Bendera Merah Putih adalah Bendera Rasulullah? Cek Kebenarannya!

0
75

Bendera Merah Putih – Tahun 2020 telah berjalan separuh, menyisakan beberapa waktu lagi menjelang pergantian tahun. Perayaan hari ulang tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia tinggal menghitung hari. Bendera merah putih akan kembali dikibarkan. Lantas benarkah bendera merah putih adalah bendera milik Rasulullah?

Indonesia menyatakan diri sebagai negara yang merdeka tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 silam, setelah melalui masa kelam lebih dari 30 tahun sebagai negara jajahan, Indonesia bebas dan menyatakan diri sebagai negara yang merdeka.

Sang Saka Merah Putih merupakan bendera nasional Indonesia yang pertama kali dikibarkan 75 tahun silam pada Proklamasi Kemerdekaan Negara Indonesia di kediaman Ir.Soekarno. Eksistensinya sebagai bendera pusaka terus terjaga sampai saat ini.

Lahirnya negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, ada perjuangan panjang yang mewarnai proses ini. Perjuangan untuk meraih kemerdekaan ini tak terlepas dari peran para tokoh pahlawan dan juga ulama yang ada di tanah air.

 

Benarkah Bendera Merah Putih Milik Rasulullah SAW?

Islam masuk ke nusantara pada abad ke tujuh masehi, jauh sebelum kerajaan Majapahit berdiri. Sejak abad inilah, pernyataan mengenai bendera merah putih sebagai bendera milik Rasulullah SAW mulai terdengar. Para ulama meyakini bahwasanya merah-putih adalah warna milik Rasulullah, pernyataan ini berdasar pada sabda Rasulullah SAW yang ditulis oleh Imam Muslim dalam kitabnya yang berjudul Al-Fitan Jilid X pada halaman 340.

“Allah menunjukkan kepadaku (Muhammad) dunia ini. Allah menunjukkan pula padaku timur dan barat. Allah menganugerahkan kepadaku dua perbendaharaan: Merah Putih.”

Para ulama telah berusaha untuk mengenalkan bendera merah putih sebagai bendera Rasulullah sejak agama Islam pertama kali masuk ke Nusantara, yakni pada abad pertama tahun hijriah. Dalam upaya mengenalkan bendera merah putih sebagai milik Rasulullah, para ulama melakukan tiga pendekatan yang masing-masing bertujuan agar hal ini dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat.

Profesor Ahmad Mansur Suryanegara, dalam bukunya yang berjudul Api Sejarah menuliskan bagaimana pendekatan yang dilakukan para ulama untuk mengenalkan bendera merah putih kepada masyarakat, ada tiga cara yang dilakukan.

Pertama; pendekatan pertama yang dilakukan adalah dengan menggunakan istilah Sekapur Sirih dan Seulas Pinang dalam pembuka pembicaraan dan pengantar sebuah buku. Pemilihan istilah ini tentunya bukan tanpa alasan, kedua istilah ini memiliki simbol merah putih. Merah pada warna sekapur sirih, dan putih pada warna seulas pinang.

Kedua; pendekatan kedua yang dilakukan para ulama adalah melakukan perayaan penyambutan kelahiran seorang bayi dan tahun baru Islam dengan menyajikan bubur merah putih.

Ketiga; pendekatan yang terakhir adalah menggunakan bendera merah putih pada saat dilaksanakannya acara-acara sakral, seperti pada saat membangun rumah, pada susunan batu paling atas akan dikibarkan bendera merah putih. Begitu pula dengan hari-hari besar Islam, mimbar pada masjid raya atau masjid agung akan didominasi dengan warna merah putih.

Sejatinya perjuangan bangsa ini dalam meraih kemerdekaan memang tidaklah terlepas dari peran ulama dan tokoh-tokoh spiritual. Jika kita kaji lagi kebelakang, kita akan menemukan bagaimana spirit Islam yang anti akan penjajahan tertanam di dalam simbol-simbol Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa pejuang kemerdekaan bangsa ini tidak ingin terlepas dari akar perjuangannya.

Wallahu’alambishowab.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!