Wasiat dalam Pembagian Waris, Begini Hukumnya!

0
247
Wasiat-dalam-Pembagian-Waris

Wasiat dalam Pembagian Waris – Dalam kajian fiqih khususnya hukum warisan, wasiat termasuk hal penting selain pelunasan hutang. Pada dasarnya, hukum berwasiat adalah mubah  atau boleh, entah itu dengan barang yang sudah jelas (sudah ada) ataupun belum jelas (belum ada). Sayangnya, banyak umat Islam yang belum begitu paham tentang hukum wasiat. Padahal, Islam telah mengaturnya dengan sangat sederhana dan jelas.

Kebolehan Wasiat dan Batasan Jumlahnya

Dalam madzhab Syafi’i, Batasan jumlah wasiat adalah maksimal 1/3 dari harta pewaris. Jika melebihinya, maka wajib dengan persetujuan semua ahli waris. Ketentuan tentang hal ini ada dalam hadits Nabi berikut:

 أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَىْ مَالِي قَالَ ‏”‏ لاَ ‏”‏‏.‏ فَقُلْتُ بِالشَّطْرِ فَقَالَ ‏”‏ لاَ ‏”‏ ثُمَّ قَالَ ‏”‏ الثُّلُثُ وَالثُّلْثُ كَبِيرٌ ـ أَوْ كَثِيرٌ

Apakah aku (Sa’ad bin Abi Waqash) boleh mewasiatkan 2/3 dari hartaku? Rasulullah menjawab: Tidak. Aku bertanya: Bagaimana kalau ½ (separuh)? Beliau menjawab: Tidak. Tapi 1/3 (sepertiga), dan itu sudah banyak. (1)

Berdasarkan hadits inilah para ulama sepakat tentang kebolehan berwasiat dengan batas maksimal sepertiga dari keseluruhan harta milik pewaris. Larangan mewasiatkan melebihi 1/3 hartanya adalah karena ahli waris memiliki hak yang tergantung harta peninggalannya.

Antara Wasiat & Pembagian Warisan, Mana yang Harus Didahulukan?

Dalam agama Islam, wasiat harus didahulukan dari warisan. Dalam kitab Tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pembagian warisan adalah setelah pelunasan hutang serta penunaian wasiat. Sementara itu, penerima wasiat harus memenuhi beberapa kriteria yaitu beragama Islam, sudah baligh (dewasa), berakal sehat, meredeka (bukan budak), dan bisa dipercaya.

Selain wasiat, pembagian warisan juga sudah ada ketentuannya. Jadi, semua ahli waris harus mengetahui ketentuan-ketentuannya agar tidak timbul konflik dalam pembagian warisan. Pada intinya, urutannya adalah wasiat, baru kemudian pelunasan hutan, dan yang terakhir adalah pembagian warisan.

Bolehkah Berwasiat untuk Ahli Waris?

Wasiat adalah pesan dari pewaris untuk memberikan Sebagian harta peninggalannya kepada seseorang yang bukan ahli waris. Jadi, berwasiat untuk ahli waris pada dasarnya tidak boleh. Dalilnya adalah hadits Rasulullah di bawah ini:

‏ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ

“Sungguh Allah telah memberikan hak kepada tiap-tiap penerimanya. Maka tak ada wasiat bagi ahli waris.” (2)

Namun, jika semua ahli warisnya menghendaki atau menyetujui, maka hal itu tidak apa-apa. Pasalnya, Rasulullah juga mengatakan:

لَا تَجُوزُ وَصِيَّةٌ لِوَارِثٍ إِلَّا أَنْ يَشَاء الْوَرَثَة

“Wasiat tidak boleh untuk ahli waris, kecuali jika ahli waris lain menghendaki.” (3)

Jadi, seseorang boleh mewasiatkan Sebagian hartanya untuk anak yatim, saudara, atau bahkan wakaf. Namun, jika orang tersebut tidak memiliki banyak harta, maka mewasiatkan hartanya adalah makruh. Berkaitan dengan mewasiatkan hartanya untuk ahli waris tertentu, maka hukum asalnya adalah tidak boleh. Namun jika ahli waris lain menyetujuinya dan Ridha, maka wasiat tersebut boleh ditunaikan.


Referensi:

(1) Sahih al-Bukhari 1295

(2) Sunan Abi Dawud 2870

(3) Mishkat Al-Masabih 3074

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY