Sejarah sholat 5 waktu – Sholat merupakan rukun Islam yang paling penting dan wajib Sobat Cahaya Islam laksanakan. Sejarah sholat 5 waktu memiliki akar kuat dalam perkembangan Islam sejak masa Nabi Muhammad. Peristiwa besar ini ketika Nabi Muhammad masih tinggal ke Makkah sebelum berhijrah ke Madinah.
Sejarah Sholat 5 Waktu atau Dikenal dengan Isra’ Mi’raj
Perintah sholat 5 waktu pertama kali Allah turunkan kepada Nabi Muhammad pada peristiwa Isra’ Mi’raj, 27 Rajab masa kesepuluh kenabian. Isra artinya perjalanan Nabi Muhammad dari Mekkah menuju Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsa di Palestina.
Sedangkan Mi’raj merupakan perjalanan nabi diangkat ke langit ketujuh, tepatnya Sidratul Muntaha untuk bertemu Allah. Pada peristiwa naiknya Nabi Muhammad menuju langit ketujuh tersebut, beliau mendapatkan perintah sholat dari Allah. Peristiwa tersebut menandai perintah beribadah sholat sebanyak 50 kali dalam sehari.
Nabi Muhammad menerima perintah sholat tersebut bersamaan dengan turunnya Jibril dari Sidratul Muntaha. Nabi Muhammad kemudian ikut turun dan bertemu dengan Nabi Musa. Saat itu, Nabi Musa menyampaikan jika umatnya tidak sanggup mengerjakan sholat sebanyak 50 kali dalam sehari.
Nabi Musa menyuruh Nabi Muhammad kembali ke Allah demi meminta keringanan ibadah sholat. Kemudian, Nabi Muhammad diantar Jibril untuk bertemu dengan Allah untuk menyampaikan keinginannya. Sejarah sholat 5 waktu terdapat pada ayat Al Qur’an berikut ini:
“Maha suci Allah yang telah mengisra’kan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang kami berkahi sekelilingnya, untuk kami tunjukkan kepadanya tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan) Kami. Sesungguhnya (Allah) Maha Mendengar dan Melihat 1
Keringanan sholat dari 50 kali berkurang menjadi 10 kali dalam sehari. Namun, Nabi Musa meminta Nabi Muhammad untuk meminta keringanan lagi. Untuk ketiga kalinya Nabi Muhammad menghadap Allah hingga akhirnya perintah sholat.
Perintah sholat untuk umat Nabi Muhammad menjadi 5 kali dalam sehari, yaitu Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya’.
Makna Keringanan Perintah Sholat
Sejarah sholat 5 waktu tidak terlepas dari peristiwa Nabi Muhammad meminta keringanan kepada Allah. Namun, Nabi Musa tetap menyarankan agar meminta kembali keringanan seperti saran yang pertama kali. Hanya saja Nabi Muhammad malu untuk meminta kembali keringanan perintah sholat sebagaimana hadis berikut ini:
“Setelah aku melewati Musa, terdengarlah suara seruan : Telah Kusampaikan kewajiban (kalian) atasKu, dan Aku berikan keringanan untuk hamba-hambaKu“ 2
Ada pelajaran berharga yang bisa Sobat pelajari dari kisah perjalanan perintah sholat ini. Keteladanan Rasulullah dengan sikap lapang dada menerima masukan dari nabi Musa. Nabi Muhammad menjadi pendengar yang baik ketika berinteraksi. Selain itu, sejarah sholat 5 waktu juga mengajarkan bagaimana berkonsultasi kepada orang yang telah berpengalaman.
Hadist tersebut juga menjadi gambaran agungnya kedudukan sholat lima waktu di sisi Allah. Saat Allah mensyariatkan pada umat, Allah langsung memanggil RasulNya dan berbicara langsung untuk perintah sholat tanpa melalui perantara malaikat Jibril. Peristiwa perintah sholat ini terjadi pada malam hari.
Malam hari tersebut mengingatkan bahwa malam hari merupakan waktu yang tepat untuk bersholawat. Saat suasana sunyi dan tenang untuk mengingat keagungan Allah dan menangisi dosa-dosa yang telah dilakukan. Beribadah saat dalam keadaan sunyi sekaligus dapat mengungkapkan keutuhan penghambaan.
Selain itu, Nabi Muhammad juga mengajarkan kepada Sobat untuk merasa malu kepada Allah. Merasa malu saat bermuamalah dan mengingat kekurangan dalam menjalankan ibadah. Sobat juga harus merasa malu karena dosa-dosa yang masih banyak, sementara karunia Allah terus mengalir.
Sejarah sholat 5 waktu tidak hanya perjalanan perintah sholat untuk umat Nabi Muhammad. Namun, banyak makna dari peristiwa Isra’ Mi’raj yang bisa Sobat pelajari, seperti rasa malu dan agungnya perintah sholat.
































