah SAW selalu berbicara dengan lembut, bahkan kepada anak-anak. Beliau bersabda:

مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ كُلَّهُ

“Barang siapa yang tidak memiliki kelembutan, maka ia terhalang dari segala kebaikan” (3)

Dalam hal ini, gunakan kata-kata positif, seperti, “Ayo, kita cari mainan lain yang seru!” daripada “Jangan nangis!” Atau turunkan posisi tubuh ke level anak, tatap matanya, dan bicara dengan nada tenang. Bisa juga dengan menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW yang menyayangi anak-anak untuk menenangkan mereka.

Mengajarkan anak berdzikir juga membantu mereka mengelola emosi. Rasulullah SAW mengajarkan doa untuk ketenangan, seperti:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا

“Ya Allah, jadikanlah cahaya di hatiku dan cahaya di penglihatanku” (4)

Misalnya, coba ajak anak membaca dzikir sederhana, seperti “Subhanallah” atau “Astaghfirullah”, dengan nada menyenangkan. Bisa juga gunakan tasbih mainan untuk anak balita agar mereka tertarik. Contohnya saat anak marah, ajak berdzikir bersama sambil memeluknya untuk menenangkan emosi.

Berikan Teladan Sabar

Anak meniru perilaku orang tua. Nabi Ayyub AS menunjukkan kesabaran luar biasa, yang dapat menjadi inspirasi. Allah SWT berfirman:

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Dan ingatlah hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya, ‘Sesungguhnya aku telah ditimpa musibah, dan Engkau Maha Penyayang’” (5)

Sobat Cahaya Islam bisa tunjukkan sikap sabar di depan anak, seperti tetap tenang saat menghadapi kemacetan atau masalah kerja. Contoh lain adalah dengan menceritakan kisah Nabi Ayyub AS secara sederhana kepada anak untuk mengajarkan kesabaran. Lalu saat anak tantrum, katakan, “Kita sabar ya, seperti Nabi Ayyub yang selalu sabar.”

Sobat Cahaya Islam, mengatasi tantrum anak dengan kesabaran adalah seni parenting Islami yang menggabungkan kasih sayang, akhlak mulia, dan keteladanan Nabi Ayyub AS. Dengan tetap tenang, memahami kebutuhan anak, berkomunikasi lembut, mengajak berdzikir, dan memberi teladan sabar, Sobat dapat membimbing anak menuju akhlak mulia sambil meraih pahala. Yuk, wujudkan keluarga harmonis dengan pendekatan Islami!


Referensi:

(1) HR. Bukhari, no. 6114

(2) QS. At-Tahrim: 6

(3) HR. Muslim, no. 2592

(4) HR. Bukhari, no. 6316

(5) QS. Al-Anbiya: 83

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY