Ghibah Lewat Status WhatsApp – Sobat Cahaya Islam, di era digital seperti sekarang, ghibah tak lagi hanya terjadi dalam obrolan langsung. Lewat jempol dan layar ponsel, seseorang bisa tergelincir dalam dosa ghibah – bahkan tanpa sadar. Salah satu bentuk ghibah yang kini marak terjadi adalah lewat status WhatsApp. Ya, sebuah kalimat sindiran, curahan hati, atau kode keras untuk orang tertentu, bisa menjadi bentuk ghibah yang nyata.
Apa Itu Ghibah?


Ghibah adalah membicarakan aib atau keburukan orang lain di belakangnya, meskipun hal tersebut benar adanya. Rasulullah ﷺ bersabda:
الْغِيبَةُ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ
“Ghibah adalah engkau menyebutkan sesuatu tentang saudaramu yang ia tidak suka.” (1)
Ketika seseorang mengunggah status yang menyindir seseorang dengan maksud mempermalukan, mengadukan, atau meluapkan kekesalan, lalu orang lain tahu siapa yang ia maksud, maka itu termasuk ghibah. Apalagi jika status itu memancing komentar dan memperluas aib yang seharusnya tertutup rapat-rapat.
Bahaya Ghibah Lewat Status WhatsApp
Ghibah di dunia nyata saja sudah sangat berat dosanya, apalagi jika di media digital. Sekali status itu terbaca oleh banyak orang, maka potensi menyebarnya ghibah pun semakin besar. Padahal Allah telah mengingatkan kita dengan tegas:
وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik kepadanya.” (2)
Status WhatsApp yang menyindir tanpa nama sekalipun bisa termasuk ghibah jika pembaca status tahu siapa yang termaksud dalam status tersebut. Bahkan, sindiran halus bisa lebih menyakitkan daripada ucapan langsung karena meninggalkan rasa penasaran dan memperkeruh suasana.
Cara Menghindari Ghibah di Status
Beberapa tips yang bisa sobat Cahaya Islam lakukan agar terhindar dari dosa ghibah antara lain:
- Tahan Jempol, Jaga Hati
Jika merasa kesal kepada seseorang, tahan keinginan untuk melampiaskannya di status. Lebih baik diam dan berdoa agar mendapat kesabaran. - Gunakan Status untuk Kebaikan
Jadikan status WhatsApp sebagai sarana menyebar kebaikan, ilmu, nasihat, dan motivasi. Bukan untuk menyindir atau melampiaskan emosi. - Ingat Hisab Media Sosial
Setiap kata, baik lisan maupun tulisan, akan dimintai pertanggungjawaban. Jangan remehkan tulisan status yang hanya beberapa detik diketik, tapi mungkin kekal dalam catatan amal buruk. - Selesaikan Masalah dengan Hikmah
Jika punya masalah dengan seseorang, selesaikan secara pribadi. Rasulullah ﷺ mengajarkan musyawarah dan menjaga aib, bukan menyebarkannya.
Hati-hati Menggunakan Lisan dan Jari
Sobat Cahaya Islam, jangan anggap enteng status WhatsApp. Di balik kalimat pendek bisa tersembunyi dosa besar jika digunakan untuk ghibah. Mari jadikan media sosial sebagai ladang pahala, bukan sarana menyebar dosa. Ingatlah bahwa setiap huruf yang kita ketik akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ﷻ.
Semoga Allah menjaga lisan dan jemari kita dari menyakiti sesama, serta menjadikan kita hamba yang bijak dalam setiap perbuatan. Aamiin.
Referensi:
(1) HR. Muslim no. 2589
(2) QS. Al-Ḥujurāt: 12






























