Tauhid Rububiyah adalah Landasan dalam Menetapkan Tauhid Uluhiyah

0
849
tauhid rububiyah adalah

Tauhid rububiyah adalah – Sobat Cahaya Islam, mempelajari tauhid adalah pondasi dalam beragama Islam. Seorang muslim mesti mengetahui dan menghayati makna tauhid dan menerapkannya dalam kehidupan. Tauhid terbagi menjadi tiga, yakni tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa sifat. Tauhid rububiyah adalah dasar dari tauhid uluhiyah.

Mempelajari aqidah tauhid memang sangat mendasar dalam Islam. Rasulullah saw dahulu fokus mengajarkan tauhid kepada umatnya selama 13 tahun periode Makkah. Demikian juga seluruh Nabi dan Rasul terdahulu, mereka adalah utusan Allah ‘Azza wa Jalla yang menyampaikan ajaran tauhid.

Firman Allah Ta’ala berkaitan dengan hal tersebut yakni,

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah taghut itu’.” 1

Makna Tauhid dan Pembagiannya

Aqidah tauhid adalah kunci makna hidup. Sesungguhnya manusia dan jin tercipta hanya untuk bertauhid kepada Allah semata.

Tauhid terbagi menjadi tiga, yakni rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa sifat. Adapun pengertian tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa sifat adalah sebagai berikut:

1.     Makna tauhid

Tauhid adalah keyakinan mengenai keesaan Allah ‘Azza wa Jalla dalam rububiyah, ikhlas dalam ibadah kepada-Nya, serta menetapkan keyakinan untuk-Nya nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

tauhid rububiyah adalah

2.     Makna tauhid rububiyah

Tauhid ini adalah mengesakan Allah ‘Azza wa Jalla dalam segala perbuatan-Nya, dengan keyakinan bahwa Dia sendiri yang menciptakan setiap makhluk. Di samping itu, Allah juga merupakan Pemberi Rizki, Penguasa Alam, Pengatur Semesta, Yang Menghidupkan dan Mematikan, serta tak ada sekutu bagi-Nya.

3.     Makna tauhid uluhiyah

Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah ‘Azza wa Jalla dengan perbuatan para hamba dengan niat taqarrub yang sesuai syariat. Contohnya adalah doa, kurban, nadzar, pengharapan, rasa takut, tawakkal, taubat.

4.     Makna tauhid asma’ wa sifat

Tauhid asma’ wa sifat adalah beriman dengan nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Keimanan ini sesuai dengan apa yang pantas bagi Allah Ta’ala tanpa ta’wil dan ta’thil (menafikan), tanpa takyif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya).

Tauhid Rububiyah adalah Bukti Wajibnya Tauhid Uluhiyah

Sobat Cahaya Islam, Allah ‘Azza wa Jalla sering membantah orang yang mengingkari tauhid uluhiyah dengan tauhid rububiyah yang mereka akui dan yakini. Allah memerintahkan manusia untuk bertauhid uluhiyah, yakni menyembah-Nya dan beribadah kepada-Nya. Dia menunjukkan dalil dengan tauhid rububiyah.

tauhid rububiyah adalah

Salah satunya adalah firman-Nya,

“Wahai manusia, sembahlah olehmu Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu supaya kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan yang menjadi rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu adakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.” 2

Seorang hamba tidak dipandang bertauhid hanya dengan pengakuan tauhid rububiyah saja, tetapi dia harus juga mengakui tauhid uluhiyah dan mengamalkannya. Sesungguhnya orang musyrik pun mengakui tauhid rububiyah tetapi hal itu tidak membuat mereka termasuk dalam kalangan umat Islam.

Mengenai pengakuan mereka ini, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka akan menjawab, ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”3

Sesungguhnya manusia sangat bergantung kepada Rabb yang menciptakan dan memeliharanya. Segala manfaat dan mudharat hanyalah bersumber pada Allah ‘Azza wa Jalla semata. Karenanya secara fitrah, manusia membutuhkan cara untuk mendekatkan diri kepada-Nya, mencari keridhaan-Nya, dan menguatkan hubungan dengan-Nya.

Secara akal, syara’, dan fitrah, semua ibadah memang hanya mungkin tertuju kepada Allah Ta’ala Yang Maha Sempurna secara mutlak dalam segala segi. Dia tidak memiliki cela atau kekurangan sebagaimana makhluk. Karenanya hanya Allah yang pantas untuk disembah, tempat memohon, tempat meminta pertolongan, tujuan penyembelihan kurban, dan semua ibadah lainnya.

Demikianlah, Sobat Cahaya Islam, penjelasan ringkas tentang tauhid. Pemahaman mengenai tauhid rububiyah adalah dasar bagi terwujudnya tauhid uluhiyah. Segala bentuk ibadah hendaknya hanya tertuju kepada Allah ‘Azza wa Jalla sebagai wujud tauhid yang bersih dan murni.


  1. (QS An-Nahl: 36) ↩︎
  2. (QS Al-Baqarah: 21-22) ↩︎
  3. (QS Az-Zukhruf: 9) ↩︎

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY