Sikat Gigi Saat Puasa? Begini Hukumnya

0
200
sikat gigi

Sikat Gigi – Banyak pertanyaan yang sering di lontarkan termasuk hukum mengenai sikat gigi saat sedang berpuasa. Terdapat beberapa pendapat dari para ulama’. Merupakan suatu hal yang wajar bila ada yang masoih membolehkan bahkan sampai mengharamkannya. Sebab, khazanah Islam memang luas melebihi intelektual manusia.

Sobat Cahaya Islam, sikat gigi sendiri merupakan aktivitas yang menunjang seseorang untuk tampil sempurna. Allah SWT sangat menyukai umatNya yang memperhatikan penampilan ketika menjalankan ibadah. Urgensitasnya bukan di sisi pakaian bermerk mahal, tapi usaha yang umat lakukan untuk menemui sang Khaliq dalam keadaan bersih dan rapi.

Bagaimana Hukum Sikat Gigi Saat Puasa?

Lalu bagaimana hukumnya jika terdapat umat muslim yang belum mengetahui hukum sikat gigi karena ketidaktahuannya? maka jawabannya yaitu di hukum boleh saja dengan syarat akan belajar. Namun, akan menjadi hal yang berbeda bila seseorang tersebut telah mengetahui hukumnya, namun bersikap acuh bahkan tak mendakwahkannnya kepada siapapun.

Hal tersebut tentu tidak menceminkan kepribadian seorang muslim yang di representasikan sebagai seseorang yang wara’ (penuh kehati-hatian) dalam beraktivitas.

Jika seorang muslim yang sudah mempelajari tsaqafah islam namun tak mengindahkannya sehingga mudah terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan maka semuanya akan sia-sia.

Kebolehan Sikat Gigi Saat Puasa

Berbicara terkait hal ini, tentu tidak akan terlepas dari penggalian hukum yang para ulama’ lakukan terdahulu. Salah sorang ulama’ terkenal sekaligus penulis kitab Tuhfatul Ahwadzi (3:488) menuturkan bahwa bersiwak atau sikat gigi boleh saja dengan merujuk pada hadits Rasulullah SAW yang di keluarkan oleh Kitab Shahih Bukhari sebagai berikut :

Adapun terdapat pendapat yang menyatakan bahwa terdapat kemakruhan pada aktivitas ini. Makruh sendiri sesuai definisinya tidak menyarankan untuk dilakukan karena dapat mendekatkan pada keharaman. Dengan kata lain, dapat menjadi faktor pembatal puasa. Hal ini berdasarkan pada zat siwak basah yang memiliki rasa. Konteksnya hal ini adalah pasta gigi.

Namun hal tersebut disanggah oleh Ibnu Sirin yang menyatakan bahwa air pun juga dapat berpotensi memiliki rasa – rasa, dan berkumur juga menggunakan air. Hal ini menandakan masih dibolehkannya untuk bersikat gigi.

Secara sederhana, bersiwak diperbolehkan asal hal – hal yang dikhawatirkan masuk ke mulut tidak sampai terjadi. Sedangkan hal terburuknya, jika pasta tersebut sampai tertelan pada saat sedang berpuasa, maka tidak ada perbedaan di kalangan ulama’ terkait batalnya puasa. Hal ini sesuai dengan penjelasan dari Al Faurani dalam kitabnya Al – Majmu’, 6:222.

Hanya saja, sebagai seorang muslim alangkah lebih baiknya jika dampak fatal dari bersikat gigi itu dapat menghindarinya. Artinya, bisa saja waktu sikat gigi pindah pada waktu sahur maupun setelah berbuka. Hal ini adalah sebuah mekanisme penjagaan dalam diri agar puasa dapat sempurna sampai waktu berbuka.

Nah Sobat Cahaya Islam, itulah penjelasan yang bisa kami rangkum dari beberapa ulama’ terkait hukum sikat gigi. Berdasarkan penjelasan para ulama’, alangkah lebih baiknya jika tidak melakukannya pada saat puasa. Coba sampaikan pada rekan kampus dan para kolega agar memahami kondisi umat muslim yang sedang menjalankan puasa. Insya Allah, mereka akan menerima dengan lapang dada.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY