Aku Sesuai Prasangka HambaKu, Apa Makna dari Hadits Qudsi Ini?

0
1681
Aku sesuai prasangka hambaKu

Aku sesuai prasangka hambaKu – Sobat Cahaya Islam, Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kepada umat Islam untuk senantiasa berbaik sangka.

Termasuk kepada Allah ‘Azza wa Jalla, seorang muslim juga semestinya selalu berprasangka baik. Hal sesuai dengan firman-Nya dalam sebuah hadits Qudsi, Aku sesuai prasangka hambaKu.

Sebenarnya lafazh hadits tersebut cukup panjang dan memiliki makna yang luas. Bagaimana sesungguhnya konsep berbaik sangka (husnuzhan) terhadap Allah Ta’ala dalam Islam?

Lafadz Lengkap Hadits Aku Sesuai Prasangka HambaKu

Secara lengkap hadits tentang berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah sebagai berikut, “Allah Ta’ala berfirman:

Aku sesuai prasangka hambaKu kepadaKu. Aku bersamanya jika dia mengingatKu. Jika dia mengingatKu saat sendirian, Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika dia mengingatKu dalam perkumpulan, Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka (perkumpulan malaikat).” 1

Bagaimana makna sebenarnya dari hadits qudsi tersebut? Seperti apakah konsep penerapannya dalam kehidupan? Yuk, simak selanjutnya.

Tiga Konsep Berbaik Sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla

Sobat Cahaya Islam, Terdapat tiga konsep dalam berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Ketiganya sesuai dengan sifat-sifatNya yang penuh kebaikan dan kemuliaan.

Aku sesuai prasangka hambaKu

Ketiga konsep baik sangka kepada Allah Ta’ala ini memiliki kedudukan yang sama-sama kuat dan penting bagi setiap muslim.

Memahami dan menerapkannya dalam kehidupan akan sangat membantu meningkatkan kualitas iman dan amal. Adapun rincian ketiga konsep baik sangka tersebut adalah:

1.     Allah Maha Pengampun kepada hamba-hambaNya

Ampunan Allah begitu luas bagi hambaNya. Dia mengampuni hamba-hambaNya yang meminta ampunan.

Dia menerima taubat orang-orang yang datang kepadaNya untuk bertaubat. Sebesar apa pun dosa tersebut, Allah pasti mengampuninya kecuali dosa syirik.

Karenanya tidak sepantasnya seseorang berputus asa dengan rahmatNya dan menjadikannya enggan bertaubat. Semestinya dia berbaik sangka dan yakin akan ampunanNya. Sebagaimana firmanNya,

“Wahai hamba-hambaKu yang melewati batas atas diri sendiri, janganlah engkau semua berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Sesungguhnya Dia Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 2

2.     Allah Maha Mengabulkan doa

Salah satu adab dalam berdoa adalah merasa yakin bahwa Allah Ta’ala akan mengabulkan doa tersebut. Hal ini berkaitan dengan salah satu sifatNya yakni Al-Mujib, Yang Mengabulkan.

Adapun bentuk husnuzhan dalam berdoa adalah dengan tetap menjalankan sebab-sebab pengabulan doa dan meninggalkan hal-hal yang menghalangi terkabulnya doa. Doa yang mustajab adalah doa yang disertai baik sangka kepada Allah.

Mengenai hal ini, Rasulullah saw bersabda,

“Berdoalah pada Allah dengan keyakinan akan pengabulannya dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” 3

Banyak juga tersebut dalam ayat-ayat Al-Qur’an bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mengabulkan doa-doa hambaNya. Di antaranya adalah ayat berikut,

“Dan jika hamba-hambaKu bertanya padamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa jika dia meminta kepadaKu. Maka hendaknya mereka memenuhi (segala perintahKu) dan hendaknya mereka beriman kepadaKu supaya mereka selalu berada dalam kebenaran.” 4

3.     Berbaik sangka dalam menyikapi musibah

Seringkali hadirnya musibah mendatangkan perasaan suuzhan (buruk sangka) kepada Allah Ta’ala. Manusia kerap bertanya-tanya apa sebabnya Allah menimpakan musibah dan berbagai kesulitan. Di saat-saat demikian, hendaknya seseorang senantiasa mengingat bahwa Allah adalah Maha Baik dan tidak pernah berbuat buruk kepada hamba-hambaNya.

Aku sesuai prasangka hambaKu

Sesungguhnya musibah mendatangkan banyak hikmah dan kebaikan. Hanya saja manusia seringkali tidak memahaminya. Karenanya ada baiknya bagi setiap muslim untuk menghayati makna ayat berikut ini,

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat jelek bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” QS Al-Baqarah: 216 5

Husnuzhan kepada Allah saat menghadapi musibah sangat membantu untuk mengatasi perasaan sedih dan terpuruk. Sebaliknya suuzhan kepada-Nya dapat menambah rasa sengsara yang bisa menyebabkan putus asa.

Demikian, Sobat Cahaya Islam, sedikit uraian tentang hadits Qudsi, Aku sesuai prasangka hambaKu. Jika berprasangka buruk kepada makhluk saja, Allah Ta’ala melarangnya, maka sudah semestinya setiap insan senantiasa mengedepankan baik sangka kepada-Nya. Allahu a’lam.


  1. HR Bukhari no 6970 dan Muslim no 2675 ↩︎
  2. QS. Az-Zumar: 53 ↩︎
  3. HR Tirmidzi no 3479 ↩︎
  4. QS Al-Baqarah: 186 ↩︎
  5. QS Al-Baqarah: 216 ↩︎

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY